
Kedua manik mata Vania masih terus memperhatikan pemandangan keluarga yang sedang bermain di taman yang bersebelahan dengan jalan raya. Tak lama lagi Ia akan merasakan kebahagian seperti apa yang dilihatnya saat ini. Ia tak menyangka akan menjadi seorang ibu. Dia ingat pertama kali Devan menyentuhnya. Mungkin sejak saat itu tertanam benih Devan dalam rahimnya.
"Vania"
Suara panggilan seorang lelaki membuyarkan pandangannya. Ia menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"David, kau disini?" tanya Vania
Davin mendudukkan dirinya di sebelah Vania. "Aku sedang membeli sesuatu disana, aku tak sengaja melihatmu, jadi aku kemari. Kau sedang apa disini?" kata David menunjuk minimarket sebelah apotek dan kemudian kembali menatap Vania.
"Aku sedang membeli Vitamin"
"Sudah dapat?" tanya David karena melihat Vania hanya duduk di bangku taman.
"Belum, aku meminta ibu rumah untuk mengantri, jadi aku menunggu disini"
"Oo..." jawab David membulatkan bibirnya. "Vania, boleh aku bertanya sesuatu?" lanjut David serius.
"hmm.. tanya apa?"
"Apa benar berita yang sedang ramai di kantor tentang hubunganmu dengan pak Presdir?"
"Maksudmu?" tanya Vania terkejut. Ia tak menyangka di kantor sudah ada berita tentang mereka.
"Haruskah aku menjelaskan pertanyaanku? Aku yakin kau sudah mengerti maksudku"
"Iya, itu benar" jawab Vania lirih.
"Jadi Benar kamu memiliki hubungan khusus dengan pak Devan?"
__ADS_1
"Aku yakin kau sudah mengetahuinya. Bahkan lebih dari apa yang diketahui oleh para karyawan kantor" jawab Vania menebak. Ia sudah meyakini David akan mengorek informasi dari Maya.
"Ya... kamu benar. Apa itu sebabnya kau menjauhiku? apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya David mengkhawatirkan wanita di sebelahnya.
"Haruskah aku menjawabnya? Dan apa kamu akan menanyakan tentang pertanyaanmu tempo hari juga?" tanya balik Vania dengan raut wajah tak suka.
"Tidak, aku tahu batasanku. Aku tak mungkin memaksa milik orang lain untuk sekedar menyenangkan hatiku. Lagi pula aku akan merasa tenang jika wanita yang ku cintai bahagia meski tak bersamaku" jawab David dengan suaranya yang terdengar berat. Lelaki itu terlihat kecewa, namun ia masih bisa dengan hebatnya menutupinya dengan tersenyum lembut.
David dan Vania mengobrol sambil tertawa-tawa layaknya seorang teman biasa. David berusaha menghibur diri dengan candaannya agar suasana diantara mereka tidak canggung dan Vania juga tertawa.
Sedang di ujung jalan, Sorang lelaki dengan mobil sedannya tak sengaja menangkap kebersamaan mereka yang nampak menyenangkan. Ia merasa marah, ia mencengkeramkan tangannya pada kemudi dengan rahang yang sudah mengeras. Dia adalah Devan yang awalnya berniat hendak mengunjungi Vania di rumah karena rindu. Tapi ternyata apa yang dilihatnya justru membuatnya sakit. Ia melihat istrinya sedang bersenang-senang dengan seorang pria yang sangat tidak dia suka.
Devan marah karena merasa dipermainkan oleh istrinya sendiri. Ia menunda niatnya dengan pergi ke rumah orangtua angkatnya terlebih dahulu.
Bu Tini yang baru saja selesai menebus obat segera menghampiri majikannya yang sudah menunggu.
"Nona" panggil Bu Tini membuat Vania menoleh.
Vania beralih menatap David untuk berpamitan padanya. "Maaf David aku harus pulang dulu, terimakasih atas hiburannya" kata Vania karena merasa senang membuat suasana hatinya ceria.
"Iya, kamu hati-hati" jawab David senyum.
Vania beranjak dari duduknya dan kemudian pergi meninggalkan David menuju mobil yang dikemudikan pak Amin.
******
Malam harinya, Vania yang tengah duduk di sofa yang ada di kamarnya sedang menikmati pemandangan luar yang nampak indah di malam hari. Wanita itu masih merasa senang dengan kehamilannya yang masih belum diketahui orang lain sambil sesekali mengelus perutnya uang masih rata.
