Cinta Vania

Cinta Vania
Berikan aku kehangatan


__ADS_3

Devan kembali ke ruangannya. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya Lia sedang duduk menemani Vania di sofa ruangannya.


Lia yang melihat kedatangan atasannya langsung berdiri dan sedikit membungkukkan badannya memberi hormat.


"Kalau begitu saya permisi, pak" pamit Lia lalu pergi keluar dari ruangan bossnya setelah mendapatkan anggukan dan ucapan terimakasih.


Devan mendekati istrinya yang sudah mulai membaik. Ia merengkuh tubuh langsing itu dalam pelukannya. Berusaha memberikan ketenangan untuk istri tercintanya.


"Aku disini sayang, tenanglah. Semua akan baik-baik saja" kata Devan mengelus punggung dan menciumi pucuk kepala Vania.


"Aku takut, mas. Aku nggak mau ketemu dia lagi" kata Vania di sela-sela tangis ketakutannya.


Devan melepaskan rengkuhannya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya. Ia mencakup kedua pipi Vania. "Baiklah, kita pulang, ya" ajaknya lembut dan dengan cepat diangguki oleh Vania.


Devan mendaratkan ciuman di kening Vania. Meluapkan rasa sayang dan kekhawatiran pada istrinya. Ia tidak ingin wanita yang dicintainya tertekan karena ketakutan.


"Kita pulang bareng. Tinggalkan saja kuncinya di lobby, nanti biar mobilnya ada yang antar" kata Devan sambil mengaitkan jemarinya di sela-sela jari Vania.


*****


Sesampainya di rumah, Devan menyuruh istrinya untuk istirahat siang. Sementara ia akan menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja sebelah kamarnya.


Sudah dua jam Devan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ia kembali kamar dengan wajah cemas. Ia mendekati istrinya yang sedang tertidur.


"Yang" katanya pelan sambil menggoyangkan pelan lengan istrinya agar bangun.


Vania yang merasa terganggu tidurnya berusaha membuka mata. "Emm...ada apa mas?" tanya Vania dengan suara serak.


"Aku harus segera ke London. Dan aku mau kamu ikut bersamaku" kata Devan lembut dengan ekspresi memaksa.


"Kenapa mendadak sekali, mas?" tanya Vania yang merasa aneh dengan permintaan suaminya yang mendadak.


"Proyek pembangunan gedung baru di London mengalami masalah, sayang. Dan papa minta aku segera datang. Aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian disini. Aku akan merasa kamu aman jika bersamaku. Lagi pula kamu bisa sekalian ketemu bunda. Bunda sudah sangat merindukanmu"

__ADS_1


Vania bangun dari tidurnya dan duduk. Ia membenahi rambutnya yang berantakan dengan menguncirnya.


"Baiklah, kapan kita berangkat? Dan berapa lama kita berada disana?"


"Secepatnya, sayang. Kita akan berangkat secepatnya. Dan untuk berapa lamanya aku tak bisa memastikan. Makanya kamu harus ikut bersamaku. Aku sudah menghubungi Ronald untuk meminta pilot menyiapkan penerbangan kita" kata Devan yang begitu khawatir dan cemas.


"Aku akan segera bersiap, mas" kata Vania yang kemudian berdiri bergegas menuju kamar mandi.


******


Perjalanan jauh yang telah memakan waktu selama berjam-jam membuat Vania harus mengistirahatkan tubuhnya yang seakan remuk karena tidak terbiasa. Beruntung ia tinggal bersama mertuanya yang sangat menyayanginya dan menyambut kedatangannya kembali dengan baik.


Setibanya di mansion orangtuanya, Devan memutuskan untuk pergi ke lokasi pembangunan proyek langsung bersama ayahnya. Sementara Vania ia tinggal bersama bunda Dewi.


Selesai meninjau lokasi, Devan dan ayahnya menuju ke perusahaan untuk membicarakan rencana selanjutnya.


"Bagaimana semua bisa seperti ini, pa?" tanya Devan saat duduk di ruangannya bersama ayah Satria.


