Cinta Vania

Cinta Vania
episode 30 Gagal Bertemu


__ADS_3

Hari berikutnya


Malam ini keluarga keluarga Vania berkunjung ke rumah pak Satria sesuai undangan yang telah disampaikan.


Vania tengah bersiap-siap di kamar. Ia diminta oleh mamanya untuk mempersiapkan diri dengan baik mengingat mereka akan bertamu ke rumah orang penting. Selain bersahabat dengan papa Vania. Pak Satria juga merupakan seorang direktur utama sekaligus pemilik SA Group. Perusahaan besar yang mempunyai cabang di London. SA Group sebagai perusahaan induk yang salah satu anak cabangnya di pimpin oleh papa Vania. Tak heran orangtua Vania sangat menghormati dan menghargai keluarga pak Satria sebagai bentuk terimakasih mereka yang sudah memberi kepercayaan yang begitu besar sampai saat ini.


Tepat pukul 06.35 mereka berangkat menggunakan mobil. Mereka sampai 15 menit kemudian karena jarak yang tidak terlalu jauh dan situasi jalanan yang tidak begitu padat.


Rumah yang mewah di kawasan elit kota Jakarta. Dengan pagar yang menjulang tinggi dan halaman yang luas. Banyak mobil-mobil mewah terparkir disana. Adit dan Vania tercengang melihat kemewahan rumah itu.


Kedatangan mereka disambut baik oleh pak Satria dan istrinya. Mereka dipersilahkan masuk dan langsung menuju meja makan untuk menikmati makan malam terlebih dulu.


Sesampainya di meja makan. Semuanya duduk melingkar di meja masing-masing. Namun serasa masih ada yang kurang. Devan tak terlihat disana. Dia tidak bisa ikut menjamu tamunya karena sesuatu hal.


"oo iya putramu kok nggak ada" tanya papa Vania


"iya Fir, biasa anak muda...dia main di rumah temannya, tadi sih bilangnya mau pulang. coba bunda hubungi lagi" jawab pak Satria sambil menoleh ke istrinya


Bu Dewi beranjak untuk mengambil ponselnya. Ia berusaha menghubungi Devan namun tidak tersambung. Nomornya sedang diluar jangkauan.


Akhirnya mereka menikmati makan malam tanpa Devan disana.


Selesai makan malam mereka mengobrol santai di ruang tamu. Para laki-laki mengobrol masalah pekerjaan. Sedang bu Dewi, Vania dan mamanya sedang bercanda gurau. Mereka duduk agak menjauh dari para kaum lelaki.


"Kamu lulus nanti mau kuliah dimana sayang?" tanya bu Dewi


"belum kepikiran tante, masih kelas XI juga" jawab Vania tersenyum


"gimana kalau di luar negeri bareng anak tante? rencana putra tante mau ngelanjutin di London sambil belajar ngurus perusahaan ayahnya. Tante yakin dia mau dan bisa jagain kamu" kata Bu Dewi menyarankan


"makasih tante" tersenyum lembut "mungkin di dalam negeri aja tante" lanjut Vania menolaknya dengan sopan


"dia itu anak papa, nggak bakalan mau jauh-jauh dari papanya" sahut mama Vania menggoda putrinya


"oo gitu..." kata bi Dewi tersenyum manggut-manggut


"iii....mama bikin malu deh, masa diomongin segala" rengek Vania manja


Kedua wanita paruh baya itu tertawa bersama mendengar rengekan Vania membuat para laki-laki menoleh karena penasaran.

__ADS_1


"seru sekali sepertinya" kata pak Satria berjalan mendekati para wanita yang diikuti oleh papa Vania dan Adit di belakangnya.


Mereka duduk di dekat keluarga masing-masing.


"kita cuma lagi bercanda aja yah" kata bu Dewi masih dengan tawanya.


