
Pagi harinya, Andre sudah menunggu di depan gang rumah Nadya. Ia benar-benar menepati perkataannya. Ia sengaja berangkat lebih awal agar Nadya tidak berangkat lebih dulu. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan duduk di balik kemudi sambil bermain handphone. Ia sengaja tidak menghubungi Nadya karena takut Nadya akan menghindar dan memilih jalan lain mengingat tadi malam permintaannya sempat ditolak.
Dengan sabar ia menunggu. Ia membuka kaca pintu mobilnya sebelah kanan agar bisa melihat Nadya yang keluar dari gang.
Tak lama kemudian nampak Nadya berjalan keluar dari gang rumahnya. Ia tidak menyadari keberadaan mobil Andre. Buru-buru Andre menyalakan mesin mobilnya dan membunyikan klakson agar Nadya yang tengah mau menyeberang segera menghampirinya.
Tampak wajah Nadya yang cukup terkejut. Ia berfikir Andre hanya iseng mengatakan akan menjemputnya. Namun ia pura-pura tidak tahu dan mendengar keberadaan Andre.
Andre melajukan pelan mobilnya menghampiri Nadya yang berhenti di atas trotoar seperti hendak menyetop angkutan.
"Nad, ayo" teriak Andre dari dalam mobil saat mobilnya berhenti tepat di depan Nadya.
Mau tidak mau Nadya menoleh ke sumber suara. Andre segera membuka pintu mobil sebelah kiri dari dalam. Akhirnya Nadya mengikuti permintaannya untuk masuk daripada harus berdebat yang akan memakan waktu.
Di dalam mobil mereka saling diam. Andre fokus dengan kemudinya sedang Nadya membuang wajahnya ke samping melihat jalanan. Ia tidak ingon semakin sakit melihat wajah Andre. Sesekali Andre melirik ke arah Nadya. Ia merasa Nadya tidak seperti biasanya. Ia seolah sedang menyimpan masalah.
"kamu kenapa?" tanya Andre memecah keheningan.
"nggak apa-apa" jawab Nadya pelan tanpa menoleh sedikitpun.
"kamu sakit?"
Nadya menoleh ke Andre dan menggelengkan kepalanya.
"kenapa diem aja,,, atau kamu lagi ada masalah" lanjut Andre mulai cemas
Nadya hanya menunduk terdiam dan tak menjawab pertanyaan Andre.
"ya udah kalau kamu nggak mau cerita nggak apa-apa, yang penting jaga kesehatanmu"
Nadya menoleh ke Andre. Ia memperhatikan wajah Andre sekilas. Tak terasa air matanya menetes. Buru-buru ia menghapusnya dan kembali membuang mukake samping. Ia tidak ingin Andre tahu kalau ia sedang menangis.
Andre melirik ke Nadya. Tanpa Nadya sadari Andre memperhatikan tingkah laku Nadya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa mengingat Nadya hanya diam.
Sesampainya di sekolah, Nadya buru-buru turun dari mobil Andre. Ia tidak ingin anak-anak lain melihatnya berangkat dengan Andre. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya ke kelas.
__ADS_1
Andre masih terus memperhatikan tingkah Nadya yang berubah aneh.
Sampai waktu istirahat tiba, Andre tidak menemukan Nadya diantara teman-temannya di kantin. Andre mulai penasaran. Ia mencari keberadaan Nadya di dalam kelas. Dan benar Nadya ada disana sendiri tengah membaca sebuah Novel. Novel itu seolah berdiri tegak dihadaoannya sehingga wajah Nadya tak terlihat. Karena terlalu serius dengan novel yang dibacanya. Ia tidak menyadari kedatangan Andre yang sudah duduk di hadapannya. Andre mengambil buku novel dari tangan Nadya. Sontak Nadya terkejut dan menoleh ke Andre.
"kak Andre" sahut Nadya terkejut
"iya, kamu kenapa nggak ikut ke kantin bareng yang lain" kata Andre menutup buku novel dan meletakkannya diatas bangku
"aku lagi pengen baca novel aja kak" jawab Nadya menunduk
"kamu nggak usah bohong... aku memperhatikanmu sedikit aneh hari ini"
"maksud kakak?" Nadya mengangkat kepalanya.