"Sehat-sehat di dalam perut mama ya sayang, besok pagi kita temui papa dan memberitahu kabar bahagia ini" kata Vania menunduk menatap perut sambil mengelusnya. Senyumnya masih saja mengembang mengingat kebahagiaannya bisa mengandung. Ia ingin suaminya menjadi orang pertama yang akan diberitahu olehnya.
__ADS_1
Devan yang baru sampai di rumah di sambut oleh Bu Tini dengan senyum bahagianya karena sudah seminggu tidak bertemu dengan majikannya itu. Namun baru sejenak senyum Bu Tini hilang karena melihat wajah tuannya yang nampak tak baik-baik saja.
"Istriku mana Bu?" tanya Devan dingin.
"Anu...di kamarnya Tuan. Mungkin saat ini beliau sedang istirahat" jawab Bu Tini cemas. Ia tak tahu betul permasalahan antara dua majikannya hingga membuat tuannya marah.
Vania yang masih asyik dengan aktifitasnya terkejut mendapati pintu yang dibuka dari luar. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat ada suaminya sedang berdiri di depan pintu.
"Mas" Panggil Vania berdiri dari duduknya. Ia hendak menghampiri suaminya. Namun melihat wajah Devan yang terlihat emosi dan marah tiba-tiba saja membuatnya takut.
Devan menutup kembali pintu kamar dan berjalan mendekati Vania.
"Kenapa kau diam-diam pergi berdua bersamanya?" tanya Devan tanpa basa-basi dengan raut wajah tak bisa ditebak.
"Apa maksudmu, mas?" tanya balik Vania yang tak mengerti.
"Sudahlah kau tak usah lagi mengelak. Aku melihatnya. Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana kalian begitu senang berduaan di sebuah taman tadi sore. Bukankah sudah ku bilang untuk menjauh dari laki-laki itu. Apa kau lupa statusmu sebagai seorang wanita bersuami, huh?" tanya Devan berapi-api.
"Mas, kamu salah sangka, mas" jawab Vania membela diri dan meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan suaminya.
"Salah paham kau bilang? ceh..." tanya Devan dengan senyum kecut. Ia mendesis kesal mendengar istrinya mengucapkan salah paham. "Pergi berduaan dengan lelaki lain kau bilang salah paham? Aku bukan orang yang mudah kau tipu, Vania. Aku mengerti sekarang. kenapa kau meminta kita untuk tidak saling bertemu sementara waktu. Dan kau juga menolak untuk mendapatkan perlindungan dari pengawal yang sudah ku siapkan. Tentunya karena kau ingin bebas bertemu dengan kekasihmu itu kan?" tanya Devan mengintimidasi Vania.
"Bukan mas, itu tidak benar" kata Vania menyalahkan semua perkataan Devan.
"Cukup Vania... cukup kau mempermainkan perasaanku. Selama ini aku selalu berusaha sabar menghadapimu. Tapi jika kau merasa lebih senang dan bahagia saat bersamanya, aku akan terima. Aku tak akan memaksamu untuk tetap bertahan denganku" kata Devan dengan suara yang terdengar berat. Lelaki itu sudah nampak pasrah dengan kehidupan ruang tangga yang dijalaninya.
"Mas, aku bersumpah tidak melakukan semua yang kau tuduhkan. Aku tak sengaja bertemu dengannya. Tolong percaya padaku, mas" kata Vania memegang lengan kanan Devan agar luluh padanya.
Devan menepis pelan tangan Vania dari lengannya. "Aku terlalu kecewa dengan sikapmu, sudahlah... Aku lelah dengan semua ini. Pernikahan kita memang hanya karena paksaan tanpa didasari cinta darimu. Aku sadar akan susah bagiku untuk menuntut apapun darimu. Dan mulai hari ini, silahkan lakukan sesukamu" kata Devan tanpa menatap wajah istrinya kemudian pergi keluar dari kamar.
__ADS_1
"Mas, tunggu" panggil Vania agar suaminya berhenti. Vania keluar mengejar Devan yang sudah lebih dulu pergi tanpa mengucap sepatah katapun pada Bu Tini. Namun lelaki itu tetap acuh dan pergi meninggalkan rumah dengan penuh kekecewaan.