
Tatapan Devan melemah seketika berubah menjadi iba saat melihat air mata istrinya. Ia menggerakkan tubuhnya agar menghadap istrinya.
"Maafkan aku yang belum terbiasa menghadapimu, Jujur tak ada niat diriku untuk mengacuhkanmu. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang kalut setelah seharian ini berkali-kali berdebat denganmu. Kau tahu aku begitu mencintaimu, sakit sekali rasanya selalu mendengar penolakan darimu. Tak masalah jika kau belum bisa mencintaiku, tapi aku benci melihatmu begitu dekat dengan lelaki lain" kata Devan lirih.
"Lelaki lain? maksudmu?" tanya Vania bingung.
"Siapa lelaki yang bersamamu tadi di lobby?"
"Maksudmu David?" tanya Vania dan Devan mengangguk.
"Apa kau cemburu?" tanya Vania lagi
"Tentu, aku lihat dengan jelas bagaimana ia menatapmu. Apa aku salah mencemburui istriku sendiri yang begitu dekat dengan lelaki lain?" kata Devan sinis.
"Hey, ayolah...dia hanya temanku" kata Vania gugup. Devan bisa membaca jelas jika istrinya itu mencoba berbohong. Ia yakin ada yang disembunyikan oleh Vania darinya.
"Bagaimana aku bisa percaya kalian tidak ada apa-apa"
"kau mau bukti?"
"tentu saja"
"apa yang bisa ku buktikan untuk membuatmu percaya?"
"cium"
"isshhh...bukankah sudah dua kali kau melakukannya" kata Vania kesal
"Ciuman bibir" kata Devan cepat membuat kedua bola mata Vania membulat sempurna karena terkejut dengan jawaban suaminya.
"bagaimana?" tanya lagi Devan
"tapi..."
"ya sudah kalau tidak mau, aku tidak akan memaksamu" kata Devan berdiri. Ia merasa malas melanjutkan perdebatannya.
"tunggu" cegah Vania memegang pergelangan tangan Devan, "baiklah, jika itu bisa membuatmu percaya" lanjutnya melemah sambil menunduk.
__ADS_1
Devan tersenyum menyeringai mendengar jawaban istrinya. Ia tak menyangka Vania akan menyetujui permintaannya.
"apa kau melakukannya karena terpaksa?" tanya Devan menoleh ke arahnya
Vania menggelengkan kepalanya, "aku ikhlas" katanya lirih.
Devan duduk kembali di samping istrinya. Ia menatap lekat wajah cantik itu. Tangannya bergerak memegang tengkuk leher Vania. Devan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Vania.
Kuat-kuat Vania memejamkan matanya karena hampir tak ada jarak diantara mereka. Ia bahkan mampu merasakan hembusan nafas Devan yang begitu dekat dengannya.
Cukup lama Vania dalam situasi seperti itu hingga membuatnya bertanya-tanya karena Devan tak juga melanjutkan apa yang akan dilakukannya.
Devan terus memandangi keindahan ciptaan Tuhan yang ada tepat di depan matanya. Senyumnya mengembang seiring terpejamnya kedua mata yang ada di hadapannya. Hingga ia melepaskan tangannya dan menjauh dari wajah itu membuat pemiliknya terheran dan membuka mata.
"Cepatlah mandi, setelah itu kita makan" kata Devan dengan menahan senyumnya.
"Kau... kenapa senang sekali menggodaku" kata Vania sambil memukul lengan suaminya.
"Lihat wajahmu sudah memerah, apa mungkin kau benar-benar mengharapkannya?" tanya Devan dengan senyum menyeringai yang sontak membuat Vania menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa malu.
******
Tak terasa pernikahan mereka sudah menginjak usia dua bulan. Pernikahan mereka juga sudah diresmikan secara sah oleh kantor sipil. Vania mulai terbiasa dengan aktifitasnya sebagai seorang wanita bersuami.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, sepasang suami istri itu tidur di kamar terpisah. Vania lebih memilih tidur dan menyimpan barang-barangnya di kamar bawah agar tidak mengganggu aktivitas Devan.
