Cinta Vania

Cinta Vania
episode 13 Restu Oma


__ADS_3

"mau apa lagi sih dia" gumam Devan saat melihat Sita berlari mendekatinya


"aku ikut bareng ya" kata sita dengan nafas yang tersengal-sengal saat sampai didekat mobil Devan


"sorry Ta, aku lagi buru-buru.. lain kali aja ya" jawab Devan mencoba menghindar san segera masuk mobil yang dia kendarai.


Dengan cepat Devan menancap gas dan melajukan mobilnya. Dilihatnya dari kaca spion Sita masih diam ditempat dengan menahan marah.


"aman...gue aman...." Devan berbicara sendiri di mobilnya.


Sesampainya di depan pagar rumah nenek, ia memarkirkan kendaraannya dengan rapi di garasi. Ia memasuki rumah dan mencari keberadaan neneknya.


"Oma... oma.... Devan pulang Oma.." katanya sedikit berteriak karena tidak menemukan neneknya.


"permisi Den Devan, nyonya lagi memberi makan ikan di kolam belakang" kata salah satu pelayan dirumah itu.


"oo ya sudah bi', saya mau langsung ke kamar aja kalau gitu".


Devan kemudian berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar tanpa menutupnya kembali dan meletakkan tasnya di sembarang tempat. Ia juga melempar tubuhnya di ranjang besarnya. Seketika ia mengingat sesuatu. Diambilnya benda pipih di saku celananya untuk menghubungi seseorang.


tuuuttt....tuuuutttt....tuuutttt


"ya halo bro" jawab seseorang dari sebrang telepon


"l*u masih hutang penjelasan sama gue"


"hahaha....santai dong bro...."


"trus kenapa tadi lu nggak jawab panggilan gue, lu sengaja kan*?"


"*Sorry bro...tadi gue lagi ama Vania"


"apa?? jangan bilang lu sekarang jadi pagar makan tanaman*" marah Devan karena kaget dan bangun untuk duduk diujung ranjang membelakangi pintu.


"*kikikikikkkkk.....jangan bawa-bawa perasaan dulu bro... gue bukan tipe teman makan teman"


"gue nggak mau tau pokoknya lu jelasin sekarang juga*"

__ADS_1


Andre kemudian menceritakan kejadian tadi siang tanpa terlewat satupun berita. Devan mendengarkannya dengan tenang dan serius.


"*jadi Vania satu sekolah sama lu?"


"yupp...betul"


"hah....andai gue bisa sekolah disana juga.. oke deh bro, makasih banyak buat semuanya, weekend ini gue bakal main ke tempat lu*" kata Devan lalu mematikan panggilannya.


"coba gue bisa jagain Vania" Devan mulai berbicara sendiri lalu terdiam sejenak.


"aaarrggghhhhhhh" teriak Devan mengacak-acak rambutnya.


Tanpa Devan sadari oma sudah berdiri di dekat pintu kamar Devan dan mendengar kekhawatiran Devan saat melakukan panggilan dengan Andre.


"sayang.." panggil oma pelan. Devan spontan menoleh kearah pintu


"*oma sejak kapan disana"


"sejak kamu menghubungi temanmu*" kata oma menghampiri Devan dan duduk disampingnya sambil mengusap lengannya. "kamu suka sama gadis itu, siapa tadi namanya?" lanjut oma bertanya


"Vania, oma"


"*tapi oma....."


"oma tidak suka dibantah sayang... jangan terlalu berlebihan. oma bisa jaga diri dengan baik. lagipula disini oma tidak tinggal sendiri. banyak para ART yang menemani oma disini*" kata oma memotong ucapan Devan


"tapi bagaimana dengan ayah dan bunda"


"hahaha....orang tuamu saja yang berlebihan, mungkin dikiranya oma ini anak kecil yang harus kau temani" lanjut oma tertawa "ya sudah besok kamu urus saja surat perpindahanmu di sekolah untuk dikirim terlebih dahulu ke sekolah barumu nanti, biar pak Tio (asisten pribadi oma) yang akan membantumu"


"makasih oma....oma memang yang terbaik" puji Devan sambil memeluk omanya.


