
Waktu terus berlalu. Hari ini adalah hari senin. Hari dimana para pekerja dan pelajar memulai aktifitas barunya. Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Vania berangkat ke sekolah berboncengan dengan Ditya seperti hari-hari sebelumnya. Semenjak berpacaran, mereka selalu berangkat bersama.
Sesampainya di parkiran sekolah jam menunjukkan 06.40. Jarak dari rumah ke sekolah tidak memakan waktu yang lama karena mereka beerangkat dengan motor yang mampu menghindari kemacetan. Vania terheran dengan kerumunan banyak siswi yang sedang berkumpul dan melihat ke arah gerbang sekolah.
Vaia berjalan cepat ke arah Nadya yang ikut berdiri diantara para siswi lain.
"eh Nad, ada apaan sih" tanya Vania menepuk bahu Nadya
"nggak tahu tuh, gue juga baru datang" jawab Nadya polos.
"wiiiihhhhh...keren bener tuh mobil" ucap salah satu anak yang berdiri disamping Nadya saat melihat mobil mewah yang memasuki gerbang itu memarkirkan mobilnya
Vania dan Nadya memutar kepalanya dan menoleh ke arah yang dibicarakan. Vania memicingkan matanya.
"kayaknya baru pertama lihat" kata Vania
"eh tapi kog jalannya dibelakang mobil kak Andre ya" sahut Nadya memberi sedikit jawaban.
Ditya yang baru kembali dari parkiran menghampiri Vania dan Nadya.
"kok pada masih diluar, ada apa?" tanya Ditya
" nggak tahu tuh anak-anak pada ngelihatin mobil baru itu. ya udah yu' kita masuk kelas aja" ajak Vania yang langsung melangkahkan kakinya memasuki kelas dan diikuti Nadya. Ditya menoleh sebentar ke arah mobil baru itu dan kemudian berjalan mengikuti teman dan kekasihnya.
Keadaan diluar kelas masih terdengar riuh ditelinga mereka bertiga. Namun mereka masih tetap tidak peduli dengan keramaian itu. Hingga Sherin yang baru sampai memasuki kelas dan duduk di bangkunya. Ia melihat ketiga temannya sedang mengobrol dan bercanda.
"eh udah tahu belum ada anak baru. dari belakang sih keren, macho.. sayangnya gue belum lihat wajahnya" kata Sherin heboh namun merendahkan suaranya di akhir kalimat.
"eh inget kak Irfan nggak lu ngomong gitu" kata Nadya menoyor pelan kepala Sherin.
"aduh mak" keluh Sherin memegang kepalanya
"lebay lu Sher, cuma gitu doang bilang aduh" sahut Ditya mengulum bibirnya menahan senyum
"ya inget lah mak...kak Irfan tetap prioritas diantara para cowok-cowok itu" jawab Sherin sambil melambaikan tangannya seolah mengusir.
"oo... jadi yang tadi itu anak baru" kata Vania manggut-manggut
"kenapa yang?" tanya Ditya menatap Vania
__ADS_1
"idiiih... yang udah yang-yangan nih ye...please deh jangan didepan gue" celetuk Nadya. Vania dan Nadya hanya terkekeh kecil mendengar keluhan Nadya.
Bel masuk berdering. Semua siswa dan siswi masuk ke kelas masing-masing. Vania dan kawan-kawannya mengikuti pelajaran dengan baik. Sedang di kelas lain, lebih tepatnya kelas Andre, para siswi sedang riuh ketika anak baru itu masuk ke kelas mereka. Anak baru itu adalah Devan. Ia meminta kepada pihak sekolah untuk di tempatkan di kelas yang sama dengan ketiga sahabatnya.
"selamat pagi anak-anak..." sapa pak Leo sebagai wali kelas yang kebetulan pagi itu mempunyai jam mengajar di kelas bimbingannya.
"pagi pak...." jawab anak-anak serempak
"hari ini sekolah kita kedatangan 3 siswa baru ya, yang salah satunya di tempatkan di kelas kita" lanjut pak Leo
Anak-anak di kelas itu mulai riuh dan berbicara sendiri. terutama para anak perempuan.
"tenang...tenang... Ayo silahkan perkenalkan dirimu" kata pak Leo
"makasih pak" sahut Devan membungkukkan sedikit badannya.
"halo teman-teman... perkenalkan Nama saya Devan Satria Atmadja. Kalian bisa panggil saya Devan. Saya pindahan dari SMAN Bandung" kata Devan memperkenalkan diri.
