Cinta Vania

Cinta Vania
Kado Ulang Tahun


__ADS_3

"nak Vania" kata bu Wati sedikit terkejut melihat Vania yang tengah ditemani Nadya.


"ibu" panggil Vania. Ia memeluk ibu Ditya dan menumpahkan kesedihannya. Air matanya jatuh bercucuran saat memeluk bu Wati. Seolah sedang melampiaskan seluruh perasaan yang ia pendam selama ini.


"tenang sayang, jangan sedih-sedih terus... kamu harus mulai bisa menerima semuanya. Ditya sudah bahagia disana, sudah tidak lagi merasakan sakit" kata bu Wati sambil mengusap-usap rambut Vania. Ia mencoba menguatkan hati Vania meski dirinya sendiri begitu rapuh.


Vania melepaskan pelukannya dan menatap bu Wati dengan sendu. "aku akan mencoba kuat seperti ibu dan bapak" katanya pelan.


Bu Wati tersenyum mendengar ucapan Vania. Kemudian ia mempersilahkan kedua gadis itu untuk duduk.


Bu Wati kembali ke dapur untuk menghidangkan minuman pada kedua tamunya. Ia kembali membawa dua gelas teh hangat yang diletakkan diatas nampan.


"silahkan diminum nak" kata bu Wati sambil meletakkan gelas di depan tamunya


"makasih bu" kata Nadya


"ibu tidak perlu repot-repot" timpal Vania


"ini hanya teh hangat, Ibu sama sekali tidak repot. ibu justru senang dengan kedatangan kalian"


"bu, setelah kejadian kemarin, bagaimana bisa setegar dan sekuat ini, tolong beri tahu Vania, Vania juga ingin sekuat ibu" tanya Vania penasaran.


"ibu sudah mengikhlaskan kepergiannya nak, dan lagi semua itu juga karena putra baru ibu. Kehadirannya mampu menjadi pengobat kesedihan ibu. Tapi bukan berarti dia 100% menggantikan Ditya di hati ibu. Ditya tetap anak kandung ibu yang akan selamanya ibu kenang" kata bu Wati


"putra ibu?" tanya Vania mengulang


"iya nak"


"bukannya Ditya anak tunggal?"


"iya betul. Ditya memang anak tunggal kami. Dan kami mengangkat seorang laki-laki menjadi anak kami sekaligus kakak Ditya karena usianya selisih 1 tahun lebih tua"


"sejak kapan bu? Ditya tidak pernah cerita pada Vania"


"belum lama nak, sejak Ditya sakit. Dia yang membiayai semua pengobatan Ditya, dia juga yang menjamin ekonomi kami sehingga bisa membuka usaha seperti ini"


"lalu sekarang dia dimana bu" karena sedari tadi tidak melihat orang lain dirumah itu selain bu Wati dan pak Yanto yang sedang melayani pembeli di warung.

__ADS_1


"dia sudah kembali ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya"


"Vania semakin tidak mengerti bu, maksudnya bagaimana?"


"ceritanya panjang nak"


Bu Wati mulai menceritakan tentang sosok putra barunya. mulai dari awal bertemu sampai harus berpisah untuk sementara waktu dengan Devan.


"awal ibu membawanya kesini ibu kaget ternyata dia dan Ditya saling mengenal, bahkan dia juga mengenalmu"


"mengenalku?" tanya balik Vania.


"iya nak, bahkan saat acara pengajian juga dia selalu ada disini"


Vania semakin penasaran dengan sosok yang diceritakan oleh bu Wati. Ya, saat acara pengajian Vania lebih banyak menunduk dan hanya fokus pada pikirannya sendiri tentang Ditya. Vania tidak lagi memperdulikan keadaan sekitar. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Devan yang terus memperhatikannya.


"boleh Vania tahu orangnya?"


"sebentar ibu cari fotonya" kata bu Wati sambil membuka galeri di ponsel milik Ditya yang kini menjadi miliknya. Bu Wati sengaja meminta Devan mengirimkan fotonya sebelum pergi ke luar negeri sebagai obat rindunya.