"Kenapa semuanya begitu tiba-tiba, pa. Padahal dua hari sebelumnya Paman Rehan sudah memberitahukan jika tidak ada kendala apapun" kata Devan. Ia mulai memutar otaknya berfikir. "Sepertinya ada yang tidak beres. Ada seseorang yang ingin menghancurkan proyek ini" lanjutnya.


"Jika proyek kita hentikan hanya sampai disini, kerugian kita akan sangat besar. Lebih baik kita lanjutkan dengan menambah modal. Kalau semuanya bisa terkendali, baru kita akan mencari tahu siapa di balik semua ini." kaya Ayah Satria memberikan saran ke putranya.


"Papa benar. Tapi aku tak mungkin mengeluarkan dana lagi, apalagi dengan jumlah yang sangat besar" kata Devan cemas.


"Kenapa kau harus khawatir mengenai dana, Papa bisa mengurusnya. Papa memang sudah menyerahkan semua urusan perusahaan sama kamu. Tapi bukan berarti papa akan diam saja melihat kamu dalam kesulitan seperti ini"


"Enggak, Pa. Ini proyek besar impian Devan. Devan ingin mengatasi semuanya sendiri" kata Devan menolak halus solusi dari ayahnya. " Devan akan menguras tabungan, sementara kurangnya nanti akan Devan pikirkan" lanjutnya sambil menyibakkan rambutnya kebelakang.


"Ya sudah, lebih baik kita pulang. Kau juga harus istirahat dulu" ajak ayah Satria ke Devan.


"Aku akan mandi sebentar untuk menyegarkan pikiranku, Yah" kata Devan.


"Ya sudah, ayah akan menunggumu di ruangan paman Rehan. Hubungi ayah kalau sudah selesai. Kita pulang bersama" kata Ayah Satria yang kemudian melangkah keluar ruangan setelah mendapatkan jawaban dari putranya.

__ADS_1


Sesampainya di mansion, Devan langsung menuju ke kamarnya dimana istrinya berada.


"Assalamualaikum" sapa Devan ke Vania setelah memasuki kamar.


"Waalaikumsalam... kenapa lesu, mas? Apa masalahnya begitu berat ya?" tanya Vania sedih ketika melihat wajah lesu suaminya pulang dari perusahaan.


Vania berjalan mendekat mengambil alih tas dan jas yang ada di tangan suaminya. Ia meletakkan barang-barang itu meja sofa yang ada di dalam kamar itu.


Devan mengangguk dan duduk di tepi ranjang sesaat setelah melepas sepatunya.


"Sayang, kemarilah" panggilnya ke istrinya.


"Ada apa?" tanya Vania berjalan mendekat.


"Duduklah disini" kata Devan sambil menepuk kedua pahanya meminta Vania agar duduk di atas pangkuannya.


Vania mengikuti permintaan suaminya. Tanpa ragu-ragu Devan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan membenamkan wajah di dada istrinya.


"Kenapa, mas?" tanya Vania lembut sambil mengelus rambut suaminya.


"Biarkan begini sebentar. Aku butuh pelukan ini. Aku merasa nyaman dan tenang seperti ini" kata Devan tanpa mengalihkan wajahnya.


Vania tak lagi menjawab. Ia membiarkan suaminya tetap pada posisinya untuk mendapatkan kenyamanan yang diinginkannya.


Hampir setengah jam Devan tak berpindah dari posisinya. Vania yang merasa khawatir dengan keadaan suaminya mencoba memberanikan diri kembali bertanya.


"Apa kau akan tetap seperti ini? Aku akan membuatkan minuman hangat untuk menenangkan pikiranmu" tanya Vania lembut.


Devan mengangkat kepalanya menatap wajah istrinya. "Disaat seperti ini aku hanya butuh kamu, yang. Berikan aku kehangatan" kata Devan penuh maksud. Entah mengapa pikirannya yang kalut membuat nafsunya memuncak saat mencium wangi tubuh istrinya.


"Jika itu mampu menenangkan pikiranmu, baiklah" kata Vania pelan.


Tanpa aba-aba Devan langsung menyerbu bibir ranum istrinya. Vania yang terkejut dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba hanya membulatkan matanya. Namun sesaat kemudian ia mulai menikmati dan membalas ciuman bibir suaminya yang tak seperti biasanya itu dengan memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2