Cinta Vania

Cinta Vania
Terkejut


__ADS_3

Waktu liburan Devan telah usai. Hari ini juga ia harus kembali ke London untuk melanjutkan studinya. Jadwal penerbangan pesawat yang akan ditumpanginya pukul 16.00 sore. Masih ada banyak waktu sebelum berangkat ke bandara karena hari masih pagi.


Pagi itu Devan menemui para sahabatnya. Setelahnya ia menuju rumah bu Wati dan pak Yanto untuk berpamitan. Meski berat, mereka bisa menerima kepergian Devan karena sebelumnya Devan pernah memberitahukannya. Devan memberikan sejumlah uang kepada bapak dan ibunya. Ia berharap kedua orangtua itu bisa memakainya untuk modal usaha warung sembako kecil-kecilan seperti keinginan bu Wati yang pernah disampaikan agar pak Yanto tak lagi bekerja sebagai kuli. Awalnya bu Wati menolak pemberian putranya itu. Namun, Devan terus memaksa mereka untuk menerimanya. Jumlah itu cukup besar. Bahkan lebih dari cukup jika digunakan untuk membuka usaha warung kecil-kecilan.


"bu, ini rejeki ibu. Tolong terimalah..atau aku tidak akan pernah kembali kemari" kata Devan sedikit mengancam


"jangan pernah bicara seperti itu nak...kamu harta satu-satunya yang kini kami punya, tolong jangan tinggalkan kami, sudah cukup kami kehilangan anak, kami tidak ingin hal itu terulang kembali. Tetaplah jadi putra kami tanpa membuat kami merasa tidak nyaman hiks hiks" tangis bu Wati mendengar ancaman Devan. Sementara wajah Pak Yanto sudah mulai memerah karena menahan tangis kesedihannya.


"nak, kami tidak butuh apapun... sudah dianggap sebagai orangtuamu saja kami sangat bersyukur. kami bahagia dan bangga memiliki putra sebaik kamu meskipun kamu bukan darah daging kami" kata pak Yanto bergetar karena mulai menangis.


Devan memeluk sepasang suami istri itu. Ia begitu terharu mendengar ucapan mereka.


"baiklah... kalau begitu Devan mohon kalian terima uang ini. Jangan pernah menolak pemberian seorang anak" kata Devan setelah melepaskan pelukannya.


Dengan penuh paksaan akhirnya sepasang suami istri itu menerima uang pemberian Devan dan berjanji akan menggunakannya untuk modal usaha dengan baik.


"bapak, jangan jadi kuli lagi. Devan nggak mau bapak jadi pekerja kasar. Kalian bisa saling membantu untuk menjalankan usaha ini" kata Devan menatap lembut pak Yanto


Devan mengambil ponsel milik Ditya dari dalam almari besar di ruang tamu yang pernah ia simpan saat acara pengajian di rumah itu.


"pakailah ponsel ini, aku sudah memindahkan kartu celluler bapak disini, pakailah untuk menghubingiku jika kalian rindu. Sebenarnya aku bisa saja membelikan yang baru, tapi aku yakin kalian akan menolak" lanjut Devan sambil menyerahkan ponsel di depan Pak Yanto.

__ADS_1


"tidak nak...ini kenang-kenangan Ditya. Kami akan memakainya sebagai pengobat rindu kami" kata pak Yanto menerima ponsel itu.


Devan berpamitan pulang dan menyiapkan diri untuk mengemasi barang-barangnya.


Waktu menunjukkan pukul 15.25. Devan diantar oleh ayah dan bundanya menuju bandara. Perjalanan menuju bandara makan waktu 20 menit. Mereka akan sampai seperempat menit tepat sebelum jam yang ditentukan.


"jaga dirimu baik-baik disana sayang" kata bu Dewi setelah mendengar pengumuman keberangkatan.


