Cinta Vania

Cinta Vania
Belum juga sadar


__ADS_3

Pagi harinya Devan berpamitan kepada bapak dan ibunya untuk pulang dan menyelesaikan pekerjaannya.


"pak, bu, Devan pulang dulu. Hari ini Devan harus menemani ayah menemui klien penting, nanti kalau sudah selesai Devan akan balik kesini lagi" pamit Devan


"tidak perlu terburu-buru nak, kamu pasti capek, istirahatlah dulu di rumah..kalau nanti ada sesuatu ibu akan menghubungimu" jawab bu Wati dan Devan menganggukkan kepalanya.


Devan mencium punggung tangan kedua orangtuanya, kemudian ia pergi menjauh menuju parkiran mobilnya.


Sesampainya di rumah, Devan segera membersihkan diri dan bersiap-siap menemui ayah bundanya di meja makan.


"ayo sayang... kita sarapan dulu" ajak bu Dewi yang sudah duduk di meja makan bersama suaminya.


Devan duduk dan menikmati sarapannya. Suasana hening seketika. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu ke piring. Devan menyelesaikan makannya lebih awal diikuti oleh ayah dan bundanya.


"gimana keadaan saudara kamu itu? bunda sudah cerita semuanya sama ayah" kata ayah memulai obrolan


"dia belum sadar yah, kasihan ibu sama bapak, mereka terus menangis melihat kondisi Ditya" kata Devan pelan dengan wajah yang sedih


"nanti setelah kamu sama ayah berangkat, bunda akan menengok kesana sendiri" kata bunda


"iya bund" jawab Devan tersenyum.


"ya sudah kami berangkat dulu ya bund" kata ayah Devan beranjak sambil mencium kening istrinya.


"Devan juga bund" sahut Devan mencium pipi bundanya


"ya sudah kalian hati-hati"


****


Di rumah sakit, bu Wati mencoba menghubungi bu Karina. Ia menceritakan semua kejadian yang dialami putranya.


Mama Vania shock mendengar kabar dari calon besannya. Ia segera mengabari Suaminya yang saat itu masih bersiap untuk pergi ke kantor.


"mama harus bilang apa pada Vania pa" kata bu Karina sambil menangis


"mama tenang, nanti biar papa yang bilang ke Vania, dia pasti bisa menguatkan hatinya" kata pak Firman menepuk bahu istrinya.


Sepasang suami istri itu berjalan menuju meja makan. Tampak Adit yang sudah rapi dengan setelan jas lengkapnya sedang duduk menikmati roti bakar dengan selai coklat favoritnya.


"pagi pa, ma..." sapa Adit tersenyum."eh kog mama kaya habis nangis, ada apa pa?" senyum Adit yang tadinya mengembang berubah seketika.

__ADS_1


"adikmu mana Dit?" tanya balik pak Firman tanpa menjawab pertanyaan putranya.


" belum turun pa, ada apa sih, kok jadi serius gini" tanya Adit penasaran karena tidak menemukan jawaban apapun


"nanti kamu akan tahu sendiri" jawab papa pelan


Terdengar suara Vania sedikit berlari menuruni anak tangga.


"pagi papa, mama, kak Adit..." sapa Vania bersemangat saat berjalan menghampiri mereka untuk ikut sarapan bersama


"pagi sayang, kamu nggak kuliah?" tanya papa Vania saat anaknya sudah duduk di kursi.


"kosong pa" jawab Vania santai sambil mengoles selai coklat ke roti bakarnya


"apa Ditya pernah menghubungimu?" tanya papa Vania


"sekarang jarang pa, sudah dua hari dia nggak ada kabar. Mungkin dia sibuk, Vania juga nggak berani menghubungi dia duluan. terus dia juga tiba-tiba ambil cuti kuliah dengan alasan apa urusan keluarga yang sangat penting" kata Vania melemah


"papa mau kasih tahu kamu sesuatu, tapi janji sama papa kamu akan menerima semuanya dengan sabar dan tenang, jangan sampai nanti ujung-ujungnya menyakiti diri kamu sendiri" kata papa Vania mencoba meyakinkan putrinya.


