Cinta Vania

Cinta Vania
Kamu juga mencintainya, kan?


__ADS_3

Vania mendengus kesal mendengar jawaban suaminya. Ia sudah lelah harus bolak-balik ke ruang ganti. Bahkan wajah Vania sudah nampak masam karena kesal.


"Ya udah coba yang ini..." kata Devan mengambil salah satu gaun yang baginya tidak terlalu terbuka dan menyerahkannya pada Nadya.


Vania dan Nadya kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun pilihan Devan. Tak lama kemudian Mereka keluar. Sebuah gaun warna skyblue dengan panjang selutut dan berlengan pendek. Ada hiasan pernak-pernik kecil dan bordiran bunga di bagian dada menambah kesan mewah di gaun itu. Vania nampak manis sekali mengenakan gaun itu membuat Devan tak berhenti menatapnya tanpa berkedip.


"Ehemm...Ehemm" Nadya berdehem bermaksud menyindir Devan agar berhenti menatap istrinya dan memberikan penilaian.


"Bungkus yang ini saja, Nad" kata Devan membuat Nadya melipat bibirnya karena senyumnya yang tertahan.


"Oke" jawab Nadya.


Nadya mengajak kembali Vania ke ruang ganti untuk membantu melepaskan gaunnya karena memiliki resleting belakang.


"Gue seneng banget lo bisa bersatu dengan Kak Devan. Dia sayang banget sama lo" kata Nadya sambil membantu Vania menurunkan resleting gaun.


"Gue masih ragu, Nad. Gue ngerasa terlalu tinggi karena memilikinya. Terlalu banyak wanita cantik di sekelilingnya yang mengharapkannya" Kata Vania


"Itu karena Lo belum juga mempublikasikan pernikahan kalian, lagian apa sih yang Lo tunggu? Bukankah dengan semua orang tahu kalian sudah menikah semuanya akan jadi lebih baik? Toh kak Devan juga bukan tipe lelaki yang mudah terpikat dengan wanita lain" Nadya melipat gaun pilihan Devan dan memasukkannya ke dalam goody bag.


"Nggak segampang itu, Nad. Gue masih butuh waktu untuk meyakinkan perasaan gue yang sebenarnya" kata Vania sambil memakai lagi baju yang sebelumnya.


"Tidak baik terlalu lama menunda. Jangan sampai ada pelukan lain yang membuatnya lebih nyaman dari saat bersama Lo... Atau Lo akan menyesal untuk selamanya. Ingat kesempatan tidak selalu datang kedua kali" Nadya menepuk bahu Vania. Seolah memberikan nasehat pada sahabatnya agar bisa bergerak cepat.


Sepanjang perjalanan menuju Bandung, Vania hanya diam menatap jalanan di sampingnya. Ia sibuk berperang dengan pikirannya dan perasaannya sendiri. Kata-kata Nadya masih terngiang jelas di telinganya. Ada rasa takut tersendiri baginya jika memang suaminya nantinya akan menemukan yang lebih nyaman darinya.


Sesekali Devan melirik ke kursi sebelahnya lewat kaca spion yang ada di bagian depan. Istrinya itu terlihat melamun.


"Yang" panggil Devan.

__ADS_1


"Hmm" jawab Vania menoleh. Namun suaminya itu justru tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Ada apa?" tanya Vania karena suaminya masih diam.


"Kenapa dari tadi diam terus?" tanya balik Devan.


"Emm...Aku hanya sedikit mengantuk" kata Vania sedikit berbohong.


"Ya sudah tidurlah dulu. Perjalanan masih satu jam. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai"


Vania mengangguk. Ia berusaha memejamkan mata meskipun sebenarnya tidak mengantuk. Ia hanya ingin mengalihkan pikirannya agar jauh lebih tenang. Awalnya ia hanya berpura-pura namun akhirnya mata tertutupnya membuatnya benar-benar tertidur.


Mobil yang dikendarai Devan telah sampai di sebuah halaman luas dari hunian mewah dengan empat pilar besar di bagian teras depan.


"Yang...bangun. Kita sudah sampai" tangan Devan menggoyangkan pelan lengan istrinya agar terbangun.


