
"Aku tidak pernah memaksamu, sayang. Jika kau merasa tertekan dengan semua ini, aku tidak akan melakukannya. Yakinlah, aku akan menerima apapun kekurangan dan kelebihanmu" jawab Devan dengan senyuman khasnya.
Vania tersenyum lega dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa bangga dan bahagia memiliki suami yang bisa mengerti keadaanya. Terlebih lagi ia bahagia karena dicintai oleh lelaki yang berhati malaikat seperti Devan.
"Sudah jangan sedih lagi. Sekarang masuklah istirahat" kata Devan menghapus air mata yang tergenang di mata Vania sebelum jatuh membasahi pipinya.
"Kamu nggak masuk?" tanya Vania.
"Aku akan langsung ke kantor, sayang. Siang ini ada rapat penting dengan klien. Ronald tidak mampu mengurus sendiri. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Vania tersenyum dan mengangguk pelan sambil mengedipkan matanya. "Iya, kamu hati-hati ya" jawab Vania.
Vania turun dari mobil setelah suaminya meninggalkan sebuah ciuman singkat di kening dan bibirnya. Ia melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam rumah.
*****
Vania telah menyelesaikan aktifitas rutinnya memasak. Ya, semenjak kembali pada suaminya, ia selalu menyempatkan diri memasak untuk Devan. Semua itu dilakukannya tanpa permintaan Devan. Alasannya karena ingin memperbaiki nafsu makan suaminya yang sempat buruk saat ia tinggal dan lagi karena Devan sangat menyukai masakannya.
Seusai memasak, Vania kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan berhias sebelum suaminya pulang. Ia ingin menyenangkan hati suaminya agar tak terlihat jemu saat pulang dari kerja.
Vania masih duduk di kursi mengamati wajah dan penampilannya di depan meja rias. Tak lupa senyum manisnya tersemat di bibirnya yang merah ranum. Rambutnya yang panjang dibiarkan jatuh tergerai di punggungnya. Sungguh bentuk ciptaan Tuhan yang begitu indah bagi lelaki yang memandangnya. Namun, yang ia lakukan semata-mata hanya untuk suaminya.
"Assalamualaikum"
Terdengar suara salam diikuti pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Vania untuk menoleh ke arah suara.
"Waalaikumsalam" jawab Vania berdiri dari duduknya. "Tumben cepet banget pulangnya, biasanya satu jam lagi" katanya lalu mengambil alih tas dan jas yang ada di tangan suaminya.
Devan tersenyum ke arah Vania tanpa menjawab perkataan istrinya.
"Kenapa kamu selalu terlihat cantik sih" goda Devan sambil meraih pinggang Vania dengan salah satu tangannya, sedang yang lainnya menyentuh dagu istrinya. Kali ini kedua manik mata lelaki itu fokus pada bibir istrinya yang begitu menggoda. Tanpa basa-basi ia mengecup singkat bibir Vania. Dan itu ia lakukan berulang kali hingga kecupan itu berubah menjadi lu*atan yang begitu menggairahkan. Bahkan lu*atan itu membuat nafas Devan semakin memburu hingga ia spontan menggerakkan tangannya hampir menyelinap di balik kemeja yang dikenakan oleh Vania. Namun dengan cepat Vania menghalangi tangan itu agar tak berbuat jauh.
Devan menghentikan ciumannya saat itu juga karena heran dengan penolakan istrinya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Devan meminta penjelasan.
"Mandi dulu, mas. Kamu baru sampai lho" jawab Vania mengingatkan.
Devan melipat bibirnya menahan tawa karena perlakuannya yang lepas kontrol setiap melihat istrinya. Ia lupa jika pakaian kerja masih melekat di tubuhnya.
"Maaf, aku lupa" jawabnya sambil terkekeh.
"Kebiasaan" gerutu Vania mencebikkan bibirnya membuat Devan semakin gemas pada tinggal istrinya setiap kali merasa kesal padanya.
"Baiklah, aku mandi dulu. Habis itu kita sarapan dan ke rumah Andre dan Nadya mengunjungi bayi mereka" kata Devan sambil melepaskan dasi yang masih melingkar di kerah kemejanya.