Setelah menemukan foto yang dicarinya, ia menunjukkan ponsel itu pada Vania.


"kamu harus kuat, jangan terus seperti ini" kata Nadya lembut menasehati.


Vania menoleh ke Nadya dan mengangguk pelan. Ia menghapus air mata di pipinya dengan tangan kirinya.


Vania mulai menatap foto di ponsel yang ada di tangan kanannya. Ia terus memperhatikan sosok di foto itu. Orang itu seperti tidak asing baginya. Hanya tubuhnya yang berubah atletis dan gagah.


"kak Devan, iya nggak sih" bisik Nadya yang ikut memperhatikan. Namun, suara itu masih bisa terdengar oleh bu Wati.


"sepertinya begitu, tapi mungkin hanya mirip karena banyak perubahan di foto itu" kata Vania.


Bu Wati yang mendengar percakapan kedua gadis itu hanya tersenyum. Mereka seakan tidak percaya jika Devan lah saudara angkat Ditya.


"kalian benar, dia nak Devan" kata bu Wati.


Wajah Nadya berseri setelah mengetahui kabar itu. Ia tidak sabar mengatakan semua ini pada Andre kekasihnya.

__ADS_1


"kenapa semuanya begitu kebetulan sekali. Dunia ini sungguh sempit. Semoga mereka berjodoh" batin Nadya senyum-senyum sendiri.


"Nad, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?'


"eh nggak kok, kenapa dunia serasa sempit sekali ya.. ternyata kita mengenal putra angkat ibu" kata Nadya


"Dia yang selalu menguatkan ibu dengan semua kasih sayangnya. Dia sekalipun tidak membeda-bedakan meski kami orang tidak berada. Itu yang membuat ibu makin menyayanginya"


"sebentar, ibu punya sesuatu untukmu" kata ibu sambil beranjak dan berjalan menuju kamar Ditya


Tak lama kemudian bu Wati keluar dari kamar Ditya dengan membawa box berukuran sedang yang dibungkus seperti sebuah kado dan ada pita diatasnya.


"ini dari Ditya, dia menyiapkannya setelah awal divonis kanker otak. Dia bilang ini buat kado ulang tahun Vania nanti. Tapi karena sekarang Ditya sudah pergi maka ibu serahkan sekarang saja" katanya sambil menyerahkan box itu ke Vania.


Vania menerima box itu. Ia terus memandang kado pemberian kekasihnya. Air matanya menetes kembali. Sejak sepeninggal Ditya, Vania mudah sekali meneteskan air mata. Buru-buru ia mengusapnya karena tidak ingin semakin sedih.


"bukalah nanti kalau sudah di rumah" imbuh bu Wati.


"baik bu, kalau begitu kami permisi pulang" kata Vania


"sering-seringlah kemari... ibu sudah menganggapmu sebagai putri ibu sendiri" kata bu Wati.


Vania mengangguk pelan.


Mereka bertiga berdiri dari duduknya. Vania dan Nadya berjalan mendekati bu Wati.


Bu Wati merangkul tubuh gadis itu. "ibu sudah bisa ikhlas nak, kamu pun harus begitu, jangan berlama-lama dengan kesedihanmu. bukalah hatimu untuk orang lain. Masih banyak lelaki di dunia ini yang tulus mencintaimu seperti Ditya" kata bu Wati yang tak sadar meneteskan air matanya setelah beberapa hari sudah bisa tegar.


"baik bu, saya mengerti" kata Vania sambil melonggarkan pelukannya.


Vania berpamitan dengan bu Wati dan pak Yanto yang baru kembali dari warung yang letaknya di depan rumah.


Mereka mengantarkan kepergian tamunya sampai di halaman rumah.


"kalian naik motor?" tanya bu Wati karena melihat sebuah motor matic terparkir di halaman rumah.


"iya bu, Vania dibonceng sama Nadya. Kan Vania tidak bisa naik motor" kata Vania

__ADS_1


"ya sudah kalian hati-hati ya" kata bu Wati yang dijawab anggukan oleh kedua gadis itu


__ADS_2