
Vania kembali ke kelasnya dengan menenteng kantong plastik berisikan dua air mineral untuk teman-temannya.
Sampai waktu pulang sekolah, Vania memutuskan untuk tidak pulang bersama Ditya. Dia ingintlmenghibur Nadya. Ia yakin akan ada solusi dari permasalahannya.
"oke kalau lu maunya istirahat dulu dari sekolah. tapi janji nggak boleh lama-lama.. cuma libur buat jumat besok. Senin nanti gue pinjemin uang buat bayar tunggakan dulu, selanjutnya gue bakalan minta bantuan papa buat bantu nyariin kerjaan. gimana?" kata Vania sambil berjalan menuju halte. Nadya mengangguk cepat dan tersenyum ke Vania.
Nadya merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Vania. Ia selalu mampu memberikan solusi yang tepat. Nadya melingkarkan tangannya di pundak Vania dari samping "makasih sayangnya aku....lo emang terbaik"
"lo itu udah kaya saudara gue sendiri, pokoknya janji lu harus selalu jujur ama gue" kata Vania.
"siap boss" jawab Nadya melepaskan tangannya.
Mereka sampai di halte tepat saat ada bus yang berhenti. Mereka menaiki bus itu dan memilih bangku kosong untuk duduk.
"Nad, kamu kenapa menjauh dari kak Andre?" tanya Vania tiba-tiba yang membuat Nadya terkejut dan menoleh ke Vania.
"maksud lo?"
"iya.. tadi kak Andre cerita ke gue katanya lo minta dia buat menjauh, , dan juga, lo blokir semua akses tentang dia y?"
"emmm....iya Van jawab Nadya pelan dan menunduk.
"kenapa?"
"nggak apa-apa kok...udah ngomongin yang lain aja ya.." kata Nadya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Vania mengikuti kemauan Nadya seolah tidak ingin mengacaukan kembali mood kawannya yang sudah mulai membaik.
Nadya turun terlebih dahulu karena jarak rumahnya dari sekolah lebih dekat. Selang beberapa kilo kemudian Vania juga sampai di depan rumahnya.
Vania disambut oleh mamanya yang sudah menunggu di teras rumah sambil membersihkan taman bunganya.
"assalamualaikum ma...." sapa Vaniasedikit berlari ke mamanya.
"waalaikumsalam....kenapa pulangnya sore sekali nak"
"tadi nemenin Nadya dulu ma" Vania duduk di gazebo samping taman "eh ma, Vania kasihan sama Nadya, tadi tuh Nadya di panggil ke kantor karena tiga bulan udah nunggak SPP. Nah, kalau besok dia nggak bayar, dia nggak boleh masuk" lanjut Vania
__ADS_1
"kasihan sekali dia...orang tuanya nggak bisa bayarin?"
Vania menggelengkan kepala pelan "papanya udah lama libur kerja gara-gara sakit. Ibunya harus banting tulang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi biaya pengobatan dan sekolah adiknya"
"mama titip uang ke kamu deh, biar besok mama yang bayarin" kata mama merasa kasihan dengan sahabat anaknya. Ia merasa sedih dan tak tega mendengar penuturan putrinya. Tak dapat ia bayangkan jika putrinya yang mengalami hal itu.
"nggak usah ma..dia nya nggak mau dikasih. Rencananya, buat yang tiga bulan itu Vania pinjemin dari tabungan Vania.. Nah selanjutnya buat kelas XII nanti Vania mau obrolin sama papa biar bisa nyariin kerjaan yang sedikit ringan tapi gajinya cukup buat bayar biaya sekolah, syukur-syukur lebih buat nabung" jelas Vania panjang lebar
"mama bangga sama kamu sayang.. kamu semakin dewasa dan mampu menyikapi masalah. nanti kita obrolin sama papa. Tapi kalau nanti ada apa-apa, kamu harus tetep ngomong sama mama"
"iya mamaku sayang..."kata Vania memeluk mamanya.
Waktu makan malam tiba. Vania dan keluarganya sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap makan malam mereka. Selesai dengan kegiatannya, Vania membicarakan keinginannya dan papa menyetujui permintaan putrinya.
"Nanti papa carikan pekerjaan yang cocok buat dia ya.." kata papa tersenyum. Vania memeluk manja papanya sambil mengucapkan terimakasih.
