
Vania tiba di kantor pukul setengah sepuluh siang. Ia menjadi pusat perhatian pegawai lain karena berangkat terlambat.
"Tumben jam segini baru berangkat mbak" tanya pegawai lobby yang mengenalnya.
"Iya mbak... tadi ada urusan, tapi udah ijin kok" jawab Vania asal.
"Oo..." pegawai lobby hanya membulatkan bibirnya tanda mengerti.
Vania bergegas menuju ruangannya agar tidak semakin kesiangan. Dilihatnya Maya sedang sibuk menerima panggilan.
Vania duduk di mejanya dan meletakkan tasnya di lemari kecil bawahnya.
"Lho kok berangkat? Tadi katanya kamu libur" kata Maya bingung setelah menutup panggilan dan melihat Vania sudah duduk di mejanya.
"Yang bilang siapa, mbak?" tanya Vania sambil merapikan berkas di atas mejanya.
"Pak Romi. Katanya suamimu yang bilang"
Vania hanya tertawa kecil, "Tadinya disuruh gitu mbak...tapi akunya nggak mau, orang hari ini ada pekerjaan penting. Aku harus menemani pak Romi bentar lagi buat meeting sama klien"
"Terus kenapa kamu sampai disuruh libur? Kamu nggak sakit, kan?"
"Enggak mbak... akunya bangun kesiangan"
"Oo...aku ngerti sekarang" Jawab Maya terkekeh. Ia tahu alasan sahabatnya kesiangan.
"Ngerti apa mbak"
"Ya ngerti aja, suami istri habis berantem pasti ujung-ujungnya romantis-romantisan" jawab Maya membuat pipi Vania bersemu merah karena malu. "Tuh kan bener... Nasib jomblo cuma bisa melongo" lanjut Maya memanyunkan bibirnya.
"Tinggal nyari pasangan ajakin nikah, selesai mbak" kata Vania menahan tawa.
"Ngawur aja kamu, dikata nyari pasangan itu kaya nyari sayur di pasar apa, dapat bawa pulang" sahut Maya diikuti tawa keduanya.
"Lho...tidak jadi libur Van?" tanya Pak Romi yang baru keluar dari ruangannya.
"Enggak jadi pak, kan hari ini ada meeting sama klien" jawab Vania ramah.
"Ya kan bisa digantikan sama Maya sebentar nggak apa-apa"
"Hehehe... Enggak pak. Nanti malah kerjaan disini terbengkalai"
"Ya sudah ayo ikut saya menemui klien" ajak pak Romi
"Lho, kliennya nggak jadi kesini, pak?"
"Jadi, kita meeting di lantai bawah, ruangan sebelah lobby. Sudah ayo"
"Baik pak, saya ambil berkasnya dulu" kata Vania menata berkas diatas meja dan membawanya pergi mengikuti langkah pak Romi.
*****
Memasuki jam makan siang, Vania dan Pak Romi selesai meeting. Mereka keluar dari ruangan untuk kembali ke lantai tiga tempat kerjanya.
__ADS_1
Saat sedang menunggu di depan pintu lift karyawan, tak sengaja Vania melihat suaminya berdiri sendirian hendak keluar dari dalam lift khusus Presdir yang baru terbuka. Devan yang juga melihat istrinya langsung keluar menarik lembut tangan Vania dan mengajaknya masuk kembali ke dalam lift dan menutup kembali pintunya. Sedang pak Romi yang melihatnya hanya menggeleng sambil tersenyum dengan tingkah pasangan muda yang belum lama menikah itu.
"Kalau tadi ada pegawai lain yang lihat gimana, mas? kamu ini nggak lihat kanan kiri dulu" kata Vania kesal.
"Biarin, aku nggak peduli" jawab Devan seenaknya. Ia mendorong tubuh istrinya hingga terhimpit dinding dan menguncinya dengan kedua tangannya.
"Mas, kamu mau apa? nanti ada yang lihat" tanya Vania
"Aku kangen banget sama kamu" kata Devan sambil mendekatkan wajahnya pada Vania.
Vania mencebikkan bibirnya dengan senyuman manjanya, "Baru juga berapa jam nggak ketemu, mas".
"Justru itu... Satu menit saja rasanya sangat lama apalagi satu jam" Devan mengecup pipi Vania.
Vania mengalungkan kedua tangannya di leher Devan membuat Devan tersenyum menyeringai.