"Adit kalau sudah lulus nggak usah kerja jauh-jauh.. ikut bantuin papamu saja di perusahaan ya" kata bi Dewi menasehati


"iya tant" jawab Adit mengangguk dan tersenyum


"sebenarnya kami mau ngenalin putra kami sama kamu biar nantinya kalian bisa saling membantu di perusahaan" lanjut Pak Satria


" tidak apa-apa Sat, namanya juga anak muda. lagipula masih ada lain waktu kita bisa bertemu lagi" sahut ayah Vania


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.15. Para tamu itu memutuskan untuk berpamitan pulang karena sudah semakin larut.


_______


FLASHBACK DEVAN


Libur sekolah membuatku bosan hanya berdiam diri dirumah. Aku memutuskan untuk menemui Andre di rumahnya.


Aku berjalan menuruni anak tangga dan ku temukan bunda sedang sibuk di dapur dengan bi Siti dan bi Nani.


"sore gini kamu mau kemana?" tanya bunda menoleh padaku karena mendengar suara langkah kaki menuruni tangga


"ke tempat Andre bund" jawabku berjalan sambil membenarkan kerah jaketku


"tapi nanti kita mau ada tamu lho"


"Devan bakal pulang setelah maghrib bund" jawablu sambil mencium tangan ibunya


"ya udah hati-hati, jangan ngebut"


"siapp komandan" jawabku mengangkat tangannya sampai pelipis seperti orang sedang hormat.


Aku melajukan mobilku keluar gerbang rumah menuju tempat Andre.


Sesampainya disana, kami menghabiskan waktu dengan bermain PS. Hingga tak terasa waktu sudah maghrib. Aku bersiap-siap mengenakan jaketku untuk pulang. Andre mengantarku sampai di teras. Namun kepulanganku gagal karena mendapati ban mobilku kempes saat mau pulang.

__ADS_1


"ah sial" umpatku sambil menendang ban mobilku


"kenapa bro" teriak Devan karena melihatku tak kunjung masuk mobil


"ban gue kempes"


Andre berjalan menghampiriku dan menunduk mengamati ban mobilku.


"terus gimana, mana mobil gue di bengkel lagi" tanya Andre sambil menyentuh ban mobil yang kempes.


"coba gue ngomong bunda dulu deh" kataku sambil merogoh ponsel di kantong celanaku. Ku nyalakan ponselku namun tetap juga dalam posisi off. "ah sial, apes banget gue, udah lupa bawa ban serep, ini lagi ponsel mati gara-gara lupa charge" umpatku kesal karena ponselku kehabisan baterai


Tak lama kemudian ponsel Andre berdering. Andre menatap layar ponselnya tertera nama bunda Dewi.


"ini nyokap lo manggil" kata Andre sambil menyerahkan ponselnya . Aku mengambil dan mengangkat telepon itu.


Devan: "iya bund,ini masih sama Andre..maaf ponselku kehabisan baterai "


Bunda: __________


Devan: "ban mobilku kempesbbund, lupa bawa ban serep"


Bunda: ___________


Devan: "Kayanya Devan g bisa ikut makan malam sama teman ayah bund. bakalan lama nunggu tukang tambal ban"


Bunda: ____________


Devan: "iya bund, kalau udah selesai Devan langsung pulang kok"


Bunda: ____________


Devan: "iya bunda, waalaikumsalam"


Aku mengembalikan ponsel milik Andre setelah panggilan dari bunda berakhir.


"gue telponin tukang ban langganan papa dulu kalau gitu, kita tunggu aja di dalam" ajak Andre


Kami berjalan masuk rumah. Andre segera menghubungi tukang ban langganannya dan kami diminta untuk menunggu 2 jam karena dia sedang memperbaiki langganan lain. Kami pun akhirnya mengiyakan dan menunggu kedatangannya karena sangat sulit mendapatkan tukang ban yang mau bekerja malam hari.

__ADS_1


FLASHBACK DEVAN END


__ADS_2