Cinta Vania

Cinta Vania
Biarkan Sendiri


__ADS_3

Di tempat lain, Devan yang pikirannya tengah kalut mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menyusuri padatnya ibukota menuju pantai tempat meluapkan kekesalannya. Jarak dari ke kantor yang seharusnya ditempuh dalam waktu dua setengah jam, kini dilaluinya hanya satu jam lebih tiga perempat saja.


suasana pantai hari itu cukup ramai. Namun, tetap saja ia merasa sepi karena pikirannya benar-benar tengah kacau saat ini.


Devan mendudukan tubuhnya di salah satu bangku dekat pohon kelapa. Pandangannya mengarah pada deru ombak di lautan dengan ditemani sebatang rokok yang terselip di sela-sela jarinya.


Belum satu jam berada di pantai itu, Devan sudah menghabiskan delapan batang rokok. Ya, merokok merupakan pembuktian pikirannya benar-benar kacau. Ia tak memperdulikan lagi berulang kali suara dering panggilan masuk yang terdengar dari ponselnya.


Cukup lama Devan berdiam diri di bangku itu. Saat puntung rokok di jarinya telah habis, ia berniat untuk menyalakan sebatang lagi. Namun sayangnya rokok yang ia bawa sudah habis. Ia memutuskan untuk pulang. Karena tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke kantor sementara hari sudah mulai gelap.


Devan menghampiri mobilnya yang terparkir tak jauh darinya. Kemudian ia menyalakan mesinnya dan melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di rumah, nampak ayah Satria dan bunda Dewi yang sudah menunggu kepulangan putranya itu. Mereka terkejut dengan penampilan putranya yang terlihat kacau dengan dasi longgar dan rambut yang berantakan. Apalagi bau tokok yang begitu menyengat di hidung kedua orangtua itu saat mendekati putranya.


Mereka sudah tahu dari Ronald tentang kabar putranya yang tiba-tiba meninggalkan kantor dan tidak kembali tanpa memberi kabar sejak kedatangan seorang wanita. Hingga akhirnya Ronald harus membatalkan banyak pertemuan penting dengan beberapa klien. Namun, mereka tidak tahu wanita yang dimaksud karena Ronald tidak mengenalinya.


Bunda Dewi segera berdiri dan menghampiri putranya.


"kamu kenapa sayang?" tanya bunda Dewi yang begitu khawatir melihat keadaan putranya


"Devan nggak apa-apa bund"


"jangan bohong, bunda dan ayah sudah tahu semuanya. Siapa gadis itu?" tanya bunda Dewi


"bukan siapa-siapa bund, Devan mau istirahat dulu" jawab Devan berusaha menghindar. Ia mulai berjalan menuju kamarnya.


Bunda Dewi ingin bertanya kembali.dengan putranya, namun dicegah oleh ayah Firman. Ya, mereka harus memberikan waktu untuk putra tunggalnya untuk menenangkan diri. membiarkan untuk tidak mengganggu Devan sementara waktu hingga ia akan bercerita sendiri.

__ADS_1


"dia sudah dewasa, kita harus bisa menghargai pilihannya. Dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya. Untuk saat ini biarkan dia tenang dulu" kata ayah Satria menasehati istrinya.


Bunda Dewi mengerti dengan perkataan suaminya. Ia menurutinya meski dalam hatinya begitu sedih melihat putra semata wayangnya terlihat kacau seperti itu.


Di dalam kamar, Devan hanya menghabiskan waktu dengan melamun dan memandang wajah Vania lewat foto yang disimpannya di laci nakas.


******


Pagi harinya Devan begitu sibuk. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda kemarin. Banyak jadwal pertemuan dengan klient yang harus ia selesaikan. Bahkan di jam istirahat pun ia juga harus menemui klien sambil makan siang. Jadwal yang tertunda kemarin benar-benar menguras tenaganya hari ini. Beruntung otak dan pikirannya dapat dikondisikan sehingga ia masih bisa bersikap profesional meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Jam setengah lima sore adalah pertemuannya dengan klien. Meski jam kantor telah usai, ia terus memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Hingga menjelang maghrib, pertemuan itu baru berakhir. Devan merasakan badannya mulai remuk karena lelah. Tubuhnya juga terasa lemas karena nafsu makan yang berkurang.


Devan meminta Ronald untuk mengantarkannya ke rumah yang baru dibelinya. Devan juga memberikan kabar pada Bundanya kalau ia tidak pulang dan akan tidur di rumah baru itu.


Devan terus menyandarkan kepalanya di kursi mobil sambil memegang pelipisnya. Ronald yang memperhatikan bossnya yang sedang tidak baik-baik saja itu mulai khawatir.


"apa tidak sebaiknya kita pulang ke rumah utama saja boss?" tanya Ronald sambil fokus menyetir


"tidak, kita ke rumahku saja. Aku ingin sendiri" jawab Devan masih dengan posisi yang sama.


Mobil yang mereka kendarai telah sampai di depan rumah. Rumah itu tidak begitu besar namun mempunyai kesan asri dan mewah karena bangunannya yang modern. Ditambh dengan taman bunga yang begitu cantik. Rumah itu tampak bersih dan rapi. Ada sepasang suami istri yang berkerja disana bertugas untuk menjaga dan membersihkan rumah meski Devan tidak tinggal disana.


Ronald segera turun membukakan pintu mobil untuk bossnya. Devan berjalan sempoyongan saat melewati halaman rumah hingga Ronald memutuskan untuk mengantarkan Devan sampai di depan pintu.


"anda sepertinya sedang tidak baik, apa perlu saya panggilkan dokter Niko?" tanya Ronald sebelum meninggalkan bossnya

__ADS_1


"iya, boleh... sepertinya saya butuh bantuannya" jawab Devan.


Ronald segera menghubungi dokter Niko agar segera datang. Setelah mengirimkan alamat rumah baru bossnya itu ke dokter Niko, Devan meminta Ronald untuk pulang karena tidak ingin Lea khawatir.


"pulanglah kalau sudah" kata Devan


"saya akan menunggu sampai dokter Niko datang"


"tidak perlu... lagi pula disini ada Pak Amin dan BuTini. Aku akan meminta tolong mereka jika butuh sesuatu"


"baiklah kalau begitu. Saya permisi undur diri dulu" kata Ronald yang kemudian meninggalkan kediaman bossnya.


Selang setengah jam kemudian, dokter Niko datang. Ia mengetuk pintu rumah Devan sambil membawa peralatan medisnya. Bu Tini yang sudah tahu akan kedatangan dokter Noko segera membukakan pintu untuk tamunya.


"mari dokter, saya antar... Tuan sudah menunggu anda sejak tadi" kata bu Tini sambil sedikit membungkukkan badannya.


Dokter Niko masuk dan mengikuti bu Tini berjalan menuju kamar tuannya yang ada di lantai atas


Di dalam kamar tampak Devan begitu pucat sedang berbaring mengenakan pakaian kasualnya dengan kaos poblong putih dan celana pendek. Ia bisa melihat kedatangan dokter Niko, Namun ia merasa sangat lemas dan tidak kuat untuk bangun. Dokter mulai mendekati Devan.


"apa yang anda rasakan tuan?" tanya dokter


"tubuh saya sakit semua dok" jawab Devan pelan.


Dokter Niko menempelkan punggung tangannya di dahi Devan.


"panasnya tinggi" kata dokter.

__ADS_1


__ADS_2