Cinta Vania

Cinta Vania
Kita sedang diuji kembali


__ADS_3

"Sayang" panggil Devan ke istrinya yang sedang memasak di dapur bersama Bu Tini.


"Eh... iya, mas. Udah lapar ya?" tanya Vania diiringi wajah dan tubuhnya yang menoleh ke arah suaminya.


Devan menggelengkan kepalanya pelan, ada rasa tidak tega mengingat perkataan Ronald. Ia tak mungkin mengorbankan istrinya untuk hal gila.


Vania yang melihat suaminya hanya diam dengan tatapan sayu segera bergerak dari posisinya. Ia berjalan mendekati suaminya sesaat setelah selesai mencuci kedua tangannya dan mengeringkan dengan lap khusus.


"Kamu kenapa, mas?" tanya Vania mengusap lembut pipi suaminya dengan tangan kanannya.


Devan tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia menyentuh tangan Vania yang masih menempel di pipinya lalu mencium telapak tangan itu dengan wajah yang menunduk.


"Kamu kenapa, mas? Jangan membuatku bingung" tanya Vania mengulang pertanyaannya karena tak juga menemukan jawaban dari mulut suaminya.


Devan masih terus diam dengan wajah sedihnya. Bahkan kini ia terlalu takut menatap wajah istrinya.


"Kita ke kamar" ajak Vania menggandeng tangan suaminya untuk naik tangga menuju kamar.


"Kenapa kamu masih nggak mau ngomong, mas?" tanya Vania karena suaminya masih saja diam. "Bukankah kamu yang bilang kalau kita akan selalu terbuka dan jujur" lanjutnya mengingatkan.


"Aku... Aku nggak tahu harus mulai darimana" kata Devan ragu-ragu.


"Bicara yang jelas, mas. Jangan membuatku semakin penasaran" kata Vania.


Devan terpaksa menceritakan tentang apa yang Ronald sampaikan lewat telepon meski sebenarnya terlalu berat baginya untuk istrinya tahu semua itu.


"Aku akan mengikuti permainan Leo, mas" kata Vania mantap.


Devan terkejut dengan pernyataan istrinya. Raut wajahnya semakin cemas mendengar kata perkata yang Vania ucapkan.

__ADS_1


"Tidak, sayang. Aku nggak akan mengijinkan mu" tolak Devan. Ia tak ingin wanita yang dicintainya terlibat dalam situasi yang mencengangkan.


Vania memegang kedua tangan Devan, memberikan keyakinan dan kemantapan pada suaminya jika ia mampu melakukannya.


"Mas, selama beberapa tahun kemarin kita sanggup melewati ujian yang Allah berikan. Dan disaat kita kembali bersama dan bahagia, aku tidak ingin ada kerikil kecil yang menghalangi kita. Kita pasti bisa memenangkan semua ini" kata Vania meyakinkan suaminya.


"Tapi aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, yang. Aku nggak mungkin membiarkanmu dengan psykopat itu"


"Aku nggak akan kenapa-kenapa, mas. Bukankah kamu yang bilang, ia tak mungkin menyakitiku. Kau tak perlu khawatir. Aku bisa jaga diri dan kehormatanku"


Devan semakin gusar. Wajahnya memerah menahan marah mengingat kebusukan Leo. Ia tak ingin mengikuti permintaan istrinya. Tapi ia juga tak bisa menolak karena ini satu-satunya cara untuk menjebak Leo.


"Mas, dengarkan aku. Aku tahu betapa khawatirnya dirimu terhadapku. Tapi jika ini satu-satunya cara kenapa enggak? Demi kita bisa bersama, demi cinta kita, mas"


Devan menatap sayu kedua mata istrinya. Melihat keteguhan dan keyakinan istrinya, hatinya mulai luluh. Ya, ia ingin selalu hidup bersama dengan wanita yang dicintainya itu.


"Aku nggak tahu harus bagaimana lagi" kata Devan pasrah.


