
Pagi ini adalah tepat empat bulan setelah malam pesta ulang tahun perusahaan. Kehidupan Devan dan Vania juga semakin bahagia. Meski belum adanya seorang anak terkadang masih mengusik perasaan dan emosi Vania. Namun, Devan sebagai lelaki yang sangat mencintainya selalu memberikan dukungan dan ketenangan agar istrinya tak lagi memikirkan hal itu.
Devan memutuskan untuk lari pagi di sekitar kompleks usai sholat subuh. Hal yang biasa dilakukannya jika tidak ada pertemuan pagi di kantor. Karena merasa matahari sudah mulai naik, ia pun kembali. Tempat pertama yang menjadi tujuannya adalah dapur untuk mencari istrinya ayang biasanya tiap pagi membuatkannya sarapan sambil mengambil air minum.
Karena tidak menemukan Vania di dapur, akhirnya Devan menuju ke kamarnya. Dan dugaannya benar. Ia menemukan istrinya ada disana. Namun berbeda kali ini. Vania yang biasanya sibuk di jam-jam seperti sekarang justru malah kembali meringkuk di balik selimut tebalnya.
Devan berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelah Vania. Ia mengira Vania sakit karena tak biasanya wanita itu tidur di jam segini. Tanpa ragu Devan menempelkan punggung tangannya di kening Vania. Tidak panas ataupun demam sama sekali. Namun entah kenapa wanita itu tak seperti biasanya. Itu yang membuat Devan bertanya-tanya.
Vania terbangun karena mencium bau aneh di hidungnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menutup hidungnya dengan selimut.
"Bau apa ini" tanyanya tiba-tiba sambil menoleh.
"Bau apa sih, yang? Nggak ada yang bau kok" sanggah Devan sambil mengenduskan hidungnya mencari bau yang dimaksud istrinya.
"Bau banget, mas. Dan baunya kaya berasal dari kamu" tuduh Vania melirik ke Devan.
Saking penasarannya dengan perkataan Vania membuat Devan mengangkat kedua tangannya dan menciumi ketiaknya sendiri.
"Tidak ada yang bau, wangi semua" kata Devan santai karena memang bau keringat lelaki itu wangi meski tanpa parfum sekalipun.
"Mending mas menjauh aja deh. Beneran aku nggak tahan sama bau tubuhmu" ucap Vania mengusir suaminya untuk menjauh.
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu" kata Devan kemudian segera menuju kamar mandi.
*****
__ADS_1
Di kantor, Devan nampak begitu sibuk dengan setumpuk pekerjaannya. Hari ini banyak pertemuan penting dengan klien yang mengharuskannya turut hadir langsung tanpa diwakilkan.
Prestasi Devan yang dikenal sebagai pengusaha sukses menuntutnya untuk sering melakukan perjalanan ke luar kota bahkan luar negeri. Begitupun Vania, wanita itu selalu dipaksa untuk ikut bersamanya jika pekerjaan itu memakan waktu lebih dari dua hari. Namun, berbeda untuk kali ini. Kepergian Devan selama empat hari ke Bali harus tanpa kehadiran Vania dikarenakan wanita itu benar-benar malas dan enggan untuk pergi. Devan pun akhirnya terpaksa pergi sendiri setelah perdebatan panjang, tentu saja setelah Vania mempunyai alasan yang cukup kuat. Dia mengatakan jika dirinya hanya ingin beristirahat di rumah dan ada janji dengan Nadya.
Seperginya ke Bali, Devan selalu menghubungi istrinya setiap dua jam sekali kecuali jam tidur seperti yang biasa ia lakukan untuk melepas rindu keduanya. Hal itu sudah menjadi kesepakatan berdua setiap kali berjauhan. Namun berbeda kali ini. Vania justru merasa bosan karena suaminya terus-terusan menghubunginya. Bahkan sesekali ia tak mengangkat telepon dari suaminya dengan alasan sedang tidur. Wanita itu benar-benar tidak seperti biasanya. Banyak perubahan yang aneh pada dirinya. Terlebih selama kepergian suaminya ke Bali, ia hanya bermalas-malasan di dalam kamarnya.
