Cinta Vania

Cinta Vania
Menerima Kenyataan Pahit


__ADS_3

Dokter Ricky memeriksa Vania dengan stetoskop dan memegang pergelangan tangan Vania untuk mengecek kecepatan detak jantungnya.


"jantungnya sangat lemah nyonya. dia sepertinya begitu stress dan shock" kata dokter menoleh ke bu Karina.


Bu Karina menangis sambil mengelus ujung kepala putrinya.


Dokter Ricky segera mengambil minyak angin dari dalam saku jas dokternya dan menyerahkannya pada bu karina


"pakaikan ini di bawah hidungnya, dan tolong pijat pelan bagian sini. Sebentar lagi ia akan pulih dan sadar" kata dokter Ricky dengan tangan kanan menyerahkan minyak angin dan tangan kiri memijat telapak tangan Vania bagian antara ibu dari dan jari telunjuknya.


Dokter Ricky keluar ruangan meninggalkan Bu Karina dan putrinya yang masih belum Sadarkan diri. Diluar tampak dokter Niko masih mencoba berusaha menyadarkan ibu Ditya. Dokter Rocky membantu rekannya. Ia memijat telapak kaki bu Wati.


Tak lama kemudian bu Wati sadar. Dia menangis memeluk suaminya. Para Dokter itu berdiri disamping bu Dewi yang masih duduk dengan mengelus punggung bu Wati


"sabar ya bu, ikhlaskan Ditya. Dia sudah tenang disana dan tidak merasakan sakit lagi" kata bu Dewi lembut


bu Wati melepaskan pelukannya dari suaminya dan menatap sendu wajah bu Dewi.


" saya mengerti sekali perasaan anda, kehilangan seseorang yang kita sayangi adalah sesuatu yang paling menyakitkan. tapi ibu juga harus ingat, ibu tidak bisa terus larut dalam kesedihan. jangan sampai tangis dan kesedihan ibu memberatkan jenazah Ditya" imbuh bu Dewi menyadarkan.


"anda benar bu, saya akan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas" kata bu Wati masih terisak. Dia memeluk tubuh wanita yang ada di depannya.


"maaf pak, bisa anda ikut saya untuk mengurus surat-surat untuk kepulangan jenazah?" tanya dokter Niko.


"biar saya saja yang mengurusnya. sekalian saya akan menghubungi Devan. Bapak temani saja ibu" sahut bu Dewi ramah.


"data-data jenazah sudah ada kan dokter?" imbuh bu Karin menoleh ke arah dokter Niko dan dokter Ricky


"sudah ada nyonya, silahkan anda mengikuti dokter Niko, saya dan para suster akan kembali ke dalam untuk melepaskan beberapa alat medis dari tubuh jenazah" kata dokter Ricky mempersilahkan.


Bu Dewi berjalan mengikuti dokter Niko menuju ruang administrasi rumah sakit.


Di tengah jalan, ia menyempatkan untuk menghubungi putranya sambil terus berjalan.

__ADS_1


"hallo nak, kamu masih sibuk?" tanya bu dewi setelah panggilannya terhubung


Devan: --------------


"kamu bisa ke rumah sakit sekarang?"


Devan: ----------


"Ditya sudah meninggal, dokter baru saja memberi kabar kepergiannya"


Devan: -----------


"iya, kamu hati-hati. waalaikumsalam"


Bu Dewi mematikan sambungan telepon dengan putranya tepat di depan ruang administrasi.Ia mengisi data-data kepulangan dan membayar biaya perawatan selama Ditya dirawat.


Selesai dengan sua itu, ia kembali menuju lantai lima untuk membantu persiapan bu Wati dan pak Yanto untuk pulang.


"hallo nak, kamu sudah jalan?"


