Cinta Vania

Cinta Vania
Aku bisa membantumu


__ADS_3

Malam harinya, Devan benar-benar mengirim seorang wanita yang ditugaskan untuk menemani sekaligus mengawal Vania.


Wanita itu bernama Gita. Gita adalah orang kepercayaan keluarga Devan. Meski wanita, Gita memiliki perawakan yang tinggi dan berbadan kekar layaknya seorang bodyguard. Gita di tugaskan untuk selalu menemani dan melaporkan kemanapun Vania pergi dan apa saja yang dikerjakannya.


Pagi harinya setelah Devan pergi dari rumah, Ia berangkat ke kantor setelah semalaman menginap di hotel miliknya. Hari ini Devan berangkat lebih pagi karena semalaman tak bisa tidur memikirkan istrinya. Ia ingin melihat wajah wanita yang dirindukannya.


Devan memilih menunggu di dalam mobil agar bisa memperhatikan satu persatu pegawai yang datang. Namun hingga memasuki pukul sembilan siang, istrinya itu tak terlihat juga. Devan meminta Ronald untuk menanyakan pada pak Romi. Dan ternyata Vania sudah meminta ijin untuk libur sehari.


Devan segera menghubungi Gita untuk meminta kabar istrinya. Gita mengatakan sejak tadi pagi ia belum melihat wajah istri majikannya yang belum sampai keluar dari kamar.


Devan merasa ta tahan berlama-lama jauh dari Vania. Ia ingin pulang ke rumah dan menghampiri istrinya. Namun penolakan dari istrinya itu membuatnya harus mengurungkan niatnya. Ia harus terus bersabar menghadapi sikap keras kepala Vania.


Siang ini Devan tak bisa fokus dengan pekerjaannya karena memikirkan Vania. Ia melimpahkan semua jadwal kerja hari ini pada asisten Ronald.


Suara telepon berdering membuyarkan lamunan Devan. Ia meraih gagang telepon di meja sebelahnya yang bisa dipastikan panggilan dari Ronald.


"Iya, Ada apa?" tanya Devan datar.


"Maaf, tuan. Nona Stella memaksa untuk menemui anda. Saya sudah bilang anda tidak ingin diganggu. Tapi dia terus memaksa"


"Baiklah, biarkan dia masuk" perintah Devan kemudian memutuskan panggilannya.


Tak lama kemudian Stella masuk ke ruangan Devan dan duduk di kursi depan meja kerja pemiliknya.


"Mau apa lagi, bukankah seharusnya hari ini kau harus kembali ke London karena kontrak kerja sama kita berakhir?" tanya Devan dingin.


"Saya minta maaf atas perlakuan saya kemarin. Saya khilaf sudah berbuat yang tidak baik padamu. Tolong cabut kembali pembatalan kontrak kerja kita. Bukankah kita sama-sama butuh keuntungan besar ini?" kata Stella merasa bersalah. Ia memohon agar Devan kembali memikirkan kerjasama mereka.


"Ceh" desis Devan. "Butuh? Mungkin hanya kau yang lebih butuh sekarang. Aku tak peduli lagi dengan kerjasama yang kau bilang menguntungkan itu. Karenamu aku harus bermasalah dengan istriku" marah Devan menunjuk Stella dengan penuh emosi.


"Istri?" tanya Stella terkejut saat Devan menyebut kata istri.

__ADS_1


"Ya, aku adalah pria beristri. Dan wanita yang datang ke ruanganku itu adalah istriku"


"Tapi mengapa kamu tidak pernah mengatakannya? Dan tidak ada satupun pemberitaan tentang pernikahan kalian. Bahkan kamu diam saja saat berita tentang kita tersebar di media"


"Peduli apa kau tentang hidupku? Bukankah dari awal sudah ku bilang aku tak pernah mencintaimu dan lupakan apapun tentang perasaanmu padaku. Selama ini aku bersikap baik hanya untuk berusaha profesional dalam mengurus pekerjaan, Tidak lebih" kata Devan marah karena kehidupan pribadinya dicampuri.


"I'm sorry. Jika tahu kamu sudah berkeluarga, saya tidak mungkin memupuk perasaan ini lebih dalam" kata Stella menunduk. Kini ia menyesal sudah mendengarkan perkataan seorang wanita yang baru-baru ini dikenalnya. Wanita yang akhirnya menghancurkan kerjasama yang memberikan keuntungan sangat besar.


