Cinta Vania

Cinta Vania
Dia jatuh dan pingsan


__ADS_3

Setelah kepergian Devan dari rumah, Vania hanya meratapi kesedihannya dengan berurai air mata. Devan juga menonaktifkan nomornya sehingga membuat Vania tak bisa menghubunginya.


Sedih, iya. Karena rumah tangganya selalu dipenuhi salah paham. Baru juga sejenak merasakan indahnya membina mahligai rumah tangga, kini ia harus kembali menelan pahitnya dicampakkan.


Sudah tiga hari Devan tak kembali ke rumah. Dalam tiga hari itu juga Vania ijin tidak berangkat ke kantor karena kondisinya yang makin tak karuan karena kehamilannya. Vania harus mengalami mual dan muntah pagi siang dan malam. Apapun yang masuk ke mulutnya akan keluar lagi dalam waktu yang tak lama. Dan semua itu terus berulang sampai ia merasa lemas dan tak berdaya. Tak jarang juga wanita itu pingsan karena saking lemahnya.


Bu Tini yang merasa khawatir awalnya terus mendesak untuk memanggil dokter dan memberitahukan kondisi Vania pada Devan. Namun, Vania terus membujuknya agar tidak melakukannya karena suaminya itu sedang marah. Ia juga memberitahu Bu Tini tentang kehamilannya agar Bu Tini mengerti dan lebih menjaganya ekstra.


*****


Di gedung SA Group, Devan yang hendak melakukan meeting dengan klien harus dibingungkan karena berkasnya yang tertinggal di rumah. Ia menyuruh Ronald untuk mengambilnya di ruang kerja rumahnya.


Tiba di rumah bossnya, Ronald bertemu dengan Vania yang sedang tiduran di ruang tengah. Ia merasa aneh dengan perubahan pada istri bossnya. Wanita itu tampak kurus dan pucat.


Vania yang menyadari ada suara langkah sepatu melewati ruangannya bangun dan duduk.


"Mas Ronald" sapa Vania.


"Apa anda sehat, Nona" tanya Ronald langsung memperhatikan Vania seperti orang sakit.


Vania mengangguk pelan. Ia berusaha menyembunyikan sakitnya.


"Mas Devan disini juga?" tanya Vania.


"Tidak, nona. Tuan meminta saya untuk mengambil berkas yang tertinggal di rumah kerja"


"Dia sangat sibuk, ya?" tanya Vania sedih


"Anda butuh sesuatu? Saya akan sampaikan pada beliau"


Vania menggeleng pelan. "Tidak, mas. makasih. Lanjutkan saja mas, jangan sampai ia menunggumu" kata Vania dengan senyum getirnya.


Ronald mengangguk dan naik ke lantai atas menuju ruang kerja.


Tak lama kemudian ia kembali ke kantor setelah berpamitan pada Vania.


Ronald menyampaikan keadaan Vania pada Devan. Namun Devan seolah acuh dan tak memperdulikannya.

__ADS_1


*******


Pagi berikutnya, Vania yang merasa tubuhnya sedikit membaik bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia menutupi wajah pucatnya dengan memoles bedak dan makeup tipis. Kali ini bukan untuk bekerja. Melainkan untuk menemui suaminya dan menyerahkan surat pengunduran dirinya karena merasa sudah tidak sanggup lagi bekerja dengan kondisinya yang seperti itu.


Setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya ke bagian HRD, Vania menaiki lift menuju lantai paling atas gedung. Ia datang ingin menemui suaminya untuk meminta maaf dan menyampaikan kabar kehamilannya. Namun saat sampai disana, ia hanya bertemu dengan Lia yang mengatakan jika Devan sedang berada diluar meeting bersama klien.


Vania menitipkan pesan pada Lia agar menyampaikan kedatangannya pada Devan dan kemudian pamit pergi.


Sesampainya di lobby, Vania mulai nampak sempoyongan karena tubuhnya yang lemas. David yang tak sengaja melihatnya bergegas mendekat dan menolong Vania untuk mengantarkan pulang.


Awalnya Vania menolak karena takut terjadi kesalahpahaman lagi. Namun kondisinya yang tak memungkinkan untuk pulang sendiri membuatnya terpaksa mengiyakan tawaran David. Toh hanya mengantarkan pulang, bukan untuk apa-apa.


Devan yang kebetulan baru pulang dari pertemuannya denga klien tak sengaja berpapasan dengan mobil David yang baru keluar dari pintu gerbang gedung. Devan melihat dengan jelas keberadaan Vania di dalam mobil itu karena kaca jendela yang masih terbuka. Namun David yang tak tahu hanya terus melajukan mobilnya.