Devan: ----------


"langsung menuju rumah duka saja ya, ini sebentar lagi kita udah mau pulang"


Devan: ----------


Bi Dewi mendekati mereka, "mari kita tunggu turun, sebentar lagi proses kepulangan jenazah akan selesai. para perawat akan mengantar jenazah sampai lobi, kita bisa tunggu disana"


Semua yang disana mengikuti perkataan bu Dewi. Mereka memasuki pintu lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar. Dan dalam waktu yang singkat mereka sudah sampai di lobi.


Vania dan mamanya pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengganti pakaian sebelum menuju rumah duka. Dalam perjalanan, Ia masih terus menangis di pelukan mamanya.


Tak lama kemudian perawat datang membawa kereta dorong yang berisikan peti jenazah Ditya. Ambulance sudah disiapkan di depan pintu khusus kepulangan jenazah. Pak Yanto menemani jenazah putranya di dalam ambulance. Sedang bu Wati pulang bersama mobil yang di tumpangi bu Dewi.

__ADS_1


Bu Wati sudah tampak tegar setelah mendapatkan nasehat dari bunda Ditya. Ia sudah mulai ikhlas dan menerima kenyataan pahit bahwa putranya telah tiada. Tak ada lagi yang ia lakukan selain mendoakan putranya untuk mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Karena terus menangis dan meratapi nasib hanya akan membuat jenazah semakin berat dan menderita.


Sesampainya mereka di rumah duka, sudah ada Devan di bantun oleh para warga mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Bu Dewi begitu senang. Ia tidak menyangka putranya yang ia kenal hanya tahu masalah bisnis itu ternyata mampu berbaur dengan keadaan sekelilingnya.


Kedatangan mereka disambut oleh para warga dengan isak tangis. Bu Wati kembali meneteskan air mata dan menangis di pelukan para warga yang menyambutnya.


Mereka berdua melangkah memasuki rumah dan menemukan Devan yang masih dengan seragam kerja tanpa jas tengah membuka karpet untuk dipakai mengaji para pelayat. Devan yang melihat kedatangan mereka segera menoleh dan berjalan mendekat. Bu Wati memeluk Devan. Tangisnya pecah di pelukan putranya.


"bu, sabar ya...kendalikan diri ibu.... kasihan Ditya" kata Devan mengusap punggung ibunya


Suara mobil ambulance sudah semakin dekat. Bu Wati melonggarkan pelukannya. Bu Wati dan para warga lainnya keluar rumah untuk menyambut kedatangan pak Yanto dan jenazah Ditya.


Pak Yanto turun dari ambulance disusul oleh jenazah Ditya. Setelah itu mobil ambulance pergi dan kembali ke rumah sakit.


Para warga segera melakukan prosesi pemakaman dari mulai memandikan dan mengkafani jenazah. Setelah itu jenazah di letakkan di ruang utama rumah duka untuk dibacakan surat Yasin oleh keluarga dan para warga sambil menunggu keluarga jauh yang masih di perjalanan.


Tak berselang lama, Keluarga Vania tiba dan diikuti oleh keluarga besar Ditya yang datang dari kampung.


Pak Firman terkejut melihat keberadaan Devan dan bu Dewi. Mereka nampak akrab dengan keluarga jenazah. Hatinya bertanya-tanya ada apa gerangan hubungan antara mereka dengan Ditya. Namun, pak Firman segera menepis rasa penasarannya karena ini bukan waktu yang tepat untuk mencari tahu.


Tanpa ingin berlama-lama, pak Yanto meminta kepada warga untuk jenazah segera disholatkan. Pak ustadz pun memimpin doa dan


berpidato sebagai tanda pamit jenazah kepada keluarga dan para warga lainnya.


Pak Yanto dan Devan ikut memikul jenazah dibantu oleh Adit dan paman Ditya. Sementara sepupu Ditya berdiri disamping keranda memayungi jenazah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Mohon hargai penulis dengan memberikan like, vote dan komentar positif ya....


selamat membaca


Salam sayang selalu๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜**

__ADS_1


__ADS_2