Sering kali Devan menghubungi Bi Siti lewat telepon rumah untuk mengetahui tentang kabar Vania lantaran istrinya itu terlalu menyibukkan diri dengan tidak mengangkat panggilan telepon dari suaminya. Hal itu membuat Devan cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal.
******
Hari ini tepat tiga hari Vania ditinggal suaminya ke luar kota. Ia pun tak merasakan jenuh ataupun bosan apalagi sedih karena sendiri. Ia justru merasa bebas dan gembira.
Pagi itu Vania sedang memasak banyak makanan setelah mendapatkan kabar jika Nadya dan baby cantiknya yang berusia setengah tahun itu akan berkunjung ke rumah. Ya, Nadya telah melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu setengah tahun lalu. Nadya memberinya nama Nadine.
Siang harinya Nadya sudah sampai di rumah Vania diantar oleh Andre. Sayangnya Andre tidak ikut masuk karena ia harus pergi menyelesaikan pekerjaannya.
"Eh lagi ada acara ya disini?" tanya Nadya ke Vania.
"Enggak...emang kenapa?" tanya balik Vania
"Kok banyak banget makanan. Atau ada yang ulang tahun?"
"Enggak juga. Ini itu buat menyambut kedatangan pertama baby Nadine ke rumah ini. Ya sayang ya..." jawab Vania tersenyum sambil mengusap pipi baby Nadine sambil mengajaknya bicara.
"Beneran? Ini sih berlebihan banget, Vania. Tidak udah repot-repot kali" kata Nadya
__ADS_1
"Enggak repot kok. Gue lagi pengen aja masakin buat Lo dan baby Nadine"
"Enggak ada masakin Nadine, nyonya Devan. Nadine belum boleh makan-makanan beginian. Yang ada emaknya yang habisin ini semua" sela Nadya yang merasa gemas dengan perkataan sahabatnya.
Vania ikut menertawakan kebodohannya sendiri karena tingkahnya yang berlebihan. Ia pun menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya untuk duduk diatas kursi diikuti oleh Nadya setelah mendudukkan baby Nadine di kursi khusus yang sudah dibawanya dari rumah.
Mereka berdua mulai mengambil nasi dan meletakkan di piring masing-masing.
"Eh kok makan Lo dikit banget, mak" tegur Nadya ke Vania karena melihat sahabatnya itu hanya menyendokkan sedikit nasi di piring.
"Gue lagi malas banget sama nasi" jawab Vania beralasan. Ia melirik ke arah nasi yang ada di piringnya. Sebenarnya ia enggan untuk makan. Namun demi menemani tamu sekaligus sahabatnya untuk makan, ia pun dengan terpaksa ikut.
"Tumben-tumbenan. Lo lagi sakit? eh tapi wajah Lo agak pucat sih" kata Nadya memperhatikan wajah Vania.
Vania menggeleng pelan. Ia mulai nampak tak bersemangat karena tubuhnya terasa lemas.
"Lo kenapa, mak?" tanya ulang Nadya karena khawatir.
"Tidak apa-apa, udah ayo makan" jawab Vania mengalihkan agar sahabatnya berhenti membahas lagi.
"Beneran gue khawatir sama Lo"
"Gue enggak kenapa-napa, sayangku. Mungkin karena kecapean aja" kata Vania mencoba menenangkan sahabatnya.
"Gara-gara memasak semua makanan ini ya?"
__ADS_1
"Bukan. Emang udah dari tadi malam badan gue agak enggak enakan. Tapi tenang aja, bentar lagi juga enakan kok" kata Vania.
Mereka pun memulai makan. Nadya makan dengan lahapnya karena lapar, apalagi masakan Vania benar-benar nikmat dan enak. Terlebih menyusui membuat nafsu makannya bertambah. Namun tidak dengan Vania, wanita itu nampak malas saat melihat makanan di depannya, apalagi untuk memasukkan suapan ke mulutnya. Meski begitu ia tetap memaksakan suapan makanan agar Nadya tidak curiga.