"Nadya sudah lahiran? cowok apa cewek?"tanya Vania antusias. Ia begitu bahagia mendengar kabar dari suaminya.
"Iya waktu kita melakukan perjalanan ke Bandung. Nanti kita ke rumah mereka. Aku juga belum tahu bayinya laki-laki atau perempuan" kata Devan.
"Tapi aku belum menyiapkan kado buat bayi mereka, mas"
"Tenang saja. Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari"
Devan mengangguk. "Hmmm...itu di lantai bawah" jawab Devan santai sambil melepaskan kemejanya.
Vania yang merasa penasaran langsung mengikuti arah petunjuk yang suaminya katakan. Langkah kakinya membawanya menuruni anak tangga untuk melihat hadiah yang sudah disiapkan oleh suaminya untuk sahabatnya.
Vania memperhatikan sebuah box berukuran sedang yang belum ditutup dengan kertas kado. Ada dua asisten rumah tangga yang nampak masih muda sedang duduk disana. Sepertinya mereka ditugaskan untuk membungkus kado itu.
"Tunggu, mbak" kata Vania meminta dua asisten itu untuk menghentikan aktivitasnya. "Jangan dibungkus dulu, aku mau lihat isinya" lanjutnya berjalan mendekat.
"Baik, Nona" jawab salah satu dari wanita itu.
Vania membuka box yang belum tertutup rapat itu. Didalamnya berisi sebuah botol kaca berwarna gelap yang tidak jelas isinya. Vania mengernyit heran dengan apa yang dilihatnya.
"Ini isinya apa, mbak? Dan yang beli siapa?" tanya Vania ke asistennya.
__ADS_1
"Kami tidak tahu, non. Yang kami tahu tuan sudah menyiapkan ini beberapa bulan yang lalu"
Vania diam sejenak setelah mengetahui isi dari kotak kado itu. Keningnya berkerut dalam karena tak tahu maksud dari tujuan suaminya.
"Ya sudah, lanjutkan lagi saja" ucap Vania ke asisten itu lalu beranjak berdiri dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
Sejumlah pertanyaan sudah menumpuk di kepalanya tentang maksud dari suaminya yang menurutnya tidak masuk akal. Cepat-cepat ia mencari keberadaan suaminya yang ia yakini sudah selesai mandi.
"Mas" panggilnya setelah pintu kamar dibuka.
"Hmmm" jawab Devan sambil memakai pakaian yang sudah istrinya siapkan sebelumnya.
"Maksudnya apa? Kenapa kamu memberikan kado seperti itu pada sahabatmu sendiri? Bukankah itu tidak keterlaluan?" tanyanya memberondong Devan dengan pertanyaan yang beruntun.
Devan membalikkan badannya menghadap Vania. Ia berjalan mendekat.
"Kau tidak buka isinya?" tanya Devan.
"Buat apa aku buka, dari kotaknya sudah jelas tertulis itu adalah nama merk makanan ringan. Kan malu-maluin, mas" jawab Vania kesal.
Devan melipat bibirnya untuk menahan tawa karena wajah Vania yang cemberut kesal. Merasa gemas dengan tingkah istrinya, ia mencubit hidung Vania tanpa bermaksud menyakitinya.
"Didalam box itu isinya bukan makanan, sayang" kata Devan.
"Terus?" tanya Vania diikuti keningnya yang berkerut dalam.
Devan mendekatkan bibirnya di telinga Vania. "Kunci mobil" ucapnya pelan setengah berbisik.
Vania terkesiap mendengar kata-kata suaminya.Ia tak menduga suaminya memberikan kado istimewa untuk sahabatnya.
"Dulu kami pernah saling taruhan. Siapa nanti yang lebih awal mempunyai momongan, dia akan mendapatkan mobil" kata Devan.
Wajah Vania berubah sedih seketika. "Maafkan aku, mas" katanya lirih.
__ADS_1
Devan seketika mendekap tubuh Vania dalam pelukannya. "Bukan salahmu, sayang. Kita hanya belum dipercaya Allah untuk menjaganya. Yakinlah tidak lama lagi kita akan mendapatkan kembali kepercayaan itu" ucapnya memberi motivasi dan semangat untuk istrinya agar tak lagi bersedih.