
"Nona, bisakah saya minta berkas kinerja karyawan?" pinta pak Romi.
Vania membulatkan matanya mendengar panggilan atasannya pada dirinya.
"Pak..." kata Vania pelan sambil merapatkan giginya karena takut didengar oleh Maya yang duduk di sebelahnya.
Romi yang mengerti maksud dari Vania itu mengangguk pelan sambil senyum.
"Ada apa pak, kenapa anda kesini? Anda bisa menghubungi saya jika butuh sesuatu" tanya Vania membuat Maya menoleh kearah suara.
"Nggak apa-apa Van, saya hanya mau jalan-jalan biar tidak bosan sekalian minta berkas kinerja karyawan" jawab pak Romi berusaha formal.
Vania menyerahkan map hijau kepada pak Romi. Dan lelaki itu kembali ke ruangannya.
Tak lama kemudian ponsel Vania bergetar, ada satu pesan masuk dari suaminya, "Bisa ke ruanganku?"
"Huh... Appaaaa lagi nih orang ada-ada aja" gumam Vania mendengus kesal.
"Kenapa Van?" tanya Maya menoleh yang melihat temannya bicara sendiri.
"Enggak mbak, ada orang ngirim pesan nyasar" jawab Vania sambil senyum.
"Oo..." Maya membulatkan bibirnya dan kembali fokus ke komputer yang ada di depannya.
Jari-jari Vania mulai menekan tombol alfabet yang ada di layar ponselnya untuk membalas pesan suaminya. "Nanti yang lain curiga, Mas".
Tak lama kemudian telepon di ruangan Maya berdering dari Pak Romi yang menyuruh Vania menyerahkan berkas ke ruangan Presdir.
"Van disuruh pak Romi ke ruangan pak Presdir anter berkas laporan yang kemarin" kata Maya.
Vania sudah tahu kalau ini hanya alasan saja. Ia mengambil sembarang berkas untuk dibawanya.
"Iya mbak..." katanya sambil berdiri.
Vania masuk ke ruangan Presdir setelah mendapatkan perintah dari pemiliknya. ia melihat suaminya tengah duduk di meja kerjanya sambil membaca tumpukan berkas dengan serius.
"Sayang, kemarilah" panggil Devan melihat Vania.
Vania berjalan mendekat. Ia berdiri di samping meja suaminya.
"Kesini Yang.." Devan menarik lembut tangan kanan Vania dan meminta tubuh itu duduk diatas pangkuannya.
"Mas, nanti ada yang lihat lho" kata Vania
"Hufttt... Bahkan untuk bertemu istriku saja aku harus meminta ijin dulu. Lagipula siapa yang berani masuk ruanganku tanpa ijin" kata Devan. "Aku sangat merindukanmu" lanjutnya sambil memeluk tubuh langsing yang ada di depannya.
"Baru juga berapa jam nggak ketemu , mas" kata Vania meletakkan berkas yang dibawanya ke atas meja.
__ADS_1
"Enggak tahu, kamu kaya candu buatku" katanya sambil mencium pundak istrinya yang tertutup kemeja kerja.
"Nanti aku ganggu kerja kamu lho" kata Vania sambil melirik tumpukan map diatas meja.
"Biarin... Aku terlalu lelah hari ini...Aku hanya ingin memelukmu biar aku kembali semangat" katanya tanpa melepaskan pelukannya sedikitpun.
"Baiklah..." kata Vania tersenyum. Ia membalas pelukan suaminya.
"Makasih sayang" Kata Devan sambil mengeratkan pelukannya. "Bentar lagi jam makan siang, temani aku makan disini ya... Bilang saja sama temanmu kalau urusanmu belum beres" lanjutnya.
"Ya sudah lepasin dulu, biar aku telepon mbak Maya dulu"
Devan melonggarkan pelukannya. Memberi kesempatan bagi istrinya untuk menghubungi temannya.
"Udah?" tanya Devan saat istrinya meletakkan kembali ponselnya di saku celana hitam yang dipakainya. Vania mengangguk pelan dengan senyuman khasnya.
Devan mengambil gagang telepon di meja samping. "Ronald, tolong pesankan makan siang untuk dua orang ya". Devan menutup kembali gagang teleponnya dan kembali fokus ke istrinya.
