
Di tempat lain, Devan yang tengah sibuk dengan pekerjaan kantornya menyempatkan diri untuk meluangkan waktunya berolah raga. Ya, setiap berada dirumah Devan selalu memasuki ruangan gym di rumah pribadinya untuk menghilangkan penat akan pekerjaannya. Tak heran tubuhnya semakin berotot dan kekar. Bahkan para gadis akan terpukau jika melihat tubuh kekarnya tanpa tertutup kemeja.
Dia sengaja menghabiskan waktunya dengan setumpuk pekerjaan di kantor. Baginya itu adalah cara satu-satunya agar pikirannya terbebas dari cinta pertamanya.
Lupa? tidak mungkin Devan melupakan Vania begitu saja. Ia hanya mengalihkan pikirannya dari gadis cantik berambut hitam panjang itu.
Malam harinya Devan menghadiri acara pertemuan antar pimpinan anak cabang. Acara itu rutin diadakan tiga bulan sekali secara bergantian di tiap anak cabang perusahaan. Dan untuk kali ini kebetulan acara diselenggarakan di aula kantor milik Pak Firman.
Di sana Devan hadir sebagai tamu istimewa. Devan hadir bersama ayahnya dan Ronald.
Sepanjang acara para petinggi perusahaan itu saling mengobrol.
Malam semakin larut, sebagian tamu undangan sudah pulang. Hanya tersisa sebagian saja yang masih memilih tinggal di aula karena asyik mengobrol dengan rekan kerjanya.
Devan meminta ijin sebentar pada pak Firman untuk berbicara di dalam ruangannya mengenai hal pribadi.
"maaf sebelumnya Oom, kemarin saya mengunjungi Healthy Hospital. Saya tidak sengaja bertemu dengan dokter ahli penyakit dalam yang kebetulan teman saya" kata Devan saat sudah duduk di sofa ruangan pak Firman.
"maksud anda dokter Kevin?"
"iya betul... dia menyinggung tentang anda yang ia tahu bekerja di bawah naungan SA Group"
"apa dia bicara sesuatu?" tanya pak Firman mulai cemas. Ia khawatir Devan mengetahui tentang penyakitnya.
"iya Oom, dia bilang Oom adalah pasien tetapnya, dia bilang Oom punya penyakit paru-paru. Apakah betul?" tanya balik Devan.
Pak Firman menghela nafas pelan. Kekhawatirannya terjadi. Devan mengetahui semuanya.
"betul nak, Oom sudah lama mengidap jantung" kata pak Firman melemah.
"apa orang rumah tahu?"
"hanya istri Oom yang tahu, tidak dengan Adit dan Vania. Oom tidak ingin menambah beban pikiran mereka"
"tapi apa kak Adit juga tidak harus tahu?".
__ADS_1
" Adit sedang bahagia menikmati masa pernikahannya. Apalagi istrinya sedang mengandung anaknya. Oom tidak ingin merusak kebahagiaannya dengan berita buruk" katanya sambil menunduk
"Oom Firman..." panggil Devan pelan membuat pemilik nama menoleh.
"Oom pasti bisa sembuh. Yakinlah... demi istri dan anak-anak Oom" Kata Devan menyemangati
"tidak semudah itu nak, Kecil kemungkinan bagi Oom untuk sembuh total. Karena dokter bilang penyakit Oom sudah cukup parah. Paru-paru oom sudah rusak sebagian. Oom sering merasakan sesak dan kesulitan bernafas"
"jangan pesimis Oom, semua penyakit pasti ada obatnya"
"Oom tidak mau terlalu berharap nak, Oom sudah pasrah bila Allah akan memanggil dengan cepat, Oom hanya minta tolong kamu untuk bantu Adit menjaga adiknya" kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.
"maksud oom?"
"Oom tahu Vania telah menyakiti perasaanmu, tapi tolong jaga dia dengan atau tidak bersamamu. Anggap saja dia adikmu"
"Vania tidak pernah menyakiti hati saya Oom, saya saja yang terlalu berharap jauh. Oom tenang saja saya akan ingat pesan Oom, yang penting Oom jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah" jawab Devan tersenyum.
"terimakasih nak" kata pak Firman dengan senyumnya yang teduh.
Panggilan itu dari ayahnya yang menanyakan keberadaan putranya untuk mengajaknya pulang.
Devan mengatakan sebentar lagi akan menemui ayahnya. Ia memutuskan panggilan telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Devan balik dulu ya Oom"
"saya antar sebentar nak"
"tidak perlu mengantar saya, Oom. Lagipula saya mau langsung menuju parkiran"
Devan bergegas undur diri dan menemui ayahnya yang sudah menunggu.
Devan meninggalkan kantor dan memasuki mobilnya yang sudah ada ayahnya dan Ronald. Ia tidak sadar jika ponselnya terjatuh di ruangan Pak Firman saat memasukkannya ke saku celana.
Pak Firman yang menemukan ponsel Devan menyimpannya ke dalam tas karena pemiliknya sudah terlanjur meninggalkan kantor.
__ADS_1
Pak Firman kembali pulang ke rumah diantar oleh Adit. Dia harus mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah dengan aktifitas yang padat hari ini.
Keesokan paginya papa dan mama Vania berkumpul di ruang tamu untuk sarapan. Tak lama kemudian Vania keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi ala kantoran. Kemeja polos warna biru muda dan rok span hitam selutut menjadi pilihannya pagi ini untuk melamar pekerjaan.
"kamu mau ngelamar kerja lagi?" tanya papa Firman.
"iya lah Pa, Vania nggak mau di rumah terus" jawab Vania sambil duduk di bangku kosong dekat mamanya.
"nggak capek kemarin ditolak?"
"nggak lah pa, kan kata papa harus semangat. Lagian kali ini Vania yakin bakalan di terima"
"yakin banget kamu sayang, emang mau ngelamar dimana?" tanya mama sambil mengambilkan nasi goreng di piring putrinya.
"emm.... itu Ma... Pa... Sebenarnya Vania mau ngelamar jadi asisten manager SA Group, kata kakak disana ada lowongan, dan persyaratannya juga sesuai dengan kriteriaku, jadi aku yakin bakalan lulus seleksi" jawab Vania ragu-ragu.
"Papa akan mendukung semua keputusanmu. Kalau emang kamu beneran pengen kerja disana, papa bisa bantu buat itu" kata papa Firman senang.
"nggak pa, Vania pengennya masuk kesana karena kerja keras Vania sendiri. Vania juga minta tolong sama papa jangan sampai kak Devan tahu aku kerja di tempatnya. Mau ya Pa...." rayu Vania agar papanya mau menyetujui permintaannya.
"ya.... kalau sudah seperti ini bagaimana papa bisa menolak" jawabnya sambil tersenyum.
"makasih papa" kata Vania senang sambil mendekati papanya dan memeluknya.
"sudah... sudah cepat habiskan sarapanmu, nanti kesiangan lho" perintah mama yang membuat Vania melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh papanya dan melanjutkan sarapan.
Tak lama kemudian Adit datang menjemput papanya.
"assalamualaikum semuanya"
"waalaikumsalam sayang, kamu udah sarapan? kalau belum ayo ikut sarapan bareng" kata mama Karina
"Adit udah sarapan Ma, ini buru-buru jemput papa soalnya bentar lagi ada janji sama klien"
"astaghfirullah....kok papa bisa lupa ya" kata papa Firman sambil menepuk keningnya "mana papa juga harus mengantar ponsel Devan yang tertinggal di kantor kemarin"
__ADS_1