
Pagi hari telah tiba. Vania terbangun dari tidurnya setelah kelelahan menangis.
Pagi ini ia bangun kesiangan. Ia melewatkan sholat subuh yang biasa ia kerjakan. Bahkan mama Karina tak membangunkannya.
Vania segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia menuju lemari pakaiannya. Dress selutut motif polka dengan warna pink dan blazer hitam lengan panjang menjadi pilihannya. Ia memoleskan bedak tipis dan lipgloss warna nude untuk menyempurnakan penampilannya agar terlihat natural dan manis dilihat. Ia juga menggunakan eyeliner untuk menutupi matanya yang sembab karena habis menangis semalaman.
Seperti itulah penampilannya saat akan keluar rumah untuk ke kampus ataupun sekedar jalan-jalan. Tak lupa ia meraih sling bag kecil yang terletak di atas meja belajarnya.
Vania menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Keadaan rumah begitu sepi. Hanya ada Bi Inah yang sedang bersih-bersih menyapu lantai.
"eh non Vania, tadi ibu berpesan sama bibi buat kasih tahu kalau non disuruh sarapan dulu" katanya setelah melihat putri majikannya turun.
"emang mama kemana bi?"
"ibu nganter bapak ke dokter non, tadi malam bapak bilang dadanya nyeri"
"jadi kak Adit ke kantor sendirian?"
"iya non.. e iya Den Adit nitip ini katanya buat non" jawabnya sambil menyerahkan kartu yang dirogoh dari kantong bajunya. Sebuah kartu identitas keluarga besar SA Group yang ia pinjam lewat telepon tadi malam setelah berselisih dengan papanya. Karena tanpa kartu itu Vania tidak akan mungkin bisa memasuki kawasan Gedung besar di perusahaan itu.
Awalnya Adit tidak kau menuruti permintaan adiknya karena Vania tidak mau memberikan alasan yang jelas. Namun dengan berbagai rayuan, akhirnya Adit mau meminjamkan kartu itu pada adiknya dengan satu syarat Vania tidak menggunakannya untuk hal-hal yang merugikan dirinya dan keluarga.
Muncul rasa sedih di hati Vania. Ia semakin merasa bersalah dengan kejadian tadi sore. Papanya sakit karena terlalu memikirkan perjodohannya. Tak terasa air mata Vania menetes di pipi mulusnya. Ia tidak tega melihat papanya sakit, apalagi semua itu karena dirinya.
"non....non...." panggil bi Inah membuyarkan lamunan Vania.
" eh iya bi" jawab Vania gelagapan
__ADS_1
"ayo sarapan dulu" ajak bi Inah
Vania kemudian berjalan ke meja makan Ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Karena lapar, ia memaksa makanan masuk ke dalam mulutnya meskipun sebenarnya tak berselera lagi untuk makan. Ia hanya tidak ingin jatuh sakit dan kembali merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Selesai sarapan, Vania memesan jasa taksi online lewat aplikasi smartphonenya. Ya, hari ini ia akan berangkat ke kantor SA Group untuk mencari Devan.
Vania berpamitan pada bi Inah setelah mendapatkan kabar dari supir taksi yang dipesannya sudah sampai di depan pagar rumahnya.
Vania keluar dari rumahnya menemui taksi pesanannya. Ia masuk ke dalam taksi dan memberitahukan alamat tujuannya.
Supir taksi itu melajukan kendaraannya melewati kerumunan jalan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Ramainya ibu kota memperlambat laju kendaraan yang Vania tumpangi karena macet.
Setelah lama melewati kemacetan jalan, dua jam kemudian taksi sampai di SA Group. Vania turun dari taksi dan berjalan memasuki gerbang SA Group. Ia disapa dan ditanya oleh security tentang identitas dan tujuannya.
Vania mengatakan bahwa ia adalah putri dari sahabat pemilik SA Group. Ia membuktikan dengan memberikan tanda pengenal berupa kartu identitas keluarga besar SA Group yang didapatkannya dari kakaknya.
Vania berjalan memasuki gedung besar yang menjulang tinggi itu. Ia mendekati dua wanita yang menjaga loby. Ia meminta waktu untuk bertemu dengan presiden direktur perusahaan yang tak lain adalah Devan.
Pihak loby segera menghubungi Lia sebagai sekertaris presdir untuk memberitahu. Lia menginfokan jika bossnya sedang tidak ada di kantor karena ada keperluan di luar negeri dan akan kembali lusa.
Vania akhirnya meminta pihak loby untuk memberikan nomor Devan yang bisa dihubungi. Namun lagi-lagi niatnya tak bisa terlaksana. Pihak loby tidak bisa memberikan nomor yang Vania minta dengan alasan bossnya itu tidak suka privasinya menyebar kemana-mana. Bisa dibilang bahkan para pegawai tidak ada yang punya nomor teleponnya. Karena jika ada yang mempunyai perlu dengan boss besar itu, maka mereka harus berurusan dengan Lia, bukan Devan.
Vania yang merasa kecewa karena tidak mendapatkan penjelasan apapun hanya bisa mendengus kesal. Sebenarnya ia bisa saja meminta nomor Devan pada kakaknya atau paling tidak minta bantuan pada Nadya untuk meminta nomor Devan dari Andre. Namun ia tidak ingin banyak yang terlibat dan mengetahui masalah yang dialaminya.
Vania berjalan keluar dari gedung SA Group dengan langkah gontai. Panasnya matahari seakan semakin membuatnya lesu karena kekecewaan yang ia dapatkan.
Vania keluar dari halaman gedung megah itu dan melewati gerbang. Ia berjalan menuju halte terdekat dan duduk disana.
__ADS_1
Banyak orang berkerumun di halte menunggu bus datang. Namun saat bus yang mereka tunggu sudah datang, justru terus terdiam dan tidak menghiraukannya hingga kerumunan itu mulai sepi dan hanya tertinggal dirinya.
Cukup lama Vania terdiam disana. Tak sedikit juga bus datang bergantian dan berhenti di halte tempatnya berada.
Vania memutuskan untuk pulang kembali ke rumah.
Setibanya dirumah, Vania merasa keadaan rumah begitu sepi. Hanya ada bi Inah uang sedang beberes membersihkan peralatan dapur.
"bi... Mama mana?" tanyanya memasuki ruangan dapur
"eh non, ibu lagi menemani bapak di kamar" jawab bi Inah
"mereka pulang sudah lama ya?"
"sudah tiga jam yang lalu non... kalau ibi baru saja masuk kamar, tapi kalau bapak sejak pulang tadi belum sampai keluar kamar. Tadi saja makan siang bibi yang antar ke kamar" jelas bi Inah
"oo...ya sudah Vania mau ke kamar dulu"
"non Vania tidak makan dulu?"
"nggak bi, Vania masih kenyang"
Vania berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Di dalam kamar ia menangis sesenggukan. Ia sedih merasa tidak diharapkan kehadirannya oleh papanya. Bahkan papanya seakan enggan untuk bertemu dan melihatnya. Papa Firman seperti lebih memilih mengurung diri di kamar untuk menghindarinya.
"Tuhan, seburuk inikah nasibku, setelah Kau ambil kebahagiaanku dengannya, kini kasih sayang papa yang mulai hilang semenjak kehadiran dia. Ya, Devan... karena dia hidupku hancur. Aku benci sama kamu... aku benci kamu Devan, aku tidak akan memaafkan orang sepertimu" umpat Vania dengan menangis sesenggukan duduk di ujung ranjang sambil tangannya meremas seprei ranjang hingga berantakan.
__ADS_1