
Devan tertegun menatap pemandangan indah di hadapannya. Istrinya memiliki tubuh yang sangat indah. Bahkan nyaris sempurna baginya. Lekuk tubuh dan Ukuran dada yang pas membuatnya tak berkedip terus memandangnya tubuh yang hanya tertutup lingerie transparan itu.
"Hentikan melihatku seperti itu. Jangan membuatku semakin malu" kata Vania kesal sambil menyilangkan tangannya di dada
"Maaf, sayang. Aku hanya belum percaya dengan semua ini" Devan melepaskan tangan istrinya yang menutup bagian dada.
Devan menelan salivanya memperhatikan tubuh istrinya dari atas sampai bawah. Ia melihat kaki Vania yang putih mulus tanpa tertutup apapun. Bahkan ia juga dapat melihat perut rata dan dada Vania dibalik gaun tidur yang transparan.
"Bukankah ini bukan pertama kalinya kau melihat tubuhku? kau bahkan pernah menikmatinya sebelumnya" kata Vania ketus membuat Devan salah tingkah.
"Lupakan, sayang. Waktu itu benar-benar diluar kesadaranku. Aku bersumpah saat itu tidak mengingat apapun" kata Devan.
Vania memutar bola matanya malas mendengar alasan suaminya.
Devan mendekati Vania dan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Vania. "Apa kau tak percaya?" tanyanya lirih dan Vania hanya menggeleng pelan. "huft... aku tak menyangka sesusah itu meyakinkanmu" lanjut Devan menyerah membuat Vania tersenyum kecil.
Devan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ia mulai mengecup bibir istrinya lembut. Perlahan ciuman itu berubah menjadi lu*atan yang dalam. Tangan kanan Devan meraih tengkuk istrinya membuat wajah Vania mendongak agar Devan lebih leluasa untuk mencium bibir ranum istrinya. Devan menggigit kecil bibir bawah Vania membuat pemiliknya spontan membuka mulut. Devan tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengabsen setiap inchi mulut Vania.
Melihat istrinya yang mulai kehabisan nafas, Devan menyudahi ciumannya. Ia beralih mencium kening Vania. Kemudian menyusuri leher jenjang istrinya. Ia mencium dan menghisap dengan bibirnya hingga meninggalkan banyak jejak kissmark di leher Vania yang putih bersih. Sedang tangan Devan tak tinggal diam. Ia menggerayangi anggota tubuh Vania yang lain.
Vania mendesah dan mengerang menikmati setiap sentuhan yang Devan berikan membuat gairah suaminya semakin meningkat.
Devan mengentikan ciumannya. Menatap lekat wajah Vania dengan penuh gairah dan nafsu.
"Bisakah kita melakukannya sekarang?. Aku janji tidak akan menyakitimu. Aku akan membuat kita saling menikmati malam ini" Kata Devan yang sudah tak bisa menahan gairahnya berbisik ke telinga Vania.
Vania merasa hembusan nafas Devan membuatnya bergidik geli. Vania hanya mengangguk pelan dengan tatapan sayu.
Devan membawa tubuh Vania menuju tempat tidur. Ia menindih tubuh Vania dan kembali me*umat bibirnya. Vania tak mau kalah. Ia juga membalas lu*atan suaminya dengan penuh gairah.
Devan melepaskan pakaiannya dan lingerie milik istrinya. Kini ia bisa melihat dengan jelas tubuh yang sudah menjadi miliknya. Ia mencumbu setiap inchi tubuh Vania. Vania merasakan aliran darahnya menjadi panas menyebar ke seluruh tubuhnya membuatnya mendesah serasa melayang antara sadar dan tidak.
Vania menarik tubuh suaminya agar menyudahi rangsangannya.
Devan kembali mencium bibir Vania. Sementara tangannya bermain di sekitar dada istrinya. kemudian beralih menggerayangi paha Vania dan bermain di area sensitifnya.
__ADS_1
Vania tersentak menahan desahannya karena mulut yang dibungkam oleh bibir suaminya.
Malam semakin larut membuat mereka semakin menikmati permainannya. Devan melepas ciumannya dan kembali menatap wajah Vania.
"Aku tak bisa menahannya sayang, aku ingin melakukannya" kata Devan meminta ijin untuk penyatuan mereka.