"apa itu pa...."


"janji dulu sama papa"


Keadaan meja makan begitu hening. Bahkan Adit memberhentikan sarapannya karena melihat wajah serius papanya. Pak Firman menghela nafas panjang sebelum memulai cerita.


"sebenarnya Ditya berbohong padamu"


"maksud papa?" tanya Vania terkejut


"ia tidak ada urusan keluarga apapun. Ia sedang sakit sekarang dan ia di rawat di ruang ICU Healthy Hospital karena sampai saat ini juga dia belum sadar"


"sakit? sakit apa pa? papa bohong kan? Ditya nggak pernah cerita apa-apa sama Vania" sahut Vania terisak


"itulah kenapa dia tidak pernah cerita. Dia tidak ingin kamu sedih. Dia mengidap kanker otak stadium lanjut. Dokter memprediksikan harapan untuk sembuh hanya 20%"


Tangis Vania pecah, ia mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Ia begitu kaget mendengar kabar dari papanya. Bu Karina yang melihat putrinya tampak stress semakin sedih.


"Vania mau ke rumah sakit sekarang" kata Vania beranjak


Pak Firman memegang pergelangan anaknya bermaksud menenangkan putrinya "kamu tenanglah dulu sayang, bukankan kamu sudah janji akan tenang dan sabar"

__ADS_1


"gimana Vania bisa tenang pa..sementara Ditya disana sedang sekarat"


"Papa ngerti sayang, papa hanya ingin kamu tidak stress karena masalah ini. Kamu putri papa satu-satunya, papa tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu"


Vania melemah mendengar ucapan papanya. Ia kembali duduk di kursinya. Air matanya tanpa henti membasahi pipi mulusnya.


"habiskan dulu sarapanmu, setelah itu mama yang akan mengantarmu ke rumah sakit" kata papa Vania lembut


"Vania udah nggak nafsu makan pa"


"papa tidak akan mengijinkan kamu pergi sebelum kamu menyelesaikan sarapanmu" kata papa tegas, namun dengan nada yang halus. Ia tidak ingin semakin menyakiti hati anaknya dengan kata-kata yang kasar.


Vania terpaksa menuruti perintah papanya. Dengan berat hati ia menghabiskan sarapannya. Bahkan ia menelan roti itu hampir tanpa mengunyah


Vania dan mamanya diantar oleh supir pribadi mereka menuju rumah sakit.


Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu hampir dua jam. selama di dalam mobil, Vania masih terus menangis. Ia begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa Ditya. Ia tidak bisa membayangkan sakit yang dirasakan kekasihnya itu.


Sesampainya di rumah sakit, ibu dan anak itu segera turun dari mobil dan menuju ke lobi untuk menanyakan ruang ICU tempat Ditya di rawat.


Mereka menaiki lift menuju lantai 5 rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari petugas lobi.


Di lantai itu hanya terdapat beberapa ruangan besar. Ruangan itu tampak seperti ruangan khusus untuk pasien dari keluarga pemilik rumah sakit.


Vania berlari kecil meninggalkan ibunya setelah melihat sosok ibu Ditya tengah duduk menunduk di ruang tunggu depan kamar ICU.


"Bu.." panggil Vania saat hampir mendekati bu Wati


"Vania, kamu sama siapa nak?" tanya bu Wati yang melihat Vania tampak cemas.


"Vania bareng mama, bu. Sebentar lagi dia akan datang"


Tak lama kemudian tampaklah bu Karina berjalan mendekati mereka.


"Bagaimana keadaannya bu?" tanya Vania memegang tangan calon mertuanya


"dia masih belum sadar nak" jawab bu Wati pelan. Kesedihan sangat nampak jelas di wajahnya.


"aku ingin melihatnya bu" kata Vania menangis


"kamu tenanglah sayang" kata bu Karina mengelus punggung putrinya.

__ADS_1


"iya nak, bapak sedang menemaninya di dalam. kita tidak diijinkan masuk lebih dari satu orang"


Vania mengangguk mengikuti arahan calon mertuanya. Mereka menunggu pak Yanto keluar ruangan dengan duduk di ruang tunggu.


__ADS_2