Cinta Vania

Cinta Vania
episode 35 Jangan Cerita Apapun


__ADS_3

Ditya tersadar dari pingsan tepat tengah malam. Ia mencoba membuka mata pelan-pelan untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia mulai bingung berada di ruangan yang terlihat asing. Ia merasakan sakit pada tangannya yang terpasang infus. Ada ibunya yang tertidur dengan posisi duduk di kursi kecil dan menyandarkan kepalanya di tepi ranjang dan bapaknya yang meringkuk di kursi kayu yang tidak begitu panjang.


Ia mulai mengingat apa yang terjadi. Seingatnya dia baru pulang dari berjalan-jalan dengan kekasihnya. Sesampainya di rumah ia tak mampu lagi mengingat semuanya.


Ditya merasa haus. Ia hendak mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas. Ibu Ditya yang merasakan ada gerakan di tempatnya bersandar menjadi terbangun.


"kamu sudah sadar nak...apa ada yang sakit? yang mana?" tanya ibu Ditya cemas


"enggak ada bu..tidak ada yang sakit..aku hanya haus"


Ibu Ditya segera mengambil air yang ada di nakas dan menyerahkannya pada Ditya.


"pelan-pelan...baca bismillah dulu nak"


Ditya mengikuti perintah ibunya dan menghabiskan segelas air itu. Ditya menyerahkan kembali gelas kosong itu pada ibunya untuk diletakkan kembali pada tempatnya.


"apa yang terjadi Bu, kenapa aku harus di infus?" tanya Ditya penasaran


Ibu Ditya menceritakan semuanya dengan wajah sedih. Ia juga menyampaikan pesan yang dokter minta. Ia berfikir mustahil kalau harus menyembunyikan semuanya dari putranya karena lambat laun Ditya juga akan tahu semuanya.


Ditya menghela nafas berat mendengar penjelasan ibunya. Ia mengerti apa yang kini tengah dirasakan orang yang telah melahirkannya.


"ibu tenang ya,, Ditya pasti baik-baik saja. nanti masalah biaya untuk melakukan test, Ditya bisa cari" kata Ditya menenangkan ibunya yang terisak.


"tapi mau cari dimana nak,, biaya test itu nggak sedikit" kata ibu sesenggukan


"pasti ada jalan bu, sudah ibu istirahat lagi aja semoga sore nanti Ditya bisa pulang" jawab Ditya lembut


Ibu Ditya mengangguki permintaan putranya. Ia melanjutkan tidurnya. Namun tidak dengan Ditya, ia tak bisa lagi memejamkan matanya. Perasaannya kacau memikirkan kata-kata ibunya. Terlebih dia tidak ingin melihat Vania sedih karena mendengar berita tentang kesehatannya.


Ia ingin menghubungi Vania. Namun sayang tidak menemukan ponselnya. Ia baru ingat telah meninggalkan ponselnya jaket yang ia gantung di sebelah meja makan. Ia yakin saat ini Vania pasti tidak bisa tidur karena tidak ada kabar darinya sejak sore.


******


Vania mulai gelisah karena Ditya mengabaikan pesan dan panggilannya.


"kamu kemana sih Dit..kok nggak kayak biasanya..kenapa jadi nggak ada kabar gini" gumam Vania di kamarnya

__ADS_1


Mama Vania yang waktu itu melewati kamar Vania melihat putrinya yang terus berjalan mondar mandir di depan tempat tidurnya sambil memegang ponsel. Ia pun memasuki kamar Vania yang pintunya tidak ditutup


"kamu kenapa sih sayang dari tadi kaya setrikaan"


Vania menghampiri mamanya dengan wajah yang cemas " Ditya dari sore tidak bisa dihubungi ma"


"mungkin dia lagi kerja kali"


"hari ini dia ijin libur ma"


"mungkin dia lagi sibuk sayang.." kata mamanya menenangkan sambil membelai rambut Vania


"tapi nggak biasanya dia kayak gini ma, perasaanku nggak enak ma, aku takut ada apa-apa sama dia"


"kamu tenanglah dulu....mama tahu kamu khawatir. tunggu saja sampai besok, dia pasti menghubungi kamu sekarang kamu tidurlah"


Vania mengangguk meski sebenarnya hatinya tidak tenang. Mamanya pergi meninggalkan Vania setelah menenangkan putrinya. Vania mencoba berfikir positif meski berat baginya. Hingga waktu menjelang subuh, ia tak juga bisa memejamkan matanya.