"boleh aku tahu masalahmu?" kata Andre menatap lembut mata Nadya.
"aku nggak kenapa-kenapa, beneran" kata Nadya tersenyum mencoba menghapus kecurigaan Andre.
Andre menghembuskan nafasnya kasar. Ia kehabisan cara untuk membuat Nadya mengaku. " baiklah kalau memang seperti itu. Aku balik kelas dulu" pamit Andre dan Nadya mengangguk.
Sampai waktu pulang, Andre mencoba mengirim pesan Nadya namun tidak kunjung dibalasnya. Ia lalu menghubungi nomor Nadya. Namun Nadya masih tidak meresponnya. Ia memutuskan untuk menunggu Nadya di parkiran. Di sana Ia bisa melihat siapa saja yang lewat. Ia melihat Vania berboncengan dengan pacarnya. Disitu ia meyakini Nadya akan pulang sendiri. Ia menghubungi Nadya namun gadis itu tetap tak kunjung menjawabnya. Tak lama ia melihat Nadya berjalan dengan teman-temannya yang lain. Andre memperhatikan Nadya. Ia ingin menghampiri Nadya. Namun Nadya justru mempercepat langkahnya dan berjalan di antara kerumunan banyak anak. Ia tahu gadis itu tahu keberadaannya namun jelas terlihat di mata Andre seolah Nadya menghindar darinya.
"kenapa dia tiba-tiba menghindar dariku " tanya Andre pada dirinya sendiri.
Andre kembali ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju halte hendak mengejar Nadya. Namun sebelum ia sampai di halte, ia melihat Nadya naik dan masuk ke dalam bus.
Andre memukul kemudinya dengan perasaan marah "ah sial telat"
Sesampainya dirumah, Andre terus menghubungi nomor Nadya. Namun selalu diluar jangkauan. Fix, Nadya benar-benar menghindarinya.
Seharian Andre uring-uringan karena tak mendapat kabar dari Nadya. Ia mencoba menghubungi Devan untuk menghibur hatinya.
"halo bro, ada apa?" jawab Devan mengangkat telepon
"lu dimana?"
__ADS_1
"di rumah ni lagi nemenin bunda"
"gue kesana ya"
"oke" jawab Devan mematikan panggilan.
Andre bergegas meraih jaketnya dan pergi menuju rumah Devan. Setibanya di rumah Devan, ia disambut baik oleh Bu Dewi. Andre sudah seperti anaknya. Karena keakraban putranya dengan temannya itu.
"masuk nak, tuh Devan di taman belakang lagi benerin gitarnya yang rusak" kata bunda mempersilahkan.
Andre langsung melangkahkan kaki mencari keberadaan temannya. Ia melihat Devan sedang duduk memangku gitar dan membenarkan senarnya yang rusak. Andre bersiri tidak jauh dari Devan.
"tumben lu...galau?" tanya Devan tanpa menoleh
Andre tidak menjawab pertanyaan Devan. Ia berjalan mendekati Devan dan duduk di sampingnya. Devan yang melihat keanehan pada temannya itupun mulai heran. Ia meletakkan gitarnya dan menoleh ke Andre.
"lu kenapa?" tanya Devan penasaran
"Nadya seharian ngehindarin gue" jawab Andre
"buahahahaha" Devan tertawa mendengar jawaban Andre. Sontak membuat Andre menoleh dan menatap tajam kawannya. Andre memicingkan matanya dan menatap tajam Devan.
"sorry bro... lucu aja lihat tingkah lu yang seperti ini" kata Devan masih tertawa.
Tawa Devan cukup keras hingga terdengar oleh bundanya. Bu Dewi menghampiri kedua remaja itu.
"ada apa sih kok kayaknya seru banget"
"ini bun, Andre lagi jatuh cinta tapi dicuekin" jawab Devan menunjuk ke Andre.
Andre merapatkan giginya. Ia cukup malu jika harus diinterogasi oleh bu Dewi.
"halah bukannya lu juga gitu" kata Andre membela diri.
Devan terdiam dan tak berkutik mendengar pernyataan Andre di hadapan bundanya.
__ADS_1
Bu Dewi hanya tersenyum melihat tingkah mereka.