"Pergilah dari ruanganku, aku tidak ingin melihatmu lagi" Usir Devan tanpa menatap wajah wanita di depannya.


"Maafkan saya. Tolong sampaikan juga maaf saya pada istrimu" kata Stella lirih sebelum pergi.


Devan tak memeperdulikan perkataan Stella. Karena baginya seperti apapun ia menjelaskannya pada Vania, semua itu tidak akan berarti. Istrinya sama sekali tak mau mendengarkan penjelasannya.


Dengan langkah gontai, Stella beranjak keluar dari ruangan Devan.


____________________


FLASHBACK ON


Seusai pertemuan berakhir, Devan langsung pergi dan kembali ke kantor. Sedang Stella, wanita itu hendak beranjak bersama asistennya. Namun tiba-tiba datang seorang wanita menahannya.


"Hai Stella... Apa kabar?" sapa wanita itu.


"Apa kita saling mengenal?" tanya Stella heran. Ia merasa asing dengan wajah wanita di depannya. Tapi kenapa wanita itu justru mengenalinya.


"Tidak. Tapi kita pernah berada di pesta yang di adakan keluarga Devan beberapa tahun lalu untuk menyambut kesuksesan putra mereka waktu di London. Dan setelah ini kita akan saling mengenal. Aku Alline" kata Alline sambil mengulurkan tangannya.


Stella tak bergeming. Ia hanya menatap tangan yang menjulur di depannya.


"Kenapa? Apa kau takut padaku?" tanya Alline karena Stella tak juga bergerak.

__ADS_1


"Maaf saya tidak bisa berbicara dengan sembarang orang disini" Kata Stella yang kemudian berdiri hendak pergi. Ia mengabaikan uluran tangan Alline.


"Aku tahu semua tentangmu. Kamu adalah Presdir Royal Company yang akan bekerja sama dengan perusahaan SA Group. Dan aku tahu betul kamu mencintai presdirnya" kata Alline membuat langkah Stella terhenti.


Stella membalikkan badannya. Ia mengernyitkan dahinya menatap heran wanita di depannya. "Siapa kamu sebenarnya".


"Aku adalah orang Indonesia yang tinggal di London. Jadi aku tahu semua tentangmu" jawab Alline santai.


"Maksud kamu?"


"Bisakah kita duduk dulu?" ajak Alline agar ia bisa mengobrol dengan Stella.


"emm...baiklah" kata Stella ragu-ragu. Ia meminta asistennya untuk kembali lebih dulu karena ia akan tinggal sebentar di kafe itu bersama Alline.


Stella kembali duduk di meja yang tadi dipakainya dengan Devan. Begitu juga Alline, wanita itu duduk berhadapan dengan Stella terhalang meja bundar kecil.


"Ayo katakan, apa mau kamu?" tanya Stella yang tak ingin berbasa-basi.


"Santai saja Stella... Aku hanya ingin berteman denganmu" jawab Alline dengan senyum kecilnya.


"Waktu saya tak banyak disini. Saya tak bisa berlama-lama karena harus menyelesaikan pekerjaanku"


"Oke, baiklah" jawab Alline santai. "Aku tahu selama ini kau mencintai Devan" lanjutnya.


Stella menatap heran karena wanita di depannya itu tahu jika Stella memang menyimpan perasaannya pada Devan.


"Maaf, aku sering memperhatikanmu bertemu dengan Devan di kafe ini. Dan aku pernah mendengar kau mengutarakan perasaanmu padanya"


"Kamu penguntit?" tanya Stella dengan wajah tak bisa ditebak. Wanita itu nampak tak suka dengan sikap Alline.


"Bukan... Hanya kebetulan saja. Kalau kau mau aku bisa membantumu. Aku kenal baik siapa Devan. Aku berteman dengannya di London, dan bahkan kita satu kampus" ucapnya sesantai mungkin.

__ADS_1


"Membantu? apa maksud kamu dengan membantu?"


"Iya... Membantu mendekatkanmu dengan Devan. Aku bisa memberitahu cara agar kau bisa dekat dengannya" ucap Alline


__ADS_2