
"cinta memang rumit. Terkadang kita harus merelakan apa yang kita inginkan untuk bahagia" kata Devan tiba-tiba
Vania menoleh ke sampingnya dan menatap pria yang ada di sampingnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"seperti yang kamu lihat. Aku berusaha merelakanmu meski sebenarnya sulit. Tapi sekarang aku menemukan kebahagiaan uang sesungguhnya. Melihat yang kita cintai bahagia tanpa memilikinya". katanya sambil menatap lembut gadis di sampingnya.
Vania merasa tidak enak hati dengan ucapan Devan. Ia menundukkan pandangannya.
"sudahlah...jangan pikirkan kata-kataku" kata Devan cepat karena menyadari gadis yang di sampingnya sedih.
"ayo minum kelapa muda ini" katanya sambil menyodorkan kelapa muda ke hadapan Vania untuk mengalihkan perhatiannya.
Vania mengambil kelapa muda utuh yang hanya di pangkas bagian atasnya itu untuk diminum.
Mereka mengobrol santai sejenak sambil bergurau. Kemudian Devan melepas sepatu dan kaos kakinya, ia mengajak Vania untuk mendekat ke tepi pantai.
"boleh, sepertinya menyenangkan" .
Vania juga melakukan hal sama, ia melepas sepatunya dan meletakkan tasnya diatas bangku.
Devan juga melepaskan dasi dan jasnya hingga tubuh kekarnya yang hanya tertutup kemeja biru muda itu nampak jelas. Devan membuka kancing atas melipat lengan kemejanya sampai siku. Penampilannya yang semula resmi berubah santai. Ia nampak semakin keren dengan penampilan barunya. Siapapun pasti terpikat dengan penampilan lelaki itu.
Devan mengarahkan tangannya di hadapan Vania. Berharap wanita itu mau menyambutnya dengan menggandeng tangan Devan.
Vania terdiam sejenak menatap tangan itu. Dengan ragu-ragu ia pun menerima ajakan itu. Ia menyelipkan tangannya diantara jari-jari tangan Devan. Keduanya tersenyum begitu manis. Ya, saat seperti inilah yang selalu dinantikan Devan.
Sepasang insan itu berjalan mendekati air laut. Mereka nampak serasi.
"kamu sadar nggak, orang-orang pada lihatin kita" kata Devan senyum karena melihat banyak mata memandang ke arahnya sambil berbisik.
Vania langsung menoleh ke kiri dan kanan.
"iya mungkin mereka pikir kita pasangan kekasih" kata Vania melipat bibirnya menahan senyum.
"bukan...itu karena baju kita yang tidak sengaja sama warnanya"
Vania menunduk melihat bajunya dan beralih melihat penampilan Devan. Benar saja, mereka sama-sama menggunakan atasan biru muda dan bawahan hitam.
"hahahahaha...." tawa mereka berdua karena merasa lucu sendiri.
Vania duduk berjongkok di pinggir air laut sambil memainkan air dengan tangannya. Wajahnya berubah sedih mengingat sesuatu yang menyakitkan hatinya. Ditya, bayangan lelaki itu selalu saja kembali muncul di saat yang tidak tepat.
Devan memperhatikan itu. Ia melipat celana panjangnya agar tidak terlalu basah dan berjalan mendekati air. Ia memercikkan air dari tangannya ke arah Vania berharap gadis itu sadar dari lamunannya dan kembali ceria.
Vania kaget dengan serangan mendadak dari Devan yang membuat wajahnya sedikit basah.
__ADS_1
"kak Devan....." teriak Vania kesal yang membuat Devan terkekeh.
Vania membalas perbuatan Devan dengan mengejar pria yang sudah lebih dulu berlari dan tertawa-tawa senang itu. Mereka bermain air sampai baju masing-masing sedikit basah.
Setelah lelah, mereka kembali ke bangku yang semula ditinggalkannya untuk mengambil barang-barang mereka dan pergi ke tempat bilas sebelum pulang.
Mereka keluar dari kawasan pantai pukul lima sore. Jalanan begitu padat karena bertepatan dengan warga yang pulang dari kerja. Vania meminta Devan untuk berhenti sejenak di sebuah minimarket untuk membeli sesuatu.