"Mas..." panggil Vania
"Hmmm" jawab Devan membenamkan wajahnya di punggung Vania
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"apa?"
"Bagaimana kamu bisa mencintaiku?"
"Sesabar itu kau memendam perasaanmu?
"maksudmu?" tanya Devan mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah Vania.
"Nadya bilang kau suka padaku sejak awal SMP" kata Vania membuat Devan malu.
"Sialan si Nadya. Harga diriku..." umpat Devan membuat Vania terkekeh.
"Kenapa?" tanya Vania senyum.
"Ya udah lah, yang penting sekarang kamu milikku, kamu wanitaku" katanya seolah tak ada orang lain lagi yang berhak memisahkan mereka.
"Mas, bagaimana kau bisa sesabar itu? Kau bahkan tahu dulu aku sangat membencimu"
Devan mengarahkan Vania agar menghadap padanya. Ia menatap istrinya dengan tatapan teduh. "Karena aku yakin kau jodohku" katanya yang diakhiri dengan lu*atan di bibir Vania.
Ciuman mereka terhenti saat terdengar ketukan pintu dari luar. Vania segera berdiri dari pangkuan suaminya dan merapikan kembali pakaiannya.
"Tenang saja, itu Ronald" katanya ke Vania yang terlihat cemas.
__ADS_1
"Masuk" kata Devan sedikit keras.
Ronald masuk ke ruangan atasannya. "Permisi, Tuan. Ini makan siang yang anda minta"
Vania mengambil kantong plastik dari tangan Ronald, "makasih mas Ronald"
"sama-sama, nona. permisi" Pamit Ronald kembali ke ruangannya.
Vania membawa kantong makanan itu ke sofa diikuti oleh Devan. Vania menyiapkan makan siang suaminya. Ada tiga macam menu dan dua box nasi yang di kemas di tempat terpisah.
'Mas, ini apa?" tanya Vania saat membuka masakan yang cukup aneh baginya.
"Oo.. itu jamur, yang. Enak lho, ini makanan andalan yang resto itu jual. Kamu harus coba" katanya sambil menyendok jamur dan mengarahkannya ke mulut istrinya.
Vania memundurkan wajahnya dan membungkam mulutnya dengan tangan kanannya. Kepalanya menggeleng cepat.
"Kenapa?" tanya Devan yang merasa aneh dengan tingkah istrinya.
"Aku takut susah nafas" katanya ketakutan.
"Kamu alergi jamur?" tanyanya. Vania membuka bungkamnya dan mengangguk cepat.
"Sorry...sorry... Aku sisihin aja kalau gitu"
"Nggak apa-apa, mas makan aja. Aku akan makan yang lain"
"Maaf ya, lain kali aku akan lebih hati-hati" kata Devan merasa bersalah.
"iya" jawab Vania senyum.
Dua sejoli itu menikmati makanan yang ada. Dilanjutkan dengan sholat berjamaah di ruang istirahat yang ada di dalam ruangan Devan. Devan sengaja membeli mukena jauh-jauh hari untuk istrinya dan meletakkannya di ruang kerja. Ia sudah menduga cepat atau lambat Vania akan berada di ruangannya saat jam istirahat.
Sementara di tempat lain, Maya yang sedang menikmati makan siangnya sendiri di kantin dihampiri oleh David.
"Mbak Maya tumben sendiri"
"Vania tadi disuruh pak Romi nyerahin berkas ke Presdir"
"Jam istirahat gini?"
"Enggak... udah dari tadi sebelum jam istirahat. Nggak tahu juga sampai jam segini belum selesai" katanya sambil makan.
"Kok aneh mbak..." David merasa curiga. Takut terjadi apa-apa sama Vania.
"Aneh gimana"
"Ya aneh aja, emang pak presdir sendiri enggak makan siang apa"
__ADS_1
"Ya mana aku tahu... Orang tadi Vania juga WA katanya belum beres. Udah ah aku nggak mau ngomongin beliau. Takut salah... Kalau asisten beliau dengar, bisa hilang pekerjaanku" kata Maya acuh.
David diam memikirkan tentang Vania. Ia takut terjadi apa-apa pada wanita itu. Namun ia tak berani menghubunginya karena akhir-akhir ini Vania seolah menghindar darinya.