Cinta Vania

Cinta Vania
Jangan sampai terulang lagi


__ADS_3

"Nona..." panggil Ronald menatap tajam wanita di depannya. Sementara yang punya nama hanya diam menunduk. Ia mer*mas kedua tangannya yang bersembunyi di bawah meja. Rasa gugup bercampur jengkel menguasai dirinya saat melihat raut wajah Ronald yang nampak tak bersahabat.


Takut? iya... tapi bukan karena takut di interogasi oleh Ronald. Dia hanya takut jika lelaki itu melapor pada bossnya tentang keberadaannya di SA Group.


"bisakah panggil dengan nama saja seperti pegawai lain" kata Vania ketus sambil mengangkat kepalanya.


"maaf nona, saya tidak bisa"


"kenapa?"


"saya tidak bisa melakukannya. saya tidak tahu jelas bagaimana hubungan anda dengan tuan muda Devan. Tapi yang saya dengar, anda adalah orang spesial bagi tuan muda"


"anda terlalu melebihkan pak Ronald, kami hanya berteman"


"tidak nona, ini memang yang seharusnya saya lakukan. Maaf jika saya terlalu ikut campur urusan pribadi anda"


"saya merasa aneh berbicara masalah pribadi dengan bahasa resmi" kata Vania menahan senyumnya.


"baiklah, anggap saja saya teman anda. tapi maaf saya tetap dengan bahasa seperti ini. bisakah anda jelaskan semuanya?" imbuhnya


"baiklah, Seperti yang kau lihat, aku bekerja sebagai asisten pak Linggar" jawab Vania


"Nona, saya ingat betul terakhir kali anda kemari. Saya tidak ingin kejadian tempo hari terulang lagi, pekerjaan tuan muda kacau hingga ia jatuh sakit"


"maksudmu?"


" Setelah kejadian beberapa tahun lalu di kantor ini, semua pekerjaan terbengkalai. Akibatnya tuan muda jatuh sakit"


"benarkah?" tanya Vania tidak percaya.


Ronald mengangguk. "jujur awalnya saya merasa marah dan ingin membuat perhitungan dengan anda. Tapi saya urungkan setelah tahu siapa anda. Saya menjaga tuan Muda sudah seperti adik saya sendiri. Saya mohon hal seperti kemarin jangan sampai terulang lagi" kata Ronald menekankan kalimatnya.


"maaf, kemarin hanya salah faham saja" kata Vania


"baiklah... mungkin saya tidak tahu betul permasalahan kalian. tapi boleh saya tanya sesuatu?"

__ADS_1


Vania mengangguk


"apa tuan muda tahu jika anda bekerja disini?"


Vania menggelengkan kepalanya pelan, "akan lebih baik jika dia tidak tahu" jawabnya dengan nada mulai melemah.


"kenapa?"


"aku hanya ingin bekerja dengan tenang disini, biarkan aku tetap menyembunyikan identitasku sebagai pegawai disini"


"baiklah jika itu yang anda mau. Saya tidak akan menyinggung tentang keberadaan anda disini"


"baiklah jika tidak ada lagi, biarkan aku kembali bekerja" pamit Vania yang diangguki Ronald


Vania keluar dari ruangan Ronald dengan perasaan lega.


"syukurlah, lega rasanya... entah dapat keberanian darimana gue bisa berbicara ketus sama atasanku yang sudah seperti polisi itu" gerutu Vania sambil mengelus dadanya. Ia berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya.


Jam istirahat tiba, Siang ini Maya tak bisa menemani Vania untuk makan siang di kantin karena sedang puasa.


"tumben sendirian" kata seorang lelaki yang baru saja datang.


"eh kamu Vid, iya mbak Maya lagi puasa"


"Oo" kata David membulatkan bibirnya.


David, dia adalah pegawai pria yang ditempatkan di divisi humas perusahaan. David merupakan adik sepupu dari Maya. Usia David hanya selisih setahun lebih muda dari Maya. Ia memiliki wajah dan penampilan yang cukup cool bagi para kaum hawa jaman sekarang.


Vania dan David sering menghabiskan istirahat bersama akhir-akhir ini karena ajakan Maya. Tak heran mereka terlihat cukup dekat. Bahkan Mereka sering berbagi pesan waktu di jam kerja.


"pulang kantor mau langsung pulang?" tanya David


"iya, aku harus nemenin kakak iparku yang nginap di rumah"


" ya... sayang... Padahal aku mau ngajakin jalan" kata David kecewa

__ADS_1


"kapan-kapan aja deh ya" kata Vania dengan senyum manisnya menoleh ke pria di sampingnya.


"wajahmu jangan gitu Van, nanti aku jatuh cinta lho" kata David menggoda


"jangan ih, aku takut nanti fans gilamu pada ngamuk ke aku" kata Vania menahan tawanya.


"ah kamu mah gitu" jawab Davin manyun.


David merupakan idola para pegawai wanita disana. Meskipun dia tak setampan presiden direktur, tapi wajah tampan David cukup membuat para wanita tergila-gila.


"udah ah aku mau sholat dulu terus balik ke atas, kasihan mbak Maya sendirian yang udah duluan naik" kata Vania berdiri dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban


*****


Hari-hari dilewati Vania seperti biasa. Bekerja di pagi hari dan pulang di sore hari. Tak ada yang berbeda dengannya. Hanya kedekatannya dengan David semakin nampak akrab saja sehingga menimbulkan kecemburuan para pegawai wanita lain yang mengagumi pria itu. Sedang Devan, lelaki itu sama sekali tidak pernah menghubungi Vania.


Vania semakin gusar dengan perasaannya ke Devan. Ada rasa penasaran akan sikap pria itu. Dan dia juga merasa takut akan adanya wanita lain yang sudah mengisi hati pria yang kini memenuhi otaknya.


Pagi itu Vania berangkat ke kantor. Seperti biasa ia segera menyelesaikan beberapa tugas menumpuk dari pak Linggar. Terlebih lagi hari ini Maya ijin tidak masuk karena sakit.


Lelah dirasakan gadis itu karena harus mengurus dua tugas sekaligus meski waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang. Sebagai asistem manager yang merangkap sebagai sekretaris dalam sehari benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Ia harus bolak-balik dari ruangannya ke ruangan pak Linggar sambil menyusun jadwal dan beberapa berkas penting.


Hingga tiba waktunya istirahat, Vania belum. juga selesai dengan pekerjaannya.


Pak Linggar yang melihat kinerja asistennya itu merasa kasihan. Ia menghampiri Vania yang masih sibuk dengan komputernya.


"Sudah makan siang saja dulu, nanti habis istirahat bisa lanjut lagi. keburu habis waktunya lho" kata pak Linggar yang berdiri di depan meja asistennya.


"dikit lagi pak" jawab Vania sambil terus menatap layar komputer tanpa menoleh ke pria yang ada di depannya.


"ya sudah, tapi jangan terlalu lama, sayang kalau nggak kebagian jam makan siang" kata pak Linggar yang kemudian meninggalkan Vania sendiri.


Ya, pak Linggar memang cukup perhatian pada Vania. Lebih tepatnya pada seluruh bawahannya. Dia orang yang baik. Namun terkadang cara bicaranya sedikit genit. Tapi itulah pak Linggar, pria itu suka bercanda.


Vania pun mematikan komputernya dan bersiap untuk turun makan siang di kantin.

__ADS_1


__ADS_2