
Oma meraih tangan kanan Vania dan meletakkannya diatas pangkuannya. Ia menepuk pelan punggung tangan Vania, "tolong bahagiakan cucu Oma, kamu juga mencintainya, kan?" tanya Oma dengan wajah yang berubah sendu.
Vania terpaku sesaat mendengar pertanyaan dari Oma. Sedang tatapan Oma masih tak berpaling dari cucu menantunya untuk menunggu jawaban. Vania mengangguk pelan dengan senyuman manis di bibirnya.
Oma memeluk Vania karena saking bahagianya, "Terimakasih sayang" katanya lirih.
"Sama-sama, Oma" Vania mengelus punggung Oma dengan lembut. Senyum bahagia terus tersungging di bibirnya.
Devan dan Vania berangkat menuju lokasi resepsi pernikahan Sita.
Sesampainya di lokasi, tanpa diminta Vania merangkul lengan Devan membuat pemiliknya senang bukan main. Dengan begitu para lelaki disana tidak akan ada yang berani menggoda istrinya yang tampil begitu menawan dengan riasan make up flawless yang sangat cocok padanya.
Sepasang pengantin yang baru hadir itu menjadi pusat perhatian para tamu undangan karena penampilan mereka yang nampak serasi. Devan mengenakan kemeja dengan warna yang sama dengan gaun istrinya dilapis jas hitam yang dibiarkan terbuka senada dengan celananya.
Pesta pernikahan Sita digelar cukup mewah dengan konsep tanpa pelaminan. Sehingga sang pengantin bisa berbaur bebas dengan para tamu undangan yang hadir.
Devan mengajak Vania menuju kedua mempelai untuk mengucapkan selamat untuk para pengantin.
"Hai Dev.... Gila banget...aku yang nikah tapi kalian yang jadi pusat perhatian" sapa Sita senang saat melihat sahabatnya benar-benar datang menghadiri pernikahannya.
"Selamat ya... semoga kalian langgeng" kata Devan dengan senyumnya sambil menyalami kedua mempelai.
"Makasih ya Dev. kenalkan ini suamiku namanya Erick" kata Sita memperkenalkan suaminya.
Dua pasangan itu saling memperkenalkan diri masing-masing.
"Kau hebat...benar-benar mengajaknya" Kata Sita pelan ke Devan.
"Tentu, bukankah sudah seharusnya aku harus mengajak istriku ke acara seperti ini" jawab Devan dengan senyum tertahan.
"Istri? Benarkah?" tanya Sita terkejut dan Devan mengangguk cepat. "kapan? kok aku enggak tahu? Di media juga enggak ada pemberitaan apapun"
"Udah hampir dua bulan. Panjang ceritanya... yang penting kita udah sah dan diakui negara" kata Devan dengan senyuman khasnya
"Wah...kalau gitu selamat buat kalian juga ya..." kata Sita dengan senangnya. Ia memeluk istri dari sahabatnya.
__ADS_1
"Makasih ya" jawab Vania senyum setelah melepaskan pelukannya.
Sita dan suaminya pemit menjauh untuk menyapa para tamu undangan lain.
Waktu sudah semakin malam. Sebagian tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Devan yang melihat wajah Vania tampak lelah segera mengajaknya berpamitan untuk pulang ke rumah Oma.
*****
Vania dan Devan tengah berada di dalam kamar. Devan duduk bersandar di sandaran ranjang dan meminta Vania bersandar di dada suaminya. Mereka saling bertukar cerita sambil sesekali Devan mencium puncak kepala istrinya.
"Yang, boleh aku tanya sesuatu?" kata Devan sambil memasukkan jari tangannya di sela-sela jemari istrinya.
"Apa?"
"Apa perasaanmu padaku belum juga berubah?"
Vania terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Ingin rasanya mengatakan perasaan yang sesungguhnya. Tapi entah mengapa terasa berat hingga rasa ragu dalam hatinya selalu menang.