Ketiga sahabatnya hanya tersenyum melihat kearah Devan
"hai Devan" ucap salah satu siswi tercentil di kelas itu yang di soraki oleh seluruh ruangan.
Tiba-tiba seorang siswi lain mengangkat tangannya hendak bertanya "tinggalnya dimana Devan?"
"Saya tinggal di Jakarta" jawab Devan santai
"nomor HP donk" sahut salah satu siswi dan membuat kelas semakin riuh karena sorakan.
"sudah...sudah.... Devan bisa duduk di bangku kosong samping Reno ya" kata pak Leo menenangkan.
Devan berjalan menuju bangku yang dituju. Dia tersenyum bisa duduk sebangku dengan Reno alias Kribo sahabatnya.
Semua siswa dan siswi mengikuti pelajaran si kelas masing-masing sampai bel istirahat berbunyi.
Enam anak bergerombol menuju kantin. Mereka adalah Vania, Nadya, Sherin dan teman sebangkunya Desi, beserta Ditya dan Ricky teman sebangkunya.
Mereka menikmati waktu istirahat dengan makan dan nongkrong di kantin. Tiba-tiba terdengar suara para gadis sangat riuh dan berisik. Sontak membuat mereka berenam menoleh ke sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari pintu masuk kantin. Para gadis bersorak girang ketika melihat Devan dan kawan-kawannya memasuki kantin.
"iih..dasar para cewek gila..kayak nggak pernah lihat cowok keren aja" gumam Sherin ketus melirik ke para gadis itu.
__ADS_1
"bukannya tadi lu juga gitu mak" sahut Nadya
"tapi gue nggak segila itu mak...sampe teriak-teriak nggak jelas" elak Sherin membuat seisi bangku tertawa.
Tawa mereka cukup nyaring dan keras membuat Devan dan kawan-kawannya yang baru saja duduk menoleh dan melihat mereka. Seketika raut wajah Devan berubah sendu mendapati Vania terlihat bahagia duduk disamping kekasihnya. Andre yang melihat perubahan pada sahabatnya itu mencoba mengalihkan pembicaraan agar yang lain tidak curiga.
"eh nanti pulang sekolah PS di rumah gue gimana?" kata Andre
"wah..gue nggak bisa bro....gue ada janji sama cewek gue" jawab Bimo
"sama...gue juga mau nganter tante ke supermarket buat belanja" sahut Kribo
"yahhhhh....." Andre mengeluh karena kedua temannya tidak bisa."kalo lu bro?" lanjutnya bertanya ke Devan
"nanti gue temenin" jawab Devan singkat
"sipp....gue padamu bro.." kata Andre menepuk-nepuk bahu Devan pelan.
Devan sudah mengerti maksud dari Andre. Ia menoleh dan tersenyum ke arah Andre seolah mengatakan "gue baik-baik aja kok".
Sesekali Devan melirik ke Vania tanpa sepengetahuan teman-temannya. Ia melihat Vania tiba-tiba pergi sedikit menjauh dari teman-temannya. Ia sedang menerima panggilan. Hanya sebentar kemudian kembali ke tempat duduknya.
*******
Waktu semakin berlalu. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Anak-anak membubarkan diri dari kelas masing-masing menuju gerbang sekolah untuk pulang.
Vania sudah ditunggu oleh keluarganya yang sebelumnya sudah menghubunginya waktu istirahat. Hari ini mereka akan mengunjungi saudara ibunya yang habis melahirkan.
Sebelumnya Vania berpamitan dengan kekasih dan sahabatnya.
"gimana kalau kamu bareng Ditya aja Nad? kan dia sendirian" kata Vania menyarankan
" eh nggak usah" tolak Nadya halus.
"nggak apa-apa, daripada lu sendirian. mumpung Ditya juga nggak boncengin siapa-siapa, dia pasti nggak bakalan nolak. iya kan?" kata Vania ke Nadya yang kemudian menoleh ke Ditya. Ditya mengangguk pelan dan tersenyum.
"eh beneran nggak usah, gue sekalian mau ke toko sebelah halte soalnya buat ambil pesenan ibu" jawab Nadya
"oo..gitu.. ya udah gue tinggal nggak apa-apa ya" pamit Vania yang diangguki oleh yang lain. Ia bergegas menuju gerbang menuju mobil orangtuanya yang sudah menjemputnya. Kemudian diikuti oleh Ditya yang mengambil motornya untuk pulang.
__ADS_1