"kalau kau butuh minum biar aku saja yang turun. Tunggulah disini" kata Devan saat memarkirkan mobilnya tepat di depan minimarket.
"tidak perlu, aku saja yang turun" cegah Vania.
"sudahlah... kamu tinggal bilang mau minum apa"
"aku tidak mau beli minum"
"lalu? makanan ringan? atau....oh iya maaf aku sampai lupa kita belum makan sejak tadi" kata Devan menepuk keningnya sendiri karena merasa bersalah membuat wanita fi sampingnya lapar.
"bukan..." jawab Vania cepat, "aku mau beli pembalut" imbuhnya pelan dan menundukkan kepalanya karena malu.
"oh maaf"
"nggak apa-apa, aku turun dulu" kata Vania sambil memegang pegangan pintu untuk membukanya
"tunggu"
Devan mengambil dompetnya dari dalam saku celananya dan mengambil sebuah kartu kredit. Ia menyerahkan kartu itu ke Vania.
"pakailah ini, beli sesuatu yang kau butuhkan" katanya sambil menyodorkan kartu
"nggak usah, makasih... akan sangat berlebihan jika aku pakai ini, aku hanya mau membeli itu saja" tolak Vania sambil menggerakkan tangannya untuk membuat tangan Devan mundur.
Vania turun dari mobil Devan dan memasuki kawasan minimarket. Tak butuh waktu lama ia pun keluar dengan membawa kantong plastik hitam dan berjalan menuju toilet samping minimarket.
Selang beberapa menit kemudian ia kembali dan masuk ke dalam mobil Devan.
"maaf ya lama" kata Vania sambil menutup pintu mobil.
"nggak apa-apa kok, udah?" tanya Devan dengan senyumnya
Vania mengangguk membuat Devan kembali melajukan mobilnya.
"kita cari makan dulu ya..." kata Devan sambil fokus menyetir.
"langsung pulang aja gimana?"
__ADS_1
"enggak...kamu seharian belum makan lho, nanti bisa sakit kalau semakin telat"
"tapi aku belum lapar kok"
"aku nggak mau tahu pokoknya kamu harus makan dulu sebelum pulang" kata Devan yang seolah menjadi perintah baginya.
Ia pun mengangguk dan menurut karena tidak ingin perdebatannya dengan pria di sampingnya itu semakin panjang.
Mobil yang dikemudikan Devan sampai di sebuah kafe yang cukup mewah. Devan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan.
Mereka masuk dan memesan makanan ke pelayan kafe.
Mereka menikmati makanan yang telah diantar oleh pelayan.
Setelah makan, mereka keluar kafe. Devan mengantarkan Vania pulang ke rumahnya.
"emm Van..." panggil Devan yang ingin mengajak wanita di sampingnya mengobrol agar suasana dalam mobil tidak hening.
"ya" jawabnya tanpa menoleh
Devan terdiam tak melanjutkan bicaranya. Jujur ia kehabisan ide untuk memulai obrolan
"ada apa? kenapa diam?" tanya Vania menoleh. Ia heran dengan Devan yang sudah memanggilnya namun malah kembali diam setelah dijawab.
"enggak... cuma pengen manggil aja biar nggak sepi" jawabnya cengengesan sambil fokus menyetir.
"dasar aneh" kata Vania yang kesal karena merasa dikerjai.
"kamu seneng hari ini?" tanya Devan
"lumayan" jawab Vania singkat karena masih merasa kesal.
"jangan cemberut, jelek tau'.." ledek Devan sambil mengacak rambut atas Vania dengan tangan kirinya.
"iiiihhhh....berantakan ni" Vania merengek manja sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"sorry... kamu gemesin kalau cemberut gitu" kata Devan tersenyum membuat yang puji memerah pipinya karena merasa malu.
Mobil yang membawa mereka pun sampai di depan rumah Vania. Devan memasukkan mobilnya ke dalam halaman setelah dibukakan pintu gerbang oleh penjaga.
"aku nggak usah mampir ya...udah malam, sampaikan salamku untuk papa dan mamamu" kata Devan yang diangguki Vania dengan senyumnya
"makasih ya untuk hari ini" kata Vania dengan senyum lembutnya.
Devan mengangguk.
__ADS_1
Vania turun dari mobil dan menunggu Devan melajukan kembali mobilnya keluar halaman rumah.