Cinta Vania

Cinta Vania
Episode 39 Keluarga Baru


__ADS_3

Bu Wati turun dari mobil Devan dan memasuki pintu rumahnya yang terbuka. Ia mencari keberadaan putranya. Kala itu Ditya sedang tertidur.


Bu Wati keluar lagi untuk mengajak tamunya masuk. Devan masuk dan menghampiri bu Wati.


"assalamualaikum" sapa Devan saat memasuki rumah Bu Wati.


"Waalaikumsalam, silahkan duduk dulu nak Devan. putra ibu masih tidur, ibu bangunin dulu" kata ibu menghampiri kamar Ditya


"nggak usah bu" kata-kata Devan menghentikan langkah bu Wati "biarkan dia istirahat" imbuhnya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi


Bu Wati menuruti perintah tamunya. Ia duduk di kursi kayu berhadapan ddengan Devan.


"suami ibu mana?" tanya Devan karena melihat rumah tampak sepi.


"dia sedang bekerja nak"


Mata devan menyapu Seluruh pemandangan di ruang tamu. Devan terkejut mendapati sebuah foto besar yang terpajang di dinding sebelah ruang tamu. Foto yang sangat tidak asing baginya. Namun sayangnya ia lupa mengingat siapa itu.


"itu putra ibu?" tanya Devan menunjuk ke foto yang dimaksud


Mata bu Wati mengekor ke arah uang ditunjuk oleh tamunya


"iya nak....itu putra ibu, namanya Ditya"


"aku seperti tidak asing dengan wajah dan orangnya. tapi siapa ya" kata Devan berfikir sambil meletakkan jarinya di kening berusaha mengingat.


"ya...Vania. aku ingat sekarang"


"nak Devan kenal nak Vania juga?"kata bu Wati dan Devan mengangguk.


"ibu sudah pulang? ibu sama siapa?" kata Ditya mengejutkan mereka. Ditya terbangun karena mendengar suara ibunya berbicara dengan seseorang


Ibu mengangkat wajahnya melihat putranya berdiri cukup jauh di belakang Devan. Devan ikut menoleh ke sumber suara.


"Devan" panggil Ditya terkejut.


Devan tersenyum lembut ke Ditya. Dia terus menatap Ditya yang tampak semakin kurus. Ia merasa kasihan dengan Ditya.


"kalian sudah saling kenal?" tanya ibu


"iya bu, dulu kita pernah satu sekolah meski beda angkatan" jawab Devan ramah


Ditya berjalan mendekati mereka dan duduk di samping ibunya.


"nak Devan ini tadi bantuin ibu pas jatuh dijalan, dia juga yang bayarin semua biaya obat yang harus ibu tebus dari dokter"

__ADS_1


"ibu jatuh? ibu nggak apa-apa?" tanya Ditya khawatir memegang tangan ibunya. Ibunya hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"untung ada nak Devan yang menolong ibu dan mengantar pulang" kata Bu Wati


"makasih banyak ya Van"


"sama-sama, aku hanya. melakukan apa yang seharusnya aku lakukan" jawab Devan


"ya sudah kalian bisa ngobrol dulu, ibu tinggal ke dapur dulu bikin minum" kata bu Wati beranjak dari duduknya


"tak perlu repot-repot bu" sahut Devan sungkan


"sudah lah nak...jangan menolak ya" kata Bu Wati dan Devan hanya bisa tersenyum pasrah.


Devan menatap Ditya yang menunduk. Ia ingin bertanya tapi takut menyakiti perasaan Ditya.


"apa kamu masih mencintai Vania?" tanya Ditya tiba-tiba membuat Devan terkejut.


"maksud kamu?"


"aku tahu kamu suka sama Vania"


"kamu tahu darimana?"


"aku memperhatikanmu saat perpisahan SMP dulu, saat kamu menyumbangkan lagu diatas panggung dan saat kamu menemui Vania ketika para tamu sudah keluar dari gedung. Meski kamu tidak mengatakannya, aku tahu betul kamu menyimpan perasaan pada Vania"


"tapi dia milikmu" kata Devan lirih dan menunduk


"Jagalah dia untukku" kata Ditya mengagetkan Devan. Devan mengangkat wajahnya menatap Ditya penuh tanda tanya


"aku tidak mungkin merebut kebahagiaan kalian"


"kebahagiaan itu sebentar lagi akan pergi. jawab saja pertanyaanku, apa kamu masih cinta Vania?"