Vania mengangguk pelan mengiyakan permintaan suaminya.
Devan memposisikan diri dengan baik. Ia mulai mengarahkan kejantanannya yang dari tadi sudah mengeras ke Vania. Pelan-pelan ia melakukannya sesuai janjinya.
Vania semakin mendesah dan mencengkeram kuat punggung suaminya. Meski ini bukan pertama kalinya, Tetap saja Vania merasakan sakit di bagian intimnya. Devan memperlambat ritmenya agar Vania tidak merasa tersakiti. Devan membungkam mulut istrinya untuk mengurangi sakit yang Vania rasakan. Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa.
Malam yang dingin membuat dua insan yang sedang memadu kasih itu semakin bergairah dengan desahan dalam permainannya.
Entah sudah berapa kali mereka melakukannya malam itu. Kebiasaan Devan yang rutin berolahraga membuat nafsu dan gairahnya terus bangkit. Ia benar-benar membuat Vania terkulai lemas karena sudah menerkamnya tanpa ampun hingga Devan berulang kali mendapatkan pelepasannya.
Devan menyudahi permainannya saat melihat Vania sudah tak kuat lagi mengimbanginya karena kelelahan. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Devan berbaring di samping Vania. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan kembali memeluk Vania yang tampak lemas.
"Makasih sayang... aku mencintaimu" katanya lirih dan kemudian mencium kening Vania.
Mereka tidur dengan saling berpelukan. Vania merasakan kenyamanan dengan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
*****
Vania terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya sakit semua dan tulang-tulangnya berasa remuk. Diliriknya sekitar tak ada Devan disampingnya.
Vania segera bangun dan duduk. Ia melihat jam di dinding menunjukkan angka delapan.
"Astaghfirullah... Sesiang ini aku baru bangun" katanya terkejut sambil menepuk keningnya, "Dia pasti sudah berangkat ke kantor" lanjutnya bergumam sambil bergegas bangun. Ia berusaha menuju ke kamar mandi meski langkahnya sedikit gontai merasakan sedikit nyeri di bagian pahanya karena suaminya menerkamnya berulang-ulang.
Vania keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi dan menenteng tas kerjanya. Ia bergegas turun ke lantai bawah.
"Nona sudah bangun. Tuan sudah ke kantor lebih dulu dan berpesan untuk meminta anda segera menghubungi beliau setelah bangun" kata Bu Tini sambil mengelap piring.
"iya makasih, Bu"
__ADS_1
Vania mengambil ponselnya dari dalam tas. ia menekan nomor Devan untuk menghubunginya.
"Assalamualaikum... sudah bangun, yang?" sapa Devan setelah panggilan tersambung.
"Waalaikumsalam... kenapa nggak bangunin aku?"
"Kamu kelihatan sangat lelah. Jadi aku membiarkanmu untuk tidur lebih lama"
"Tapi kau membuatku terlambat datang ke kantor"
"Kau bisa libur dulu, sayang. Lagi pula Pak Romi tidak akan berani marah padamu"
"Nggak bisa, mas. Hari ini ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan"
"Ya sudah terserah maumu saja. Apa mau aku jemput?"
"Enggak usah. Aku bisa minta pak Amin untuk mengantarkanku"
"Baiklah hati-hati ya...jangan lupa tutup lehermu dengan syal"
"Syal? Buat apa?" Vania merasa bingung
"Apa kau tidak perhatikan lehermu di cermin?" tanya Devan menahan tawa.
Vania beralih menuju cermin yang ada di ruang tengah sambil masih menempelkan ponsel di telinganya. Ia sedikit membuka kancing atas kemejanya
"huh? Apa ini, kenapa banyak sekali" Vania terkejut melihat banyaknya stempel di leher dan dadanya.
Suara Vania membuat Devan yang ada di seberang telepon tertawa.
"Maaf, sayang. Kau membuatku tidak bisa menahannya tadi malam" katanya masih tertawa
"Kamu benar-benar menyebalkan, mas. Ya sudah aku ganti baju dulu" gerutu Vania kesal membuat Devan semakin tertawa.
Vania memutuskan panggilannya. Ia kembali ke kamarnya untuk mengganti kemejanya dengan atasan turtle neck ketat yang akan dilapisi blazer untuk menutupi c*pang di lehernya.
__ADS_1