
Devan menyalakan mesin mobilnya kembali untuk mengantarkan Vania pulang. Selama perjalanan mereka kembali terdiam, Lebih tepatnya Devan yang diam dan Vania tidak berani membuka obrolan karena takut.
Vania merasa curiga dengan perubahan sikap Devan yang tadinya lembut menjadi datar. Vania selalu mencuri pandang ke arah Devan yang fokus dengan jalanan yang ada di depannya tanpa sedikitpun menoleh ke gadis di sampingnya.
Jarak antara pantai dengan rumah Vania yang lumayan jauh memakan waktu satu jam lebih. Mereka sampai di depan rumah Vania.
Mang Udin yang kebetulan sedang duduk santai di kursi taman segera membuka pagar rumah setelah mendengar bunyi klakson.
Devan menghentikan mobilnya setelah melewati pagar rumah Vania. Ia segera turun untuk membukakan pintu mobil untuk gadis yang ada di sampingnya.
"terimakasih...tidak perlu repot-repot, aku bisa buka sendiri kok" kata Vania lembut setelah pintu mobil terbuka.
Vania langsung turun sendiri dari mobil karena saat itu Devan tidak mengulurkan tangannya seperti sebelum-sebelumnya.
Devan menutup kembali mobilnya dan berjalan mengikuti Vania dari belakang untuk memasuki rumah.
Mereka berhenti tepat di depan pintu. Vania mengetuk pintu dan dibuka langsung oleh Pak Firman. Vania langsung masuk dan berdiri di samping papanya.
"selamat malam oom, maaf baru nganter Vania pulang" sapa Devan ramah
"malam nak Devan, mari mampir dulu" kata Pak Firman.
"lain kali saja oom, nggak enak juga sudah malam" tolak Devan halus.
Pak Firman bisa mengerti dengan alasan penolakan Devan untuk mampir. Lelaki tua itu tidak bertanya panjang lebar karena Devan buru-buru untuk pamit. Ia hanya mengucapkan hati-hati di jalan sebelum mobil Devan melaju keluar pagar meninggalkan rumah.
Vania tidak menyampaikan apapun pada papanya setelah kepergian Devan. Begitu pula papa Firman, ia juga tidak ingin terlalu memaksakan putrinya karena baginya akan berdampak besar pada penolakan Vania terhadap perjodohan nanti.
__ADS_1
Devan begitu kacau setelah pertemuannya dengan Vania. Keadaan yang ia harapkan. justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi.
Sesampainya di rumah, ia hanya diam dan langsung menuju kamarnya setelah menyapa ayah dan bundanya yang duduk menonton TV di ruang keluarga.
"Dia kenapa Yah, nggak biasanya pulang-pulang datar gitu. Biasanya kan dia duduk ngobrol-ngobrol dulu bareng kita" kata bunda Dewi yang merasa aneh dengan tingkah putranya.
"mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan. Sudah biarkan saja dulu dia istirahat. Besok pagi bisa kita tanyakan" jawab Ayah Satria santai.
Di dalam kamar, Devan uring-uringan. Hati dan pikirannya seakan sepakat untuk bersedih. Ia tidak bisa tidur sepanjang malam karena memikirkan gadis yang menolak perjodohan dengannya.
Hingga pagi menjelang, Devan masih tetap terjaga. Ia memutuskan pergi keluar rumah untuk menenangkan pikirannya, mencari tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Dan tempat itu adalah rumah Andre.
Sesampainya di rumah Andre, Devan langsung masuk setelah dibukakan pintu oleh asisten rumah tangga keluarga Andre. Devan sudah terbiasa di rumah itu. Semua orang yang ada disana mengenalnya termasuk para asisten rumah tangga.
Devan langsung menuju kamar Andre setelah diberi tahu kalau majikan mereka masih tidur di kamarnya.
Di dalam kamar tampak Andre yang tengah tidur tanpa menggunakan kaos. Ia hanya mengenakan boxer dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
Andre yang merasa ada sesuatu yang aneh dengan spontan membuka matanya dan menoleh ke belakang. Ia terkejut mendapati sahabatnya yang selalu datang tiba-tiba tanpa memberi kabar.
"sejak kapan lu kesini, emang jam berapa sih ini" tanya Devan dengan suara parau karena bangun tidur.
"baru saja. makanya bangun, ini sudah jam 10" jawab Devan membohongi sahabatnya.
"hah? serius lu? wah... bisa telat gue, mana gue ada kuliah jam 10.15 lagi" kata Andre buru-buru bangun dan melepas selimut yang menutup sebagian tubuhnya.
Andre berlari menuju kamar mandi. Merasa sudah terlambat, ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan handuk kecil di tangannya yang ia usap-usapkan di wajah. Andre segera menuju lemari pakaiannya untuk mengambil baju untuk ke kampus.
__ADS_1
Devan bangun dan duduk di ujung ranjang sambil memperhatikan Andre. Ia terus saja terkekeh melihat tingkah konyol sahabatnya yang kalang kabut karena gugup.
"ngapain lu ketawa, ngetawain gue lu? seneng ya gue kebingungan gini" tanya Andre sinis
"lu mau kemana?" tanya balik Devan dengan masih terkekeh
"sawah...udah tau gue mau kuliah, mana udah telat gini" jawabnya sambil memakai kaosnya.
"buahahahaha" Devan semakin ngakak mendengar jawaban sahabatnya
"eh kenapa lu? bukannya kasihan malah ngeledekin gue"
"coba deh lu lihat jam dinding itu" kata Devan sambil menunjuk jam dinding yang ada diatas pintu kamar Andre.
Mata Andre mengikuti arah jari telunjuk Devan menunjuk. Dan...
"sialan lu" umpat Andre kesal karena melihat jam dinding baru menunjukkan pukul 06.10 WIB. Ia melepas kembali kaosnya dan melemparkannya tepat di wajah Devan.
Devan mengambil kaos di wajahnya dan menjatuhkannya diatas ranjang. Ia masih terkekeh sambil memegang perutnya yang semakin sakit karena tertawa.
Andre mendengus kesal dengan kejahilan sahabatnya. Ia berjalan kembali ke ranjangnya dan berbaring dengan kedua tangan yang menumpu kepalanya.
"lu pagi-pagi kemari pasti ada sesuatu" tanyanya yang merasa tak aneh lagi dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba.
Ekspresi Devan berubah seketika. tawa yang tadi menghiasi wajahnya berubah menjadi senyum kecut.
"Vania nolak gue" kata Devan singkat.
__ADS_1
"hah? serius?" tanya Andre bangun dan duduk karena terkejut dan Devan mengangguk . Ia menatap lekat wajah sahabatnya yang mulai nampak sedih.
"itu artinya lu sudah menyatakan perasaan ke dia, tapi kapan? bukannya lu baru balik dari luar negeri tiga hari lalu?" tanyanya lagi menginterogasi.