Ia bergegas mandi dan menunaikan sholat. matanya mulai sembab karena semalaman tidak tidur.


"nomor baru menelepon sepagi ini, apa ada yang penting ya" gumam Vania menatap.layar ponsel yang di genggamnya. Dengan ragu ia mengangkat panggilan itu. Ia menggeser tombol hijau di layar androidnya dan menempelkan ponselnya di telinga tanpa bersuara.


"assalamualaikum,hallo yank..."


"Ditya, , waalaikumsalam " kata Vania senang setelah mendengar suara yang tak asing di telinganya " kamu kemana aja, kenapa nggak angkat teleponku? aku khawatir, takut kenapa-kenapa sama kamu" lanjutnya


"sorry sayank...aku lupa taruh ponselku dimana. ini juga pinjam pake HP bapak"


"tapi kamu nggak kenapa-kenapa kan?"


"aku baik-baik aja kok...kamu tenang aja, tapi maaf hari ini nggak bisa antar kamu kuliah"


"nggak masalah, apa nanti pulangnya aku mampir ke rumah kamu?"


"eh nggak usah yank... selama beberapa hari nanti mau ikut bapak ke rumah paman"


"kok dadakan banget?"

__ADS_1


"iya, ada acara keluarga. dan kami para kamu pria diminta untuk saling membantu"


"oo...ya udah kalau gitu,"


"ya sudah aku matiin ya....nggak enak sama bapak, assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Ditya mematikan panggilannya dengan Vania. Ia membohongi Vania agar kekasihnya itu tidak cemas dan sedih.


Sore ini Ditya sudah diperbolehkan dokter untuk pulang. Namun Ditya diminta tetap menjalankan prosedur dan perintah dokter untuk melakukan berbagai rangkaian tes yang sudah dijelaskan.


Sesampainya di rumah, Ditya diminta oleh orang tuanya untuk istirahat di kamar. Ditya mengambil buku tabungan yang ia simpan di laci almari pakaiannya.


Dilihatnya isi tabungan yang tidak begitu banyak. Ia menghela nafasnya berat. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi teman kerjanya, berharap bisa mendapatkan pinjaman untuk tambahan berobat. Beruntung dia dikenal baik oleh teman-temannya sehingga bisa mendapatkan pinjaman dengan mudah.


Ia menyerahkan kartu ATM pada ibunya setelah mendapatkan transfer uang dari temannya. Ia mencari keberadaan ibunya di dapur.


"bu, ini didalam ada uang sepuluh juta, nanti minta tolong bapak saja yang ngambil di ATM, biar besok kita bisa langsung melakukan tes" kata Devan santai mencoba menenangkan hatinya sendiri


Ibu Ditya menerima ATM itu dengan ragu-ragu


"dapat dari mana uang sebanyak itu nak?"


"dari tabungan Ditya bu, sama pinjam ke teman"


Seketika ibu Ditya menangis. Ia sedih dengan kerja keras dan pengorbanan anaknya. Sebagai orang tua mereka merasa selalu merepotkan putra semata wayangnya.


"maafin ibu sama bapak" tangisnya pecah di pelukan di pelukan Ditya


"nggak ada yang perlu dimaafin bu, Ditya bersyukur punya orang tua seperti kalian" jawab Ditya membalas pelukan ibunya.


"sudahlah bu, kita akan menghadapinya sama-sama. Doakan saja Ditya baik-baik saja. Bukankah doa seorang ibu lebih didengar oleh Allah" lanjutnya mengusap-usap punggung ibunya yang terus menangis.


Ibu Ditya melonggarkan pelukannya. Dia menatap putranya dengan tatapan sendu. "apa Vania tahu soal ini?"


Ditya menggelengkan kepalanya "jangan ceritakan apapun bu aku tidak ingin melihatnya sedih" kata Ditya yang diangguki pelan oleh ibunya.

__ADS_1


__ADS_2