"Yang, kenapa diam?" tanya lagi Devan karena Vania tak menjawab.
"Lalu sampai kapan kita seperti ini?"
Vania bangun dan membalikkan badannya menatap suaminya. "Apa kamu sudah mulai menyerah, mas?" tanya Vania takut.
Devan mengangkat badannya agar bisa duduk tegak. Ia menatap dalam mata istrinya dan menarik kedua tangannya. "Aku hanya ingin memastikan apakah semua usaha yang telah aku lakukan mampu mengubah perasaanmu padaku. Tapi percayalah, aku akan selalu sabar menunggumu"
"Mas...."
"Aku tidak akan memaksamu jika tidak bisa menjawabnya sekarang" kata Devan penuh kekecewaan.
Vania diam. Ia merasa bersalah karena terus membuat Devan menunggu. Tapi ia juga tidak bisa terus seperti ini. Setiap.mengingat perkataan Nadya, selalu ada rasa takut akan kehilangan suaminya.
"Mas, tiga hari lagi pernikahan kita tepat dua bulan. Aku janji akan menjawab semuanya. Biarkan saat ini aku meyakinkan perasaanku dulu. apa kau keberatan?" tanya Vania.
Devan menggeleng pelan. Raut wajahnya berubah senang. Ia tersenyum dan mencium kedua punggung tangan Vania. Kemudian beralih ke kening istrinya.
__ADS_1
"Makasih sayang. . ." kata Devan lirih. "Sudah malam, ayo tidurlah. Besok pagi aku akan mengajakmu jalan-jalan" lanjutnya sambil menyelipkan rambut Vania ke belakang telinga.
Vania mengangguk dan mengikuti ajakan Devan. Tak lupa Devan memeluk Istrinya. Vania membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang tertutup t-shirt putih. Dengan begitu ia mampu merasakan detak jantung suaminya.
******
Pagi harinya Devan mengajak istrinya jalan-jalan keliling Bandung sambil menikmati tempat wisata dan perbelanjaan di kawasan Bandung seperti yang sudah ia janjikan.
Sepasang suami istri itu menikmati kencan pertama mereka setelah menikah. Hingga tak terasa mulai sore, Devan mengajak istrinya pulang karena harus bersiap untuk kembali ke Jakarta.
"Sering-sering kemari ya.... Oma akan sangat merindukanmu" kata Oma yang seakan tak rela Devan dan Vania pulang.
"Iya, Oma..." jawab Vania memeluk Oma.
"Udah, Yang. Jangan Oma yang dipeluk terus... aku juga butuh pelukanmu lho" kata Devan menahan senyum.
"Anak kurang ajar. Masa Omanya sendiri dicemburui" Marah Oma ke cucunya yang diikuti oleh tawa ketiganya.
"ya sudah... jaga kesehatanmu disana ya" kata Oma mengelus lengan Vania dan dibalas senyum oleh pemiliknya. " Jangan lupa buatkan Oma cicit yang banyak" bisik Oma ke telinga Vania.
Vania melipat bibirnya menahan senyum. Wajahnya sudah memerah karena menahan malu.
"Apaan sih pakai bisik-bisik segala" kata Devan kesal karena Oma dan istrinya main rahasia-rahasiaan.
"Ini urusan wanita. Kau diam saja" kata Oma ketus.
Devan mendengus kesal karena Omanya suka sekali mengerjainya. "Awas aja Oma kalau cerita yang enggak-enggak sama istriku, aku enggak ajak kesini lagi lho" ancam Devan menakut-nakuti Omanya.
"Ya Oma temuin ke Jakarta sendiri lah"jawab Oma santai.
"Selalu saja aku yang kalah" kata Devan pasrah membuat Oma dan Vania tertawa.
"Ya sudah kami pulang ya Oma" pamit Vania meraih tangan Oma dan menciumnya diikuti oleh Devan.
"iya, kalian hati-hati ya" kata Oma.
__ADS_1