
Dokter Niko mengetuk pintu ruangan dan kami berempat masuk setelah dipersilahkan oleh pemiliknya.
"silahkan duduk" kata dokter Ricky ramah sambil menggerakkan telapak tangannya pada tiga kursi yang ada di hadapannya.
Kami bertiga duduk di kursi telah disediakan. Sedang dokter Niko berdiri disamping dokter Ricky dengan menyilangkan tangannya di dada.
"jadi begini pak, bu, dan tuan Devan... Berdasarkan hasil pemeriksaan dan diagnosis terhadap pasien, saya mohon maaf sekali sebelumnya" kata dokter Ricky
"kami akan mencoba menerima semua hasilnya dokter" suara Ibu bergetar
"begini,,sel kanker sudah semakin menyebar ke organ lain, sehingga akan sulit bagi kamu untuk mengendalikan dan menghentikannya.
saat ini kami hanya bisa melakukan penghambatan pada pertumbuhan sel kanker dan mengurangi keluhan yang diderita oleh pasien" kata dokter
"Dan dengan berat hati, saya mohon maaf sekali harus mengatakan in, tingkat kesembuhan pasien hanya 20%"
Bapak dan ibu Ditya semakin terisak mendengar penuturan dokter Ricky. Kata-kata yang diucapkan oleh dokter itu sungguh membuat hati mereka semakin perih.
Devan yang duduk di tengah-tengah kedua orangtua itu mencoba menenangkan keduanya dengan mengusap-usap punggung mereka dengan tangan kanan dan kirinya.
"Kita berdoa saja semoga ada keajaiban. Takdir Tuhan seperti apa kita tidak tahu. Kami sebagai tim medis akan mengupayakan semua kemampuan kami bisa. Selebihnya biar Tuhan yang menentukan" imbuh dokter Ricky.
"terimakasih dok, tolong lakukan yang terbaik untuk saudara saya" kata Devan sambil mengulurkan tangan hendak menjabat tangan dokter Ricky
Dokter Ricky membalas uluran tangan Devan dan tersenyum lembut "itu pasti, tuan"
Mereka berempat keluar dari ruangan dokter Ricky. Dokter Niko mengantar Devan dan orangtua pasien menuju ruang perawatan Ditya.
Devan meminta pihak rumah sakit untuk menempatkan Ditya di VVIP room. Ruangan besar dengan fasilitas lengkap yang peruntukkan untuk kalangan tertentu.
Mereka sampai di depan ruang ICU, dokter Niko menyarankan mereka untuk masuk bergantian. Bu Wati dipersilahkan terlebih dahulu untuk menemui pasien.
__ADS_1
Bu Wati memasuki ruang ICU. Ruangan itu cukup besar. Disekat oleh ruang perawatan Ditya dan ruang kecil yang dipakai untuk satu dokter jaga dan dua orang perawat. Ia memasuki ruang kecil itu dan menemui dokter dan perawat jaga.
"maaf, saya ingin bertemu dengan anak saya" kata Bu Wati sopan
"baik bu, mari saya antar, tapi sebelumnya silahkan anda mengenakan pakaian khusus yang disediakan sesuai prosedur" kata salah satu perawat sambil menyerahkan pakaian khusus pengunjung dan masker serta penutup kepala.
Keadaan ruangan harus benar-benar steril. Bu Wati mengikuti perintah perawat itu. Ia mengenakan pakaian dan perlengkapan yang perawat jaga berikan.
Bu Wati diantar oleh perawat menuju ruangan Ditya. Perawat itu membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan bu Wati masuk. Kemudian perawat itu kembali ke ruangannya dan membiarkan bi Wati menemui putranya sendiri.
Suasana ruangan itu sangat sepi. Ditya masih belum juga sadar. hanya terdengar suara beberapa alat medis yang saling bersahutan. Banyak kabel terpasang di kepala Ditya dan tubuh Ditya yang tampak kurus dan pucat.