"Baiklah, sayang. Aku akan berusaha untuk menuruti semua kata-katamu" kata Devan pasrah.


"Ya sudah aku lanjut bantuin Bu Tini buat nyiapin makan malam dulu. Kamu buruan mandi lalu kita jamaah maghrib bareng" kata Vania.


"Baiklah".


*****


Malam harinya Devan mendapat telepon dari orang suruhannya yang bergabung dalam kelompok Leo. Ia memberikan informasi tentang rencana yang sudah Leo susun untuk menculik Vania.


"Dasar nyamuk kecil. Kau terlalu bodoh dan ceroboh. Kau pikir kau sudah hebat berani berurusan denganku" kata Devan berbicara sendiri mengatai Leo.

__ADS_1


Devan segera membicarakan rencananya besok dengan istrinya. Ia akan meletakkan GPS mini ke dalam sepatu istrinya yang tidak akan ia lepaskan. Ia sudah menyusun rencana matang-matang dengan Ronald sesaat sebelum mendapatkan informasi dari Ronald jika malam itu Ronald melakukan penerbangan kembali ke Jakarta dengan membawa beberapa bukti kejahatan Leo yang sudah melakukan penipuan dan penggelapan serta bisnis ilegal yang ia jalani saat ini"


"Besok kamu menyetir sendiri ya, sayang. Kamu pakai sepatu yang sudah aku siapkan. Ingat, jangan sekali-kali melepaskannya. Jika tidak aku nggak bisa melacak keberadaanmu. Karena orang ku tidak terlibat dengan penculikan besok. Aku dan Ronald akan diam-diam memantau pergerakan mereka".


"Kamu nggak usah khawatir, mas. Aku pasti bisa" kata Vania dengan senyum lembutnya.


"Aku percaya padamu, sayang" kata Devan mencium singkat kening istrinya. "Sekarang istirahatlah, karena esok kita harus melakukan banyak hal yang akan menguras tenaga" lanjutnya.


*******


Pagi harinya, Ronald yang sudah sampai Jakarta sejak subuh segera menjalankan rencana awal dimana ia akan menyusun dan menghubungi polisi untuk membantu pekerjaannya. Tidak terlalu sulit baginya untuk melibatkan para polisi mengingat nama SA Group selalu ia bawa.


Sesuai rencana Devan menyuruh para pengawalnya untuk tidak perlu datang ke tempatnya. Ia berpura-pura berangkat ke kantor setelah melihat sebuah mobil hitam dengan beberapa orang di dalamnya yang tak begitu jauh dari rumahnya. Devan segera menghampiri Ronald yang berada tak jauh dari perumahannya.


"Gimana, sudah kau siapkan motornya?" tanya Devan ke Ronald. Ia membutuhkan sebuah motor untuknya bertindak cepat.


"Sudah, boss. Itu dia" kata Ronald menunjuk ke seorang pengendara motor sport yang mendekat


"Bagus. Aku akan meminta istriku untuk keluar" kata Devan yang kemudian menghubungi Vania memintanya untuk segera keluar rumah.


Devan mengunci kembali layar ponselnya dan memasukkannya kedalam saku.


"Baiklah, dengan begini kita bisa menemukan persembunyian ba*ingan itu"


"Anda yakin tidak butuh para pengawal lain untuk membantu kita?" tanya Ronald


"Tidak perlu, Keberadaan mereka hanya akan membuat situasi semakin runyam. Ini kejahatan tersembunyi yang ia lakukan. Meski ia orang yang ceroboh, aku yakin baj*ngan itu tidak akan membawa banyak anak buah karena itu bisa membuatnya dalam masalah.


Dan benar saja, setengah jam kemudian posisi GPS Vania sudah keluar dari jalur menuju rumah utama. Itu artinya para orang suruhan Leo sudah berhasil menculik Vania.

__ADS_1


Ronald segera menghubungi polisi dan meminta mereka untuk mengikuti rencana yang sudah tersusun.


__ADS_2