Vania menggerak-gerakkan matanya agar terbuka. Ia memperhatikan sekeliling. Ada dua orang yang sudah membantu menurunkan koper dari bagasi belakang mobil.


"Assalamualaikum, Oma....Aku datang" sapa Devan setengah teriak.


"Waalaikumsalam, tidak usah teriak. Disini bukan hutan" jawab ketus seorang wanita berambut pirang yang baru keluar dari ruang keluarga. Usia Wanita sudah tua tapi nampak segar dengan make up tipis di wajahnya dan penampilannya yang begitu anggun.


Devan terkekeh kecil mendapat omelan dari Omanya.


"Kamu itu ya... sudah lupa sama Oma sampai tidak pernah kesini" kata Oma sambil menjewer telinga cucunya.


"Ampun, Oma... Ampun" kata Devan melepaskan genggaman tangannya dari jari Vania kemudian ia mengatupkan kedua tangannya memohon ampun.


Oma melepaskan tangannya dari telinga Devan, "Kamu itu sama kaya ayahmu, terlalu sibuk sampai tak punya waktu buat Oma" kata Oma masih merasa kesal.

__ADS_1


Sejenak Oma melirik ke Vania. Oma lupa jika hari ini cucunya tidak datang sendiri.


"Ini istrimu?" tanya Oma ke Devan.


"Iya Oma, cantik kan?" jawab Devan sambil menarik turunkan alisnya sedang Vania tersenyum malu sambil mencubit pelan pinggang suaminya.


"Cantik lah... Kalau tidak cantik, tidak mungkin kamu sampai bela-belain pindah sekolah" jawab Oma masih sinis ke cucunya. Oma kemudian beralih mendekati Vania, "Selamat datang menantuku, Oma sudah dengar pernikahan kalian dari ayah mertuamu" kata Oma lembut ke Vania.


Vania mengangguk dan tersenyum kemudian mencium punggung tangan Oma. Oma membalasnya dengan memberikan pelukan pada cucu menantunya itu.


"Ayo sayang kita ke dalam" ajak Oma ke Vania smbil menggandeng tangannya.


"Oma... Aku?" tanya Devan sambil menunjuk dirinya sendiri karena merasa diabaikan. Sedang Oma hanya melirik malas ke Devan.


"Kalau udah ketemu yang begituan pasti cucunya dilupakan" kata Devan lemas.


"Biarin... Oma masih kesal sama kamu" kata Oma ketus membuat Vania menahan senyumnya karena pertengkaran kecil nenek dan cucu itu.


"Ya udah lah aku istirahat ke kamar dulu ya yang" kata Devan dan Vania mengangguk membiarkan suaminya istirahat karena ia yakin Devan pasti lelah.


Oma mengajak Vania menuju ruang keluarga. Mereka berbincang-bincang membicarakan masa kecil Devan sambil melihat-lihat album foto keluarga.


"Oma, emang bener dulu mas Devan pindah sekolah gara-gara Vania?"


"Oma masih ingat betul... Dia dapat telepon dari temannya katanya kamu pingsan waktu ospek. Nah, mulai dah setres tuh bocah. Langsung gusar dia kaya orang kebingungan. Karena Oma kasihan y Oma bilang, sudah kejar sana gadis itu... Jangan sampai diambil orang. Begitu..." Kata Oma mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam.


"Oma sayang banget ya sama Mas Devan"


Oma tersenyum lembut pada Vania, "Devan itu cucu Oma satu-satunya. Suamimu itu juga orangnya penyayang, tidak suka neko-neko. Setiap melihatnya, Oma selalu mendapatkan ketenangan karena wajah dan sifatnya semua menurun dari Opanya, suami Oma". kelas Oma tersenyum. "Itulah kenapa Oma selalu berusaha memberikan dan memastikan yang terbaik untuk cucu Oma" lanjutnya.

__ADS_1


"Iya, Oma". jawab Vania tersenyum


Oma meraih tangan kanan Vania dan meletakkannya diatas pangkuannya. Ia menepuk pelan punggung tangan Vania, "tolong bahagiakan cucu Oma, kamu juga mencintainya, kan?" tanya Oma dengan wajah yang berubah sendu.


__ADS_2