Devan yang geram mencari celah untuk memutar balik kendaraannya mengejar mobil David. Namun sayangnya kondisi jalan yang sedang perbaikan membuatnya harus menunggu sampai sepuluh menit.


Devan mencari keberadaan Vania terlebih dahulu di rumah. Ia yakin istrinya itu pulang mengingat David masih di jam kantor.


Devan mendapati Vania sedang berada di kamar mandi. Ia menunggu istrinya itu dengan duduk di tepi tempat tidur.


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Devan mengalihkan pandangannya ke arah suara.


"Mas, kamu pulang" kata Vania dengan senyum bahagianya bisa melihat suaminya pulang ke rumah.


Namun bukannya menjawab, Devan malah menatap tajam istrinya dengan raut wajah marah. Devan beranjak dari duduknya menghampiri Vania.


"Apa lagi yang sudah kamu lakukan bersama lelaki itu?" tanya Devan dengan nada marah.


"Apa maksudmu, mas?"


"Aku muak melihat wajah polosmu. Kau pikir aku tak melihatmu berduaan di dalam mobil dengan lelaki itu?" Devan marah menunjuk ke sembarang arah.


"Mas, kamu itu ngomong apa. Aku dari kantormu, mencarimu. Mana mungkin aku macam-macam disana. Dia hanya mengantarkanku pulang karena tubuhku lemas"


"Alasan" sahut Devan dengan senyum kecut. Ia merasa geram dengan sikap istrinya.


"Mas, aku nggak bohong. Mari kita selesaikan semuanya dengan tenang dan tidak pakai emosi" kata Vania memohon dengan memegang lengan Devan.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan. Aku lelah. Aku bosan hidup dengan ketidakadilan ini. Selama ini aku cukup bersabar menghadapimu. Tapi aku sadar. Pernikahan karena paksaan itu memang hanya membuat kita sakit" kata Devan. Ia melepaskan tangan Vania dari lengannya. "Lakukan sesukamu. Aku akan berusaha ikhlas" lanjutnya lirih kemudian melangkahkan kaki pergi. Vania menangis mengejar suaminya. Namun tubuhnya yang lemah membuatnya tidak seimbang dan jatuh.


Vania menjerit kesakitan jatuh tepat di depan pintu kamar dan kemudian pingsan.


Devan yang baru saja sampai di anak tangga terbawah terkejut dan kembali naik untuk menghampiri istrinya.


Devan mengangkat kepalan Vania dan menepuk pipinya pelan berusaha membangunkan. Namun, usahanya sia-sia. Vania belum juga sadar. Devan memperhatikan baju bercak merah di lantai bawah kaki Vania. Ia terkejut mendapati Vania tak sadarkan diri dengan darah yang sudah mengalir di bawah kakinya.


"Yang... bangun, yang"


Devan mengangkat tubuh Vania dan membawanya turun ke lantai bawah.


"Pak Amin, cepat siapkan mobil" teriak Devan sambil membopong tubuh istrinya.


"Astaghfirullah, kenapa dengan non Vania" tanya Bu Tini terkejut sambil membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya saat melihat tuannya membopong Vania.


"Dia jatuh dan pingsan, Bu. Ada darah yang mengalir di kakinya" kata Devan sambil terus berjalan keluar diikuti Bu Tini dari belakang.


"ya Allah, semoga Nona dan janinnya baik-baik saja" kata Bu Tini sambil membukakan pintu mobil agar Devan bisa dengan mudah memasukkan tubuh istrinya.


"Janin?" tanya Devan terkejut.


"Benar, tuan. Nona sedang mengandung. Saya ingin memberitahu tuan, tapi Nona melarangnya karena katanya tuan sedang marah. Dan lagi tuan juga tak pernah menghubungi rumah semenjak pergi" kata Bu Tini mengatakan yang sebenarnya.


"Astaghfirullah.." Devan mengusap kasar wajahnya karena kesalahannya. "Baiklah makasih, Bu. Saya ke ruang sakit dulu" pamit Devan lalu meminta pak Amin untuk mengemudikan mobil ke rumah sakit lebih cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Masih pada geram dan emosi ya?


Ini yang saya bilang klimaksnya...Maaf ya kalau banyak yang tidak setuju sama alur cerita ini. Tapi ini yang ada di kepala saya yang ingin saya tuangkan dalam cerita ini.


So, tolong mengerti pandangan author dan silahkan tetap nikmati saja alurnya😊


Selamat membaca..


Salam sayang selalu😘😘💗

__ADS_1


__ADS_2