"iya bund, tolong bantu bapak dan ibu Devan jika mereka butuh sesuatu"


"itu pasti, apa kamu tidak ingin ayah juga melakukan sesuatu untuk gadis itu?" kata ayah Devan menggoda putranya


"aku tahu itu, ayah pasti akan melakukan apapun demi putra kesayangan ayah ini"


"baiklah, ayah akan memperjuangkan gadis itu. Kamu baik-baiklah disana" kata pak Satria.


Devan berjalan menuju terminal keberangkatan untuk menuju maskapai penerbangan yang telah dipilihnya.


Perjalanan menuju London memakan waktu 15 jam. Waktu yang begitu lama untuk berdiam diri di pesawat.


Sesampainya di London, Devan dijemput oleh asisten pribadinya yang bekerja di perusahaan cabang London. Ia bernama Ronald.

__ADS_1


Ronald adalah seorang pria bule berdarah indonesia dan London. Ayahnya adalah sepupu pak Satria yang diberi kepercayaan untuk menjaga dan mengembangkan perusahaan di London. Usia Ronald terpaut 5 tahun lebih tua dari Devan.


Sebelum Devan mengambil alih perusahaan di London, Ronald bertugas sebagai asisten pribadi orangtuanya sendiri. Namun karena kini posisi direktur utama dipegang oleh Devan dan ayah Ronald sebagai wakil direktur, maka Devan lah yang membutuhkan asisten pribadi sehingga posisi Ronald harus mendampingi Devan. Ronald dan Devan sangat akrab. Kedekatan mereka bahkan tidak seperti boss dan asisten, melainkan seperti sahabat karena mereka memang masih memiliki ikatan persaudaraan.


Ronald membawa Devan menuju apartemen milik Devan untuk beristirahat. Ronald menekan sandi aparten Devan untuk membuka pintu. Ya, Ronald tahu tentang sandi apartemen Devan. Selain untuk mempermudah kinerjanya juga untuk mengurus keperluan Devan selama lelaki itu masih tinggal di London.


Perjalanan yang begitu panjang membuat tubuh Devan butuh banyak istirahat untuk sekedar berbaring di ranjangnya yang empuk.


"istirahatlah dulu untuk hari ini, besok aku akan menjemputmu untuk ke kantor" kata Ronald setelah membantu membawakan koper Devan ke apartemen.


"iya, terimakasih banyak"


Ronald mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia berlalu meninggalkan apartemen Devan.


Hari itu masih pukul 08.20 pagi waktu setempat. Devan melepas kemeja yang dipakainya dan menggantinya dengan kaos oblong putih. Ia meraih benda pipih dari kantong celananya. Dicarinya kontak bunda dan ibunya untuk memberikan kabar bahwa ia sudah sampai dengan selamat.


Devan segera melempar tubuhnya diatas ranjang empuk yang begitu dirindukannya selama beberapa jam yang lalu. Perjalanan panjang membuat matanya mudah terpejam. Tanpa menunggu waktu yang lama ia sudah terlelap di alam mimpi.


Di tempat lain, bu Wati yang baru saja menerima panggilan dari putranya itu senangnya bukan main. Ia begitu bahagia dengan perlakuan Devan terhadapnya. Ia merasa putranya itu benar-benar menghormati dan menghargainya seolah-olah ia juga berperan sebagai orangtua sesungguhnya.


Senyum bu Wati seketika berubah tiba-tiba setelah mendengar suara seorang wanita mengucapkan salam.

__ADS_1


Bu Wati menoleh dan berjalan ke arah pintu hendak melihat siapa yang tengah bertamu di siang hari. Di Jakarta waktu menunjukkan pukul 14.20, karena perbedaan waktu di Jakarta dan London selisih 6 jam.


Ia terkejut saat mendapati ada dua gadis yang berdiri di depan pintu dengan membawa tas di bahu dan memeluk buku di dadanya dengan kedua tangannya. Mata salah satu gadis itu tampak sembab dengan wajahnya yang begitu sendu. Bu Wati mendekati mereka dan mempersilahkan masuk.


__ADS_2