"Mau menggodaku ya"
"Iiih...apa sih, enggak kok" Spontan Vania melepaskan tangannya karena takut suaminya itu akan berbuat lebih.
"Iya juga nggak apa-apa, yang" katanya menahan tawa.
"Enggak"Jawab Vania tegas namun terdengar manja di telinga Devan.
"Ke ruanganku ya" ajak Devan
"Ngapain"
"Bukannya tadi mas mau turun?" tanya Vania karena melihat suaminya tadi mau keluar dari pintu lift.
"Enggak jadi. Tadi mau ke parkiran ambil ponselku yang ketinggalan di mobil"
"Terus?"
"Nggak jadi, kan udah ketemu kamu disini"
Vania memutar bola matanya malas. Suaminya itu mulai pintar menggombal dan merayunya.
Lift berhenti di lantai teratas dimana ruangan Devan berada. Devan segera menggandeng Vania keluar lift untuk berjalan menuju ruang kerjanya.
"Siang mbak Lia" sapa Vania saat melihat Lia sedang duduk di meja kerjanya.
"Siang, Nona" sapa balik Lia dengan senyum.
"Lia, bilang sama Ronald untuk tidak menemuiku dulu sampai aku yang memintanya" perintah Devan sebelum masuk ruangan
"Baik, pak" jawab Lia menurut. Ia sudah tahu jika bossnya itu tidak ingin diganggu.
Devan mengajak Vania ke ruang istirahat di dalam ruangannya. Devan melepaskan jasnya. Ia membuka kancing lengannya dan menggulungnya sampai siku.
"Kita mau ngapain, mas?"
"Aku butuh nutrisi, sayang" kata Devan memelas.
__ADS_1
"Makan, mas. Bukan malah ke kamar" jawab Vania asal karena sebenarnya ia sudah tahu dimana arah pembicaraan Devan.
Tanpa aba-aba, Devan mencium bibir Vania dan mel*matnya sampai pemiliknya tak bisa menolak.
"ummbbhh... mas" kata Vania yang tertahan karena mulutnya yang dibungkam.
Devan tak memperdulikan Vania yang ingin mengucapkan sesuatu. Baginya kini hanya bagaimana nafsunya yang sudah di ubun-ubun itu tersalurkan.
Nafas Vania mulai terengah-engah. Devan menyudahi ciumannya.
"Kebiasaan nggak kasih jeda buat nafas" kata Vania kesal dengen ngos-ngosan membuat sudut bibir Devan melengkung.
"Aku mau, yang" bisik Devan di telinga Vania.
"Tadi malam kan udah. Emang nggak capek? Aku aja rasanya masih sedikit nyeri lho"
Devan menggeleng pelan. "Aku nggak bisa menahannya setelah melihatmu. entah mengapa tubuhmu seperti candu buatku" kata Devan dengan wajah memelas. Memohon agar Vania mengabulkan permintaannya. "Mau ya, kasihan yang di bawah sudah mengeras" lanjutnya sambil melihat sesuatu yang mengganjal di balik celananya.
Vania menahan tawa melihat suaminya yang nampak tersiksa. "Dasar mesum" kata Vania menahan untuk tidak tertawa.
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Devan membuka blazer yang dikenakan Vania. Ia terpukau melihat tubuh seksi istrinya dibalik atasan yang begitu ketat. Ia mendengus kesal melihat pemandangan di depannya.
"Kenapa kau selalu terlihat seksi di mataku" katanya smbil meraba dada Vania.
"ih mas, geli ih"
"Ya sudah buka" kata Devan cepat.
"Enggak mau" tolak Vania cepat
"kalau begitu aku yang buka"
"Enggak...enggak... baiklah aku akan membukanya sendiri" sahut Vania kesal.
Vania membuat pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalam. Tanpa aba-aba Devan langsung meraba-raba dan memberikan sentuhan ke seluruh tubuh vania dengan bibirnya.
Devan sudah tak tahan lagi. Ia melepas seluruh pakaiannya dan pakaian dalam Vania hendak melampiaskan hasratnya, namun ditahan oleh Vania.
"Janji pelan-pelan ya, bekas semalam masih nyeri" pinta Vania.
"Aku janji, sayang"
Dan siang itu terjadi lagi pergumulan dan desahan antara dua insan yang sedang dimabuk asmara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suka sama jalan ceritanya?
Buruan ganti ke rate lima ya...
Jangan lupa Vote, like dan komentar biar author makin semangat
Salam Sayang selalu,💗💗😘
__ADS_1