Pagi ini seperti biasa mereka berangkat menuju kantor bersama. Vania turun di tempat yang sama seperti biasanya sebelum sampai memasuki area gedung kantor.
"Van..." panggil David saat melihat Vania akan memasuki lobby
"iya..." jawab Vania menoleh.
"aku mau ngomong sama kamu"
"lain kali aja ya Vid, aku buru-buru mau ke ruangan" kata Vania berusaha menghindar.
David dengan cepat menarik pergelangan tangan Vania agar gadis itu berhenti. Dan di waktu yang bersamaan, Devan memasuki lobby dan melihat adegan yang sangat tidak disukainya.
__ADS_1
Langkah Devan terhenti tepat di depan David dan Vania. Raut wajahnya berubah dingin dengan rahang yang mengeras membuat dua orang yang ada dihadapannya menoleh. Kemudian Devan membalikkan tubuhnya meninggalkan mereka menuju lift yang tak jauh dari sana.
Vania tahu betul suaminya itu sedang marah. Dengan cepat ia menepis tangan David dari tangannya. Wanita itu nampak serba salah dengan sikap Devan yang baru saja ia lihat.
"Kenapa kamu selalu menghindariku" tanya David
"Maaf Vid, aku harus segera ke ruanganku" kata Vania dengan nada bicara yang begitu dingin. Ia segera berlalu menuju lift dan menekan tombol yang dituju. Kali ini ia bukan ke ruangannya, melainkan ke ruangan suaminya.
"Nona, anda mau ke ruangan tuan muda?" tanya Ronald saat melihat istri tuannya berjalan tergesa-gesa melewati sepanjang koridor lantai khusus Presdir.
Vania mengangguk pelan dengan wajah yang nampak sedih, "Apa dia di dalam?" tanya Vania dan Ronald mengangguk.
"Hanya saja sepertinya beliau sedang tidak baik, entah apa penyebabnya. Tolong kembalikan mood baiknya karena hari ini ada rapat untuk pertemuan penting para petinggi SA Group"
"aku mengerti" kata Vania mengangguk pelan.
Vania memasuki ruangan Devan tanpa mengetuknya terlebih dulu. Ia mendekati Devan yang duduk membelakanginya di kursi kebesarannya.
"Kak..." panggil Vania pelan
"Aku masih ingat betul wajah pria itu, apa kau akan menjelaskannya lagi? sementara sudah jelas kulihat ia begitu dekat padamu" kata Devan tanpa menoleh. Ia sudah bisa menebak sebelumnya kalau Vania akan mengejarnya sampai ke ruangannya.
"Kak..." panggil lagi Vania. Kali ini ia lebih meninggikan intonasinya memberikan penjelasan bahwa apa yang dikatakan suaminya itu tidak benar.
"Apa kau akan bilang jika kalian ada hubungan khusus di belakangku?" Devan mengintimidasi istrinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang paling dibencinya.
"Itu tidak benar, Kak... ". Vania berusaha untuk menepis semua tudingan yang dilontarkan oleh istrinya.
Devan berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Vania. Ia sedikit membungkukkan badannya dan menumpunya dengan kedua tangan diatas meja kerjanya.
"Lalu apa? Aku salah lihat? Apa aku harus selalu mempercayai semua yang kau katakan? Atau aku yang kurang mengenalmu?" Tanya Devan yang tak mampu menahan emosinya, "Oo..aku mengerti sekarang, kenapa kau begitu bersikukuh untuk menyembunyikan pernikahan kita, karena lelaki itu kan? Kau tidak ingin dia tahu pernikahan ini agar kau bisa tetap menjalin hubungan dengannya... iya kan!!!" lanjutnya begitu marah.
"Kak, bukan seperti itu, aku bisa jelaskan semuanya" kata Vania menatap iba suaminya. Berharap lelaki itu mau mendengarkan penjelasannya.
"Sudahlah, pergilah... lakukan apapun yang kau suka, aku tak akan mengganggumu apalagi menahanmu" kata Devan pasrah dengan membalikkan badannya membelakangi Vania.
Spontan air mata Vania lolos begitu saja. Ia tak mampu menahan rasa sakit hatinya dan berjalan keluar dari ruangan Devan.
__ADS_1