Bu Dewi melangkah pelan menghampiri putranya yang terbaring lemah. Ia duduk di kursi samping pembaringan dan terus menangis melihat keadaan putranya. Kedua tangannya terus menutup mulutnya karena tidak ingin tangisnya semakin pecah. Sungguh pemandangan yabg sangat menyedihkan ketika melihat putra semata wayangnya hanya bisa berbaring dengan beberapa kabel dan selang di sekujur tubuhnya.
Ia menyentuh dan menggenggam salah satu tangan putranya yang tidak terpasang infus. Bu Wati terus menangis menatap wajah putranya.
"bangunlah nak, ibu ingin lihat senyummu" katanya sambil mengelus pipi putranya
Sudah hampir satu jam bu Wati menemani Ditya. Ia ingat kalau harus bergantian dengan suami dan putra angkatnya. Ia berdiri dari duduknya dan mencium kening Ditya.
"Ibu tinggal dulu ya nak, cepatlah sadar.. kami semua mencintaimu" katanya sambil menatap wajah Ditya.
Bu Wati keluar dari ruangan Ditya dan melepas pakaian khusus yang ia kenakan. Ia mengembalikan perlengkapan itu pada perawat jaga.
Pak Yanto, suami dari bu Wati segera menyambut istrinya yang baru keluar dari ICU. Ia memeluk istrinya sebagai cara untuk menenangkannya.
Kini giliran pak Yanto yang bergantian memasuki ruangan Ditya.
Devan dan bu Wati dengan setia menunggu dari luar. Mereka duduk berdampingan di ruang tunggu depan ICU.
"bu, apa tidak sebaiknya Vania tahu tentang semua ini?" tanya Devan
__ADS_1
"ibu juga berfikir seperti itu nak... tapi.." kata bu Wati menggantung
"tapi kenapa bu?"
"ibu tidak yakin Vania akan baik-baik saja, mengingat dia pernah sakit hingga harus di opname karena terlalu stress. ini takut kejadian itu terulang lagi"
Vania memang pernah mengalami itu saat masih SMA. Ia tertekan dan stress saat akan menjalani ujian nasional, sehingga membuat ia harus di rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit.
Devan terkejut mendengar pernyataan dari ibunya. Ia belum pernah mendengar berita itu dari Andre.
"tapi bu, bukannya dia akan semakin syock mendengar kabar ini jika harus tahu dari orang lain? kita bisa mengatakannya pelan-pelan, dengan cara bisa lewat keluarganya dulu" kata Devan menyarankan
"kamu benar nak, ibu akan menghubungi ibunya dulu besok pagi. biar beliau yang akan menyampaikannya ke Vania. Beliau pasti tahu cara yang tepat untuk memberi pengertian ke putrinya"
Tak lama kemudian pak Yanto keluar dari ruangan. Tampak raut sendu di wajahnya. lelaki tua itu tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya.
"kau ingin melihatnya nak Devan?" tanya pak Yanto pelan
"biar Ditya istirahat dulu saja pak, saya akan menengoknya besok, lagipula sebentar lagi jam kunjung juga akan berakhir" kata Devan sambil melihat jam tangannya untuk menyamakan jadwal kunjung yang tertulis di depan pintu ruangan.
"Nak, kalau lelah kamu bisa pulang dulu saja.. kasihan nanti orangtuamu menunggu" kata bu Wati
"bu, bukankah kalian juga bagian dari keluargaku... Devan akan menginap disini menemani ibu dan bapak. Pihak rumah sakit sudah menyiapkan tempat istirahat untuk kita tidak jauh dari ruangan Ditya"
"setidaknya berilah kabar pada ayah dan bunda agar mereka tidak khawatir"
"baiklah bu"
Devan berjalan sedikit menjauh dari bapak dan ibunya. Ia mencoba menghubungi bundanya untuk memberikan kabar ketidakpulangannya.
Bunda pun mengiyakan Devan dan mengatakan besok akan mengunjungi keluarga baru putranya tersebut.
__ADS_1
Devan kembali kepada bapak dan ibunya setelah menyelesaikan panggilannya dan mengajak mereka menuju ruang istirahat yang telah disediakan pihak rumah sakit.