"sudah...sudah... oma nggak bisa nafas ini kejepit badanmu, oma capek mau istirahat dulu dikamar, kamu cepat ganti seragammu" kata oma memukul pelan lengan Devan sambil tersenyum. Devan melepaskan pelukannya dan tersenyum.


Oma berjalan meninggalkan Devan dikamarnya. Selepas perginya oma, Devan membuka laci nakas di samping tempat tidurnya. Diambilnya foto Vania yang ia simpan disana.Senyum Devan mengembang seketika. Ia mengusap lembut wajah difoto itu dan mulai mengajak bicara


"heii.... kamu, bidadari manisku. kamu sedang apa..... aku benar-benar merindukanmu. tahukah kamu? meski raga kita jauh, tak pernah sedikitpun aku melupakan wajah dan senyumanmu. Aku selalu ingin tahu kabar darimu meski hanya lewat Andre. Dan sekarang, lihatlah....aku sudah mulai gila hanya bisa bicara dengan fotomu"

__ADS_1


----------------------------------------


Aku sedang menghabiskan waktu soreku dengan duduk membaca novel kesayanganku di taman belakang rumah. Samar-samar ku dengar suara mama sedang berbicara dengan seorang perempuan di ruang keluarga. Karena semakin penasaran, aku menutup buku novelku dan berjalan menemui mama. Kulihat wajah yang tak begitu asing sedang duduk di sofa keluarga bersama mama dan kak Adit. Dia adalah Rena, gadis yang telah dipacari oleh kakakku selama setahun belakangan ini.


"tuh udah ada Vania juga, tante tinggal ke belakang dulu ya" kata mama lembut ke kak Rena


Aku berjalan mendekat untuk menyapannya "hai kak Rena, kapan datengnya?"


Kak Rena lalu berdiri dan mendekat padaku. "hai Vania, baru aja kok". Dia tersenyum dan memeluk serta cipika cipiki padaku. Hal biasa yang ia lakukan setiap bertemu denganku.


"kamu lagi baca apaan?"


"ini baca novel kak" jawabku tersenyum


"dia itu penggila novel yang, kalo nggak ada kegiatan, suka ngehabisin waktu baca novel sampe ngantuk-ngantuk... maklum lah yank, JOMBLO, nggak ada cowok yang berani nembak cewek galak kaya dia" kata kak Adit mengejekku dengan penuh penekanan sambil tertawa.


Aku memanyunkan bibirku mwndengar ejekannya. Ini bukan kali pertama kak Adit menjahiliku. Dia sering menggodaku dengan kata-kata jomblo. Aku memang terkesan cewek yang galak dan cerewet saat bercanda dengan keluarga di rumah. Tapi tidak dengan di sekolah, aku lebih dikenal cewek pendiam dan jarang bicara. Hanya sesekali aku terlihat sedikit cerewet sama bersama dengan Nadya dan Sherin


"kamu jangan gitu lah yang .. adikmu kan cantik, pasti banyak yang suka diluaran sana" sela kak Rena mmbelaku


"tuh kak, dengerin kak Rena ngomong. adikmu ini banyak yang suka, cuma dia inget aja sama pesan mama nggak boleh pacaran dulu kalau masih kecil. sekarang kan Vania udah gede udah SMA, berarti udah boleh pacaran. nanti kalo Vania udah ada cowok pasti Vania pamerin ke kakak" jawabku bangga dan berlagak songong


"*halah palingan juga si cowok culun berkacamata yang sering kakak lihat merhatiin kamu saat dulu kakak jemput kamu itu kan"


"ih siapa... maksud kakak si Rio yang dulu itu? ya nggak lah, orang kita sekarang nggak satu sekolah kok*" jawabku mengelak


"*terus siapa"


"ada deh*...."


Kak Rena yang mendengarkan candaanku dengan kak adit hanya tersenyum sendiri sambil menatap kami bergantian "roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta ni" kata kak Rena menggodaku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum dan berusaha menghindar karena takut kak Adit akan semakin meledekku.


"udah ah, aku mau ke kamar aja" kataku sambil berlari menghindar membuat mereka semakin tertawa puas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**jangan lupa like dan votenya

__ADS_1


salam sayang selalu๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ˜˜**


__ADS_2