Cinta Vania

Cinta Vania
VAN Cafe


__ADS_3

Pagi itu Devan dan Vania melakukan perjalanan menuju Bandung sesuai rencananya tadi malam. Devan yang kini tak terbiasa dengan bantuan supir lebih memilih untuk menyetir mobilnya sendiri. Selain lebih nyaman, ia juga bisa lebih bebas berduaan dengan istrinya sambil menikmati pemandangan sekitar.


"Perjalanan kita masih satu setengah jam lagi, jika mengantuk tidurlah dulu" kata Devan sambil terus fokus menyetir setelah sesaat ia melirik ke istrinya yang nampak menguap berkali-kali entah karena bosan atau mengantuk, pikirnya. Wajah Vania memang benar-benar nampak lelah. Sesekali wanita itu bergerak membenarkan posisi duduknya.


"Semua juga gara-gara kamu" sela Vania dengan bibirnya yang manyun. "Udah tahu pagi ini mau ke luar kota, masih saja ganggu tidur tiap malam" ucapnya ketus.


"Ya mau gimana lagi, sayang. Kamu selalu bikin aku candu setiap malam" jawab Devan seenaknya dengan melipat bibirnya menahan senyum.


Vania hanya memutar bola matanya karena kesal dengan jawaban suaminya yang selalu saja seperti itu. Ya, suaminya itu hampir setiap malam minta jatahnya tanpa mengenal lelah semenjak Vania kembali bersamanya.


Vania memutuskan untuk memejamkan kedua matanya mengganti tidur malamnya yang sudah terganggu. Rasa kantuk yang sedari tadi menyerangnya membuat kedua matanya terpejam dengan cepat. Devan menarik sudut bibirnya hingga membuat senyuman menyaksikan istrinya dengan cepat terlelap.


Setelah puluhan kilometer kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti dan parkir di depan sebuah rumah mewah yang mereka tuju. Para penjaga dan asisten rumah tangga segera mendekat membantu menurunkan barang-barang dari mobil Devan setelah mendapatkan instruksi dari Oma.


Devan masih berdiam diri memperhatikan istrinya yang masih terlelap. Rasanya ia tak tega membangunkan Vania saat mendengar dengkuran halus lolos begitu saja.


"Tidurnya begitu nyenyak sekali" ucap Devan diikuti senyumannya.


Devan turun dari mobil dan beralih menuju pintu mobil yang ada di sebelah Vania. Tangannya membuka pintu itu dan bermaksud hendak membopong istrinya. Namun saat tangannya menyentuh tangan Vania tiba-tiba saja mata itu terbuka.


"Mas, mau apa?" tanya Vania dengan suara malasnya.


"Kau sudah bangun? Baru saja aku mau menggendongmu untuk masuk ke dalam"

__ADS_1


Vania mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitar. Dan benar saja, ia sudah sampai di alamat tujuannya.


"Oo kita sudah sampai ya, kenapa tidak membangunkanku saja" tuturnya sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Tidurmu terlihat sangat nyenyak. Aku tidak tega membangunkanmu. Ya sudah, ayo turun" ajak Devan menyodorkan tangan kanannya untuk membantu Vania turun dari mobil.


Vania dan Devan masuk kedalam rumah yang pintunya baru saja dibukakan oleh asisten rumah tangga disana. Langkah kaki mereka menuntun ke sebuah ruang keluarga dimana seorang wanita tua duduk dengan sebuah tongkat di sampingnya. Vania berjalan mendekat setelah mengucapkan salam pada wanita yang telah melahirkan ayah mertuanya itu. Tubuhnya yang tinggi langsing didekap dengan erat oleh Oma karena rindu yang selama ini beliau rasakan semenjak cucu menantunya pergi meninggalkan rumah karena masalah rumah tangganya.


Devan yang menatap keduanya saling melepas rindu hanya diam menyenderkan tubuhnya di tembok sambil mensedekapkan tangannya di atas perut. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan, pikirnya. Melihat wanita yang ia cintai bisa diterima oleh keluarga besarnya merupakan kebahagiaan yang tak terkira.


"Oma sangat merindukanmu, sayang" ucap Oma mengusap punggung Vania. Air matanya lolos begitu saja saat memeluk Vania.


"Vania juga, Oma. Maafkan Vania sudah menyakiti hati kalian"


Oma menjauhkan dirinya dari Vania. Kedua tangannya masih menempel pada lengan Vania. Sejenak ia menatap wajah manis nan ayu wanita muda itu. Ada senyuman yang terlukis di wajah yang sudah tampak keriput itu.


"Iya, Oma. Vania kini mengerti arti kejujuran dan keluarga yang sesungguhnya" ucapnya sambil melirik ke arah Devan dengan mengulas sebuah senyuman. Senyuman bangga karena memiliki seorang partner hidup yang selama ini mampu mengerti keadaannya dan membuatnya merasa mampu dan pantas untuk dicintai.


Devan membalas senyuman itu dengan mengangguk dan mengedipkan kedua matanya pelan. Tak lupa senyum lebarnya ia ulas sebagai arti kebahagiaannya. Devan berjalan mendekati Vania yang masih berdiri tepat di depan Oma. Tangan kanannya merangkul dan mendekatkan bahu wanita yang selama bertahun-tahun ia dambakan dan cintai agar lebih dekat dengan tubuhnya. Sekilas ia mengecup singkat puncak kepala Vania. Menunjukkan betapa sayangnya ia pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Oma begitu bahagia melihat kebersamaan cucu dan cucu menantunya. Senyum bahagianya selalu tersemat begitu saja dari wajahnya.


"Kalian pasti lelah. Istirahatlah dulu di kamar atas. Barang-barang kalian juga sudah ada di dalam. Nanti kalau waktunya makan siang biar Bibi yang panggil kalian" tutur Oma.

__ADS_1


"Iya Oma, terimakasih" jawab Vania yang kemudian Meninggalkan ruang keluarga bersama Devan menuju kamar yang biasa Devan tempati saat menginap disana.


*****


Sore harinya usai sholat Maghrib, Devan meminta izin pada Omanya untuk pergi keluar bersama Vania. Lelaki itu ingin mengajak istrinya pergi jalan-jalan menikmati suasana malam Bandung untuk kedua kalinya setelah yang pertama dulu waktu masih menjadi pasangan pengantin baru.


Sebuah mobil sedan hitam mewah yang dikemudikan Devan membawa mereka menuju alamat yang hanya diketahui oleh Devan.


"Kita mau kemana?" tanya Vania yang sudah entah ke berapa kalinya karena sejak dari rumah Oma Devan tetap saja merahasiakannya.


"Nanti kau akan tahu, sayang".


Setengah jam kemudian mobil sedan itu berhenti tepat di depan sebuah cafe yang terbilang cukup besar dan ramai.


"VAN CAFE?" tanya Vania ke Devan setelah membaca nama kafe yang tertera di bangunan teratas kafe.


Devan mengangguk dengan senyuman khasnya. Lelaki itu mematikan mesin mobilnya.


"Ayo kita turun" ajaknya sambil melepas sabuk pengaman yang melilit di badannya.


Devan turun dari mobilnya dan bergerak menuju pintu mobil sebelah kiri untuk membantu istrinya turun. Vania yang sedari tadi hanya diam sambil berpikir langsung terkesiap saat pintu mobil dibuka oleh Devan dari luar.


"Ayo, kenapa diam saja?" tanya Devan lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya hendak membantu Vania.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Vania menyambut uluran tangan suaminya dan turun dari mobil.


Devan menutup kembali pintu mobil. Ia menggandeng istrinya dan menggiringnya masuk ke dalam kafe.


__ADS_2