"oo iya, malam minggu nanti kita semua gantian diundang sama pak Satria buat makan malam di rumah mereka" lanjut papa
"benarkah pa? wah...suatu kehormatan bagi kita diundang sama orang sukses seperti mereka" puji mama
"iya katanya sekalian mau ngenalin putranya sama kita" lanjut papa
"Vania ngikut aja pa"
"ya sudah....kalian kembalilah ke kamar. lanjutkan belajar dan istirahatlah" kata Papa .
Vania dan Adit bergegas menaiki tanga menuju kamar masing-masing yang letaknya bersebelahan.
****
Malam yang begitu singkat telah terlewat. Vania harus kembali ke sekolah. Ada yang berbeda hari ini, Vania harus duduk sendiri di bangkunya tanpa Nadya. Ya, hari ini Nadya memilih istirahat di rumah karena Senin baru ia bisa membayar biaya SPP. Vania merasa cukup kesepian meski ada Sherin dan Desi yang menemani.
Vania menghabiskan waktu istirahatnya sendiri di kantin karena Sherin dan Desi harus menyelesaikan tugas mereka. Sedang Ditya tengah mengikuti olimpiade kejuaraan matematika tingkat Nasional. Ditya memang anak yang pintar dan cerdas. Tak heran ia tidak begitu punya banyak waktu dengan Vania di sekolah karena harus mempersiapkan perlombaan yang akan dia ikuti.
Andre dan Devan yang memasuki area kantin melihat keberadaan Vania sendirian yang tengah menikmati bakso dan jus jeruk favoritnya sambil bermain ponsel. Mereka menghampiri Vania dan duduk di depannya.
"eh.." Vania terkejut mengalihkan pandangannya dari ponsel yang di genggamnya
__ADS_1
"ganggu nggak?" tanya Andre basa-basi sedang Devan hanya diam.
"enggak kog kak, kenapa?" tanya balik Vania meletakkan ponselnya di meja.
Vania lupa mengunci layar ponselnya. Devan yang melihat ponsel Vania, wajahnya berubah sendu saat mendapati ponsel Vania menyala dengan wallpaper foto kekasihnya.
"sebegitu cintanya dia pada kekasihnya" batin Devan dalam hati. Devan mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha untuk menutupi kesedihannya.
"kok seharian gue nggak lihat Nadya ya" kata Andre
"Nadya emang nggak masuk kak" jelas Vania
"kenapa? dia sakit? atau ada sesuatu yang terjadi sama dia?" tanya Andre menginterogasi
Vania tertawa kecil mendengar reaksi Andre "sebegitu khawatirnya ya sama pujaan hati" goda Vania
"ah lu Van, jangan bikin gue penasaran dong" sahut Andre
"Nadya lagi pengen bolos aja kok"
"nggak biasanya...gue yakin ada yang lo sembunyiin kan?" tanya Andre menatap tajam Nadya
"ih... bisa berubah galak juga kak? jangan bikin aku takut ih" goda Vania cengengesan membuat Devan menoleh ke arah Vania.
Devan terkesima melihat senyum manis Vania. Ini adalah kali kedua ia melihat senyum itu dari dekat setelah kejadian perpisahan sekolah dulu.
"Van, lo jujur donk... Gue udahberasa stress mikirin Nadya" kata Andre memaksa
Dengan berat hati akhirnya Vania menceritakan semua permasalahan Nadya bolos mulai dari pembayaran SPP sampai kondisi ekonomi keluarganya.
"tapi janji lho, kakak jangan pernah singgung hal ini sama Nadya, aku nggak mau dia semakin sedih" lanjut Vania
"hemm aku janji" kata Andre terdiam sebentar "biar gue aja yang ngurus pembayaran SPPnya" lanjutnya
"tapi kak...." Belum selesai Vania bicara, sudah dipotong oleh Andre
"nggak ada tapi-tapian. Dia nggak akan tahu. Bilang aja kalau itu uang pinjamanmu. Masalah pekerjaan, dia bisa kerja di butik mama di hari sabtu dan minggu. Gue minta tolong banget sama lo buat ngatur semuanya. Pokoknya gimana caranya dia nggak tahu kalau itu semua rencana gue" kata Andre panjang lebar
__ADS_1
"oke kak, aku ngerti" jawab Vania menganggukkan kepalanya pelan.