
Jangan lupa like, Vote, dan komentar ya...
*T**erimakasih*....
Salam sayang selalu.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vania meneteskan air mata mendengar perkataan suaminya. Ia merasa bersalah karena apa yang dikatakan suaminya semuanya benar. Tapi tuduhannya dengan David sama sekali tidak benar. Dan bukankah dari awal Devan menyetujui permintaanya itu.
"Jika kau menganggap dirimu sebagai seorang istri, ayo cepat layani suamimu ini" kata Devan sambil menarik kasar pergelangan tangan Vania dan memaksa istrinya untuk mengikutinya berjalan menuju kamar lantai bawah yang ditempati oleh Vania.
Ingin sekali Vania menepis telapak tangan Devan yang melingkar di pergelangan tangannya. Namun sayang, tenaganya kalah kuat dengan suaminya.
"Kak, lepasin...sakit" kata Vania sambil ikut memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
Devan tak bergeming dengan Vania yang meronta kesakitan Karena tangannya yang ditarik kasar. Ia berjalan cepat menuju kamar bawah yang ditempati oleh Vania. Ya, lelaki itu mabuk berat ditambah rasa sakit di hatinya, seolah memenutupi kesadarannya.
__ADS_1
Devan membuka pintu kamar Vania dan menghempaskan kasar tubuh istrinya ke atas kasur.
Vania jatuh tersungkur diatas kasur miliknya. Ia menangis karena menahan sakit di tangannya. Dan ia juga takut melihat suaminya yang berubah kasar. Ia yakin betul suaminya itu sedang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya karena mabuk.
Devan melepaskan jas yang menempel di tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah. Ia berjalan mendekat Vania yang meringkuk diatas ranjang karena ketakutan.
"Kamu mau apa, Kak...." tanya Vania menatap iba suaminya. Berharap Devan bisa segera menyadari perbuatannya sebelum bertindak lebih jauh.
"Kak, jangan...." pinta Vania dengan deraian air mata. Ia meraih dan memeluk erat selimut yang ada di dekatnya.
Devan tak lagi memperdulikan perkataan Vania. Yang ada di pikirannya saat ini hanya menuntaskan apa yang seharusnya ia dapatkan dan memberi pelajaran pada istrinya yang telah menyakiti hatinya.
"Kak Devan, sadarlah...tolong jangan seperti ini" pinta Vania masih dengan tangisnya. Sementara suaminya itu seolah sudah tuli dan tak mendengar apapun yang diucapkan oleh istrinya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Vania. Vania meronta dengan mendorong dada bidang suaminya agar menjauh darinya. Namun dengan cepat Devan memegang kedua tangan Vania dan membuat wanita itu tak bisa memberontak.
Devan mencium kasar bibir Vania membuat pemiliknya semakin meronta. Ia menarik tangan Vania dan menghempaskan tubuh istrinya hingga posisi Vania terlentang. Dengan cepat Devan menindih tubuh istrinya dengan masih memegang kedua tangan Vania hingga pemiliknya tak mampu bergerak. Vania hanya bisa menangis dengan air mata yang mengalir deras. Devan kembali menciumi kasar bibir istrinya dan beralih ke leher. Dress selutut yang dikenakan Vania membuat Devan semakin mudah melakukan aktifitasnya. Tubuh Devan semakin memanas karena hasrat yang begitu besar pada wanita itu. Tanpa basa-basi lagi ia melepas celana yang dipakainya dan mengarahkan bagian tubuhnya yang sudah mengeras sejak tadi ke istrinya. Kasar sekali perlakuan Devan ke istrinya.
(Dipercepat aja ya... Author bingung nggak bisa bikin adegan panas. Takut yang baca ikutan tegang😁😁)
__ADS_1
Vania menangis hebat ditambah rasa sakit di area sensitifnya karena suaminya yang begitu kasar. Ia tak menyangka Devan mengingkari janjinya dan menyakitinya dengan cara seperti itu. Meski sebagai suami sah yang punya hak atas tubuhnya , tapi bukan berarti Devan memperlakukan dirinya dengan cara seenaknya seperti ini. Padahal jauh sebelumnya Vania sudah memikirkan waktu yang tepat baginya mengungkapkan perasaannya dan menempatkan diri sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Tapi yang terjadi justru diluar dugaan. Devan menyentuhnya dan mengambil keperawanannya dalam keadaan tidak sadar. Lelaki itu telah menyakitinya.
Rintik gerimis seakan menjadi melodi kecil dan saksi bisu penyatuan tubuh dua insan yang saling mencintai namun terhalang ego itu. Meski semua terjadi karena adanya paksaan, namun walau bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang sah dan berhak melakukan semua itu.
Devan mengerang hebat bersama benih yang ia tanam dalam rahim istrinya membuat pelupuk mata Vania semakin deras karena air matanya yang keluar.
Dalam waktu sekejap saja, Devan sudah tak sadarkan diri karena lelah. Ia tertidur dengan lelapnya diatas tubuh istrinya. Sedang Vania, ia masih menangis hebat dan berusaha menyingkirkan tubuh suaminya yang menindihnya. Ia mencoba bangun. Namun rasa sakit di bagian bawahnya membuat tubuhnya lemas. dan tak bisa bergerak. Vania memaksakan diri untuk duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Meski tak telanjang, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang sedari tadi di cengkeramnya. Ia kembali menangis dengan tubuh yang meringkuk dengan tangan dan kepala yang tertumpu pada lututnya mencoba meredam rasa sakit Yang ada di tubuh dan hatinya.
Hingga fajar menjelang, wanita itu masih saja terjaga dengan tangisan yang belum juga berhenti. Bahkan matanya nampak sembab karena terus mengeluarkan air mata. Ia tak lagi memperdulikan Bu Tini dan Pak Amin yang sudah datang yang mengerjakan pekerjaan hariannya. Begitu juga pasangan paruh baya itu. Mereka tidak akan berani menganggu aktifitas majikannya.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Wanita itu belum juga beranjak karena masih merasakan sakit yang tak tertahankan. Air matanya seakan tak ada habisnya jatuh membasahi pipinya.
Samar-samar suara isak tangis Vania terdengar di telinga Devan membuat pemiliknya mencoba menggerakkan matanya agar terbuka. Ia mencoba bangun dari tidurnya yang tengkurap. Kepalanya begitu pusing karena efek alkohol yang begitu banyak semalam. Saat mulai bisa memulihkan kesadarannya, ia terkejut mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam. Ya, dia mulai ingat sekarang. pengaruh alkohol membuat kesadarannya hilang hingga menyetubuhi paksa istrinya. Dengan cepat ia menoleh ke sisi kanannya dimana terdengar suara isakan. Dan benar saja, nampak Vania duduk meringkuk dengan menutup tubuhnya dengan selimut putih tebal. kepalanya yang menunduk membuat Devan tak bisa melihat wajah istrinya. Ia hanya bisa melihat rambut istrinya yang terurai berantakan.
Devan duduk mendekat dan mengusap rambut istrinya dengan lembut. Ia merasa bersalah telah melanggar perjanjian yang telah disetujuinya.
"Sayang, maafkan aku" katanya lirih. Namun tak membuat Vania bergerak dari posisinya. Wanita itu justru semakin menangis, bahkan suaranya terdengar sangat berat karena menangis sampai sesenggukan.
__ADS_1
Devan semakin iba dan tidak tega mendengar isakan istrinya. Dengan cepat ia memeluk tubuh Vania untuk menenangkan dan memberikan kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja.