
Meja makan tak terasa sepi lagi setelah kedatangan orangtua dan saudara sekaligus asisten Devan beserta tunangannya.
"gimana Lea, cocok sama makanannya?' tanya bu Dewi di sela-sela makan.
"cocok sekali tante, tante yang masak sendiri? saya suka sekali" jawab Lia tersenyum
"iya tante masak sendiri, disini asisten rumah tangga hanya datang untuk membersihkan di pagi hari. Kalau untuk makan, Devan biasa makan diluar"
"masakan tante membuat saya jadi rindu Indonesia"
"kalau begitu nanti kalian tinggal di Indonesia saja setelah menikah, biar kita bisa kerja bareng terus.. iya nggak Nald?" kata Devan sambil menaikturunkan alisnya.
"saya sih ikut Lea saja boss, gimana maunya dia" jawab Ronald santai
"gimana Lea" tanya bu Dewi
"gimana enaknya saja tante, yang penting kita sama-sama nyaman" jawab Lea
"itu artinya kalian sama-sama oke....ya sudah setelah menikah nanti kalian bisa atur penerbangan dan perpindahan kalian ke Indonesia" jawab pak Satria sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"cocok itu...aku siap memberi hadiah honey moon buat kalian jalan-jalan ke Paris" sahut Devan
"beneran itu boss?" tanya Ronald bahagia
"mana pernah aku PHPin kamu" jawab Devan santai sambil menyuapkan sendok ke mulutnya
"makasih boss" ucap Ronald sumringah.
Mereka melanjutkan makan kembali. raut wajah kebahagiaan terpancar di setiap orang yang duduk disana.
Selesai makan mereka mengobrol di ruang tamu apartemen. Mereka mengobrol ringan sambil tertawa-tawa. Mulai dari urusan kerja sampai pesta pernikahan Ronald.
"memang apa konsep pernikahan kalian nanti?" tanya bu Dewi
"konsepnya outdoor saja tante, biar makin natural" jawab Lea dengan ramah
"tante kasih kado apa ya..." lanjut bu Dewi sambil memegang dagunya berpikir
__ADS_1
"ah tante nggak perlu repot-repot....apa saja kami terima" kata Ronald basa-basi.
Ronald menang tipe orang yang kocak.Namun ia mampu menempatkan diri kapan harus serius dan bercanda.
"itu sih mau kamu saja Nald" ledek Devan sambil menikmati kacang yang di atas meja.
"ya kan daya orangnya terima apa adanya boss, hehehe" jawab Ronald terkekeh kecil.
"ya sudah oom sama tante kasih tempat tinggal saja ya, kita akan memberikan salah satu apartemen di Jakarta sebagai kado pernikahan kalian" kata pak Satria
"wah...terimakasih banyak oom" ucap Ronald sumringah. Kebahagiaannya terasa lengkap. Pekerjaan yang menjanjikan, menikah dengan pujaan hatinya, honeymoon gratis di negara yang dikenal dengan keromantisannya, dan juga apartemen gratis untuk mereka tinggali.
"Yang penting ingat pesan tante, tetaplah jadi Ronald yang kami kenal dan jangan pernah sia-siakan istrimu nanti"
"siap tante" jawab Ronald sambil meletakkan tangan di pelipis seperti orang hormat. Semua orang di ruangan itu menjadi tertawa dengan tingkah konyol calon pengantin pria itu.
"baiklah tante, oom, boss....sudah larut malam sekali, saya harus mengantar Lea pulang. Oom dan tante juga pasti lelah dan butuh istirahat setelah perjalanan dari Jakarta" pamit Ronald
"iya, kamu hati-hati ya" jawab bu Dewi.
Semua orang di ruangan itu berdiri dan mengantar tamunya sampai pintu apartemen.
"sama-sama" jawab bu Dewi melonggarkan pelukannya
"kamu jaga kesehatan ya, pastikan untuk istirahat tepat waktu agar tetap fit di hari pernikahanmu nanti" imbuh bu Dewi memegang kedua lengan Lea. Lea menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum lembut.
Sepasang kekasih itu kemudian berjalan keluar pintu meninggalkan apartemen bossnya.
Devan menutup kembali pintu apartemennya setelah punggung kedua tamunya tak lagi terlihat.
"Devan, duduklah sini dulu" panggil ayah Devan sambil menepuk kursi di sampingnya saat melihat putranya berjalan dari pintu. Sedang bu Wati membersihkan bekas tempat camilan yang tadi disuguhkan untuk tamunya.
Devan mengikuti perintah ayahnya. Ia duduk di sebelah ayahnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"ayah mau tanya sesuatu sama kamu"
"ada apa yah?"
__ADS_1
"kamu serius sama Vania?"
"ya tentu serius lah yah. Kalau tidak, buat apa Devan tetap mempertahankan perasaan Devan ke Vania" kata Devan menatap serius ayahnya
"begini, ayah sudah meminta pak Firman untuk melakukan perjodohan antara kamu dan Vania"
"benarkah?" raut wajah Devan sumringah seketika.
"tunggu dulu.... hanya saja kita masih harus menunggu jawaban Vania karena oom Firman baru akan mengatakan itu padanya setelah Vania melewati kesedihannya"
"iya aku mengerti"
"dan sepertinya Vania juga belum tahu kalau kamu adalah putra kami"
"maksud ayah?"
"Vania belum mengenalmu sebagai putra kami, yang ia tahu hanya kami mempunyai seorang putra tapi tidak tahu entah siapa"
"terus apa yang akan ayah lakukan?"
"sepulang dari London nanti kita akan mengadakan pertemuan dan makan malam dengan keluarga oom Firman, disitulah ayah akan memperkenalkan kamu padanya"
"terserah ayah saja. Devan yakin apa yang ayah lakukan itu pasti yang terbaik"
"baiklah kalau begitu, nanti kita atur setelah acara disini selesai" kata pak Satria yang diangguki oleh putranya.
"yang penting kamu jangan pernah sia-siakan seorang perempuan, apalagi dia pilihan kamu" sahut bunda Dewi yang baru datang dari dapur.
."iya bund,, Devan janji" jawab Devan sepenuh hati.
"ya sudah kita mau istirahat dulu, besok kita harus menemui pihak pengurus pesta" kata bunda Dewi sambil berdiri memegang tangan suaminya
Devan mengangguk dikuti oleh ayah dan bundanya yang berjalan meninggalkannya menuju kamar untuk istirahat.
Devan masih termenung di sofa ruang tamu. Ia membayangkan wajah ayu Vania yang nantinya akan selalu ia lihat setelah menikah.
"ah, bisa gila aku kalau senyum-senyum sendiri karena memikirkan dia" gumam Devan tanpa henti tersenyum.
__ADS_1
Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju kamarnya untuk tidur.