
"urus mereka" perintah manager hotel pada pihak keamanan yang dibawa asistennya untuk mengurus kedua lelaki itu
Devan beralih pada wanita yang sedang menunduk dan menangis dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah.
Devan berdiri dan berjalan mendekati wanita yang duduk di tepi ranjang itu. Devan membuka jas yang dipakainya dan mengenakannya pada tubuh gadis itu karena sebagian bajunya terbuka.
Gadis itu membuka tangannya dari wajahnya. Wajahnya masih menunduk karena merasa ketakutan.
"tenanglah, aku akan membantumu" kata Devan pelan.
Devan duduk berjongkok tepat di hadapan wanita itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi saat wanita itu mengangkat kepalanya. Hati Devan bagaikan tersayat saat melihat wanita itu ternyata adalah Vania, gadis yang begitu dicintainya. Begitu pula Vania, ia terkejut setelah tahu Devan yang menolongnya. Tangisnya semakin menjadi di hadapan Devan.
Devan menenangkannya dengan memegang kedua tangan Vania yang bergetar karena ketakutan. Ia menggosok-gosok tangan Vania bergantian dengan kedua tangannya.
"tenanglah...aku disini, kamu akan baik-baik saja"
Vania tak bisa menghentikan tangisnya. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang membiru seperti bekas tamparan.
Wajah Devan memerah menahan emosi melihat gadis yang dicintainya begitu menderita. Ingin sekali ia menenangkan Vania dengan memeluknya erat. Namun, itu semua tidak mungkin. Dia tidak ingin semakin menyakiti perasaan Vania.
Tak lama kemudian terdengar suara beberapa derap langkah kaki berlari dari luar. Nadya dan ketiga temannya berlari menghampiri Devan dan Vania yang ada di ruangan kamar Leo. Mereka terkejut melihat Vania yang tampak kacau.
Nadya segera berlari menghampiri Vania dan memeluknya.
"maafin gue Van... maaf" kata itu terus terucap dari bibir Nadya sambil menangis.
Vania tak mampu berkata apa-apa. Bibirnya terasa kelu untuk berbicara karena merasa ketakutan. Ia hanya terus menangis dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Nadya melepaskan pelukannya. Ia menata Vania dan menangkup pipi sahabatnya dengan kedua tangannya.
"lo nggak apa-apa kan?" tanya Nadya khawatir.
Vania hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Nadya.
Semua orang yang ada disana merasa lega dengan jawaban Vania.
Devan meminta semua orang yang ada disana untuk bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Nadya dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Vania yang masih ketakutan tidak mau beranjak dari duduknya. Wajahnya nampak pucat dan tubuhnya menggigil karena ketakutan yang begitu besar.
Devan memutuskan untuk mengantar Vania pulang ke rumahnya karena tidak ingin keadaan Vania semakin parah. Ia meminta yang lainnya untuk menceritakan kejadian yang terjadi sebelumnya. Ia juga meminta teman-teman Vania untuk memaklumi keadaan Vania yang tak bisa mengikuti acara penelitian terakhir untuk besok karena keadaannya yang tak memungkinkan. Mereka pun mengiyakan perkataan Devan dan mengucapkan terimakasih atas semua bantuan lelaki itu.
Devan meminta tolong Nadya untuk mengemasi baranng-barang Vania yang ada di kamar hotel.
Nadya dan Nisha mengantar Vania yang masih mengenakan jas Devan untuk menutupi tubuhnya sampai di parkiran hotel. Mereka berjalan dengan Nadya memeluk kedua bahu Vania agar tidak tumbang dan Nisha yang memegang tangan kiri Vania. Sedang Devan berjalan di belakang mereka sambil membawa koper milik Vania.
Devan berpamitan pada Nadya dan Nisha setelah sampai di depan hotel. Salah seorang karyawan hotel mengendarai mobil yang dibawa Devan dan mengarahkannya tepat di depan Devan.
Devan memasukkan koper Vania ke dalam bagasi mobil. Vania memeluk kedua sahabatnya sebagai rasa terimakasihnya. Kemudian ia memasuki mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Devan dan duduk di kursi penumpang bagian depan.
Devan menutup kembali pintu itu dan berjalan menuju pintu dekat kemudi. Ia memasuki mobil dan menyalakan mesinnya. Kemudian melajukan mobilnya setelah menyalakan klakson tanda pamit.
Perjalanan menuju ke rumah Vania yang seharusnya memakan waktu satu setengah jam dapat ditempuhnya dalam waktu hanya satu jam karena tengah malam kondisi jalan sangat sepi. Devan bisa sedikit mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai.
__ADS_1
Di dalam mobil Vania hanya diam dan menatap kosong jalanan lewat jendela mobil yang ada di sampingnya.
Devan hanya sesekali memperhatikan wanita disampingnya lewat spion bagian depan mobil sambil fokus menyetir.
Lelah karena terus menangis membuat Vania tertidur. Devan merasa tenang saat melihat wajah damai gadis itu terlelap. Namun sesaat kemudian, ia terkejut karena melihat tubuh Vania tampak menggigil kedinginan. Devan menepikan mobilnya dan berhenti. Ia memegang dahi Vania dengan punggung tangannya.
"dia demam" gumam Devan
Devan segera mematikan AC mobil dan melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi.
Devan sampai di rumah Vania tengah malam pukul dua belas seperempat.
Devan menghubungi ponsel Adit karena tidak ada yang membukakan gembok pagar. Tak lama kemudian Adit dan seluruh anggota keluarga keluar karena merasa penasaran dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba pada malam hari. Adit membuka pagarnya dan mempersilahkan Devan memasukkan mobilnya. Semua orang yang ada disana merasa terkejut saat melihat Devan turun dan mengangkat tubuh Vania dari mobil dengan kedua tangannya.
"apa yang terjadi" tanya Pak Firman karena merasa cemas melihat putranya tak sadarkan diri.
"nanti saya jelaskan, biarkan saya masuk dulu membawa dia ke dalam" jawab Devan yang dengan cepat dipersilahkan oleh Pak Firman dan istrinya.
"Kak Adit, tolong bawakan koper di bagasi" teriak Devan sebelum berjalan masuk rumah.
Adit mengikuti perintah Devan untuk mengambil koper yang ada di bagasi Koper itu milik Vania. Adit semakin cemas dan penasaran dengan apa yang terjadi pada adiknya.
Devan membawa tubuh Vania masuk ke rumah diikuti oleh Pak Firman dan istrinya dari belakang yang nampak cemas. Mereka meminta Devan untuk membawa tubuh putrinya langsung ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Devan memasuki kamar Vania yang sudah dibuka lebih dulu oleh bu Karina yang berlari setelah menaiki tangga. Ia membaringkan tubuh Vania dan menyelimutinya dengan selimut tebal yang ada diatas ranjang.
Bu Karina yang merasa khawatir dengan keadaan putrinya segera mendekat dan mendekap Vania agar tidak semakin menggigil. Ia juga meminta bi Inah untuk membawakan air hangat untuk mengompres dahinya dan mengobati luka di pipinya yang lebam.
__ADS_1
Devan semakin tidak tega melihat tubuh gadis yang dicintainya tampak lemah. Ini pertama kalinya Devan melihat Vania separah ini. Tampak kemarahan dalam wajahnya.
"Bisakan kau jelaskan sebenarnya apa yang terjadi pada adikku" kata Adit sambil menyeret koper Vania setelah sampai di kamar adiknya.