Devan menghela nafas panjang "ya, aku memang masih mencintainya. perasaan itu tidak pernah berubah sejak pertama aku mengenalnya sampai sekarang. Aku tidak pernah membiarkan orang lain menggantikannya"


"perasaanmu jauh lebih besar dariku, kamu orang yang lebih dulu mencintainya. tolong jagalah dia"


"jangan pernah bicara seperti itu Dit, kamu harus sembuh, kamu harus yakin itu. Vania akan lebih bahagia bersama orang yang dicintainya"


"tidak semudah itu Van, kecil kemungkinan aku untuk sembuh. Terlebih kami tidak mungkin mendapatkan biaya untuk terapi dalam waktu yang cepat"


Bu Wati datang membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat dan meletakkannya diatas meja. Bu Wati duduk kembali di samping putranya


"maaf hanya ada teh hangat..diminum dulu nak Devan" kata bu Wati mempersilahkan

__ADS_1


"terimakasih bu, ini sudah lebih dari cukup" Devan meminum teh hangat buatan bu Wati dan mengembalikan gelas kosongnya diatas meja.


"apa Vania tahu tentang ini?"tanya Devan


Ditya dan ibunya menggeleng pelan.


"aku tidak mau membuatnya sedih" kata Ditya pelan


Devan mengusap kasar wajahnya. Ia bingung harus berbuat apalagi demi membangkitkan semangat Ditya untuk sembuh.


"bu, besok kita pergi ke rumah sakit. Ditya akan melakukan terapi dan rangkaian pengobatan lainnya. saya yang akan menanggungnya" kata Devan


"tapi nak, semua biaya itu tidak sedikit" kata bu Wati


"bu, mohon jangan ditolak. ini rejeki buat kalian"


Bu Wati menangis dan berjalan mendekati Devan. Ia duduk di bawah dan meraih tangan Devan lalu menempelkan wajahnya pada tangan Devan.


Devan menarik tangannya dari wajah bu Wati. "bu, jangan seperti ini, saya tidak pantas menerima perlakuan seperti ini dari orang tua sebaik ibu" katanya sambil memegang ujung lengan bu Dewi untuk membantunya berdiri.


"Nak Devan sudah banyak membantu ibu, ibu tidak bisa membalasnya apa-apa, semoga Allah terus melimpahkan banyak rejeki kepada nak Devan" kata bu Wati terisak.


"bu....ini rejeki dari Allah, saya hanya perantara disini, ibu tidak perlu membalas apa-apa, anggap saja saya juga putra ibu"


Perkataan Devan membuat bu Wati semakin menangis. Devan memeluk tubuh wanita tua itu berusaha menenangkan.


"terimakasih ya Allah" kata bu Wati melepaskan pelukan dan meminta Ditya untuk mendekat dengan melambaikan tangannya.


Ditya mendekat pada ibunya dan Devan. Kemudian bu Wati memeluk bahu kedua putranya.


"kalian putra-putra ibu" kata bu Wati membuat kedua lelaki itu terharu.


"makasih banyak Van, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, maaf sudah sangat merepotkanmu" kata Ditya lirih menahan tangisnya.


Mereka saling melepaskan pelukan masing-masing.


Devan mengangguk pelan dan tersenyum pada keluarga barunya.


"baiklah bu, Ditya, kalau begitu saya akan pulang, sampaikan salam saya pada bapak. besok saya akan kesini lagi. Ini kartu nama saya, ibu bisa menghubungi saya kalau ada apa-apa" kata Devan sambil menyerahkan kartu nama yang terselip di saku jasnya.


"iya nak...kamu hati-hati"


"iya bu" kata Devan sambil mencium tangan ibu barunya. Devan bersalaman dan memeluk tubuh Ditya "aku pamit, saudaraku" pamitnya pada Ditya. Kedua lelaki itu tertawa bersamaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


**Jangan lupa like dan Vote ya


Salam Sayang selalu๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜**


__ADS_2