
Kini Vania dan Devan sudah resmi menyandang sebagai suami istri meski hanya sah di mata agama.
Bu Dewi berdiri dari duduknya menghampiri Vania yang kini menjadi menantunya. Ia bergantian memeluk Vania dengan linangan airmata. Tak henti-hentinya ia mengucapkan terimakasih pada Vania karena sudah bersedia menjadi istri dari putranya. Ia juga menciumi wajah gadis itu sebagai rasa syukurnya.
Devan mendekati Vania membuat bu Dewi mengerti akan maksud putranya. Ia segera menjauh dan meninggalkan mereka untuk saling berbicara. Gadis itu nampak begitu kacau. Devan mencakup pipi Vania dengan kedua tangannya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kau tanggung jawabku sekarang. Aku janji besok akan mengurus pernikahan kita agar sah di mata negara" Kata Devan lembut yang diangguki oleh Vania.
Semua orang mulai sibuk dengan persiapan pulang.
Adit menemani jenazah papa Firman pulang bersama mobil jenazah. Sedang mobilnya dibawa oleh paman Teguh.
Pak Yanto dan istrinya pulang bersama orangtua kandung Devan karena Devan harus pulang bersama Vania dan mama Karina.
Sesampainya di rumah, para kerabat dan tetangga sudah memenuhi rumah pak Firman. Bahkan banyak mobil berjejer yang terparkir di sepanjang jalan.
Renata menyambut kedatangan mama mertua dan adik iparnya dengan tangis haru. Ia memeluk dan memberikan kekuatan pada mama mertuanya.
Tak lama mobil jenazah pun sampai di depan rumah. Para pelayat memberikan jalan untuk para pembawa jenazah agar bisa memasuki rumah.
Semua tamu sudah berkumpul. Mereka membacakan doa-doa dan surat Yasin untuk jenazah. Karena saking banyaknya pelayat, orang-orang itu sebagian berada di dalam rumah dan sebagian diluar.
Devan segera menghubungi Ronald agar datang karena nantinya setelah acara pemakaman ada sesuatu yang harus ia bicarakan padanya.
Bu Karina, wanita itu selalu mencoba untuk tetap kuat dan tegar meski sesekali air matanya tak bisa ditahan dan jatuh begitu saja. Ia ditemani oleh bu Dewi dan bu Wati mengaji untuk suaminya. Perasaan hancur dan sakit ditinggal orang terkasihnya tak boleh menjadi kelemahan baginya. Ia harus siap dan ikhlas dengan apa yang sudah ditakdirkan Tuhannya.
Vania masih sedih dan larut dalam tangisnya. Ia duduk di samping papanya ditemani Renata dan Nadya. Sesekali ia tak sadarkan diri sehingga membuat semua orang panik. Dengan cepat Renata meminta Nadya untuk memanggil Devan. Awalnya Nadya merasa aneh dengan permintaan kakak ipar Vania, Namun ia menepis rasa penasaran karena bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Ia pun segera berdiri dan memanggil Devan untuk membantunya.
__ADS_1
Devan setengah berlari saat mendengar perkataan Nadya. Ia cemas dan khawatir melihat kondisi Vania. Ia takut keadaan itu akan mempengaruhi kesehatannya.
Devan mengangkat tubuh istrinya diikuti oleh Renata dan Nadya menuju kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari ruang depan. Devan membaringkan Vania diatas kasur sambil mengelus ujung rambutnya. Sesekali ia mencium puncak kepala gadis itu sambil membangunkannya.
Nadya melihat pemandangan di hadapannya hanya terkejut dan menganga. Ia tak berani menegur ataupun bertanya. Renata yang menyadari raut wajah Nadya yang bingung mencoba untuk menjelaskan.
"mereka sudah menikah tadi di rumah sakit. Semuanya serba mendadak atas permintaan Papa" kata Renata lirih.
Nadya mengerti sekarang dengan perilaku berani dari Devan ke Vania. Ya, mereka suami istri, sah sah saja mereka seperti itu, apalagi saat kondisi yang seperti ini. Vania hanya perlu dukungan dan kasih sayang agar bisa melewati masa-masa sulitnya karena kehilangan.
Tak lama kemudian Vania tersadar. Gadis itu kembali menangis dengan bahu yang bergetar.
"dek... sudah ya... nanti kamu sakit lagi, kasihan Mama" kata Renaa lirih sambil mengusap tangan adik iparnya.
"istirahatlah dulu, kamu nggak usah keluar. Aku nggak mau kamu jatuh sakit" kata Devan lembut.
"aku mau menemani mama" pinta Vania dengan berlinang air mata
Vania mengangguk setuju.
Nadya dan Renata memapah Vania keluar kamar. Sedang Devan berada di belakang Vania berjaga-jaga jika tiba-tiba gadis itu ambruk.
Saat sudah sampai di dekat Mama Karin, Devan mendahului Vania berjalan dan berdiri didepannya.
"masih kuat?" tanya Devan yang dia gguki oleh istrinya.
" jika ada apa-apa, minta kak Rena atau Nadya untuk memanggilku" lanjutnya.
__ADS_1
"iya, kau kembalilah" jawab Vania pelan.
Devan keluar rumah menemui Ronald dan para tamu meninggalkan Vania.
Setelah serangkaian prosesi, tiba saatnya jenazah akan dikebumikan. Semua orang sudah bersiap masuk ke dalam mobil mengiring kepergian almarhumah.
Isak tangis megiringi kepergian almarhum. Devan membantu Adit untuk turun ke liang lahat menguburkan jenazah. Hingga tiba saatnya dimana Adit harus mengumandangkan adzan dan iqamah di dekat telinga jenazah. Adit menahan air matanya yang hpir jatuh. Suaranya bergetar menahan tangis. Suasana haru menyelimuti pemakaman waktu itu.
Mama Karin hanya diam menatap pusara suaminya saat paman Teguh memimpin doa. Sedang Vania, ia menangis histeris hingga pingsan.
Devan yang melihatnya segera mendekat dan membopong tubuh istrinya keluar area pemakaman menuju mobilnya yang terparkir.
"sayang, bangunlah... jangan seperti ini" Devan tak mampu membendung kesedihannya. Air matanya lolos begitu saja melihat wanita yang dicintainya lemah tak berdaya. Bunda Dewi yang menyusul putra dan menantunya itu membantu membangunkan Vania dengan memijat lembut telapak tangannya. Namun wanita itu tetap tidak sadar.
"bagaimana kak? belum sadar juga?" tanya Nadya uang baru datang dan Devan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Raut wajahnya nampak begitu khawatir memangku kepala istrinya.
Hingga beberapa pelayat kembali menuju parkiran, Vania belum juga sadar. Mama Karin menyuruh Nadya agar Devan membawa Vania pulang terlebih dulu bersama Renata. Sedang ia dan Adit masih akan berada disana menyelesaikan doanya.
Devan ditemani Renata dan Nadya pulang ke rumah terlebih dulu dan disusul oleh bunda dan ayahnya.
Sesampainya di rumah, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Devan menidurkan Vania di sofa keluarga agar tidka terlalu pengap karena ruangannya terbuka. Dengan sabar ia menunggu istrinya bangun. Dirinya begitu panik dan cemas dengan keadaan Vania.
Tak lama kemudian Vania kembali sadar. Devan segera memeluk tubuh istrinya untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan disana.
"Aku mengerti kesedihanmu, tapi tolong jangan seperti ini lagi, atau aku bisa gila karena panik dan khawatir melihatmu seperti ini" bisik Devan lembut di telinga istrinya.
Vania melonggarkan pelukannya. Ia mulai nampak sedikit tenang dari sebelumnya.
__ADS_1
Devan mencakup wajah Vania dengan tangannya "ingat, kau pun juga harus memberikan kekuatan bagi Mama, jika mama bisa kuat, kau pun juga harus begitu"
Vania mengangguk pelan meski air matanya masih mengalir. Devan kembali memeluk istrinya.