Cinta Vania

Cinta Vania
Maafkan Aku


__ADS_3

Vania memutuskan panggilannya. Ia beralih mengetik pesan untuk suaminya.


"Nanti malam jadi kan mas?"


Tanpa menunggu waktu lama Devan membalas pesannya, "iya sayang".


Vania membaca pesan itu dengan wajah masam, "huft...singkat banget balasnya. Sesibuk itukah kamu, mas?" gumamnya sambil masih menatap layar ponsel yang menyala.


Hingga sore hari. Devan tak juga kembali menghubunginya. Vania ingin bertanya tentang kepulangannya tapi ia urungkan melihat room chat WhatsApp suaminya yang sudah tak aktif sejak lima jam yang lalu. Itu artinya terakhir kali Devan membuka chat waktu Vania mengirim pesan padanya tadi siang. Ia mencoba berfikir positif, mungkin Devan sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Vania memutuskan turun ke lobby untuk pulang. Saat ia hendak melangkahkan kaki keluar pintu lobby, tiba-tiba dari belakang Ronald memanggilnya.


"Nona" panggil Ronald membuat Vania menoleh.


"Mas Ronald, bisa nggak kalau di kantor panggil saya nama saja" kata Vania pelan sambil mengeratkan giginya karena melihat sebagian karyawan memperhatikan mereka.


"Iya maaf, nona"


"Ada apa?" tanya Vania karena ia yakin Ronald pasti memanggilnya karena ada sesuatu yang penting.


"Tuan muda meminta saya untuk mengantar nona pulang"


"Mas Ronald juga langsung pulang duluan?"


"Tidak, nona. Setelah mengantar anda saya akan balik lagi kesini"


"Oo... Emang Mas Devan masih sibuk banget ya?"


"Betul, nona. Beliau masih ada pekerjaan yang belum selesai" kata Ronald menjelaskan.


"Emang dia dimana sekarang?"

__ADS_1


"Di ruangannya, Nona"


"Ada Stella?" tanya Vania mencoba menebak dengan senyum getirnya. Ada rasa sakit saat mengucapkan nama itu.


Ronald mengangguk pelan. Ia tahu betul istri atasannya itu sedang memikirkan sesuatu tentang suaminya dan Stella.


Raut wajah Vania semakin sedih. Matanya nampak berkaca-kaca. Ia berusaha untuk mendongak agar air matanya tidak jatuh. Sejenak ia tersenyum, mencoba menunjukkan ketegarannya pada Ronald.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Ronald karena melihat wanita yang ada di depannya sedang tidak baik-baik saja.


Vania hanya menggeleng pelan. Namun Ronald yakin betul istri atasannya itu sedang kecewa dan bersedih karena wanita itu tidak begitu pintar menyembunyikan kesedihannya.


"Baiklah mari saya antar, nona" kata Ronald karena tidak ingin melihat wanita itu semakin sedih.


Sepanjang perjalanan Vania hanya diam dan terus membuang muka ke jendela sampingnya. Ronald yang sesekali memperhatikan istri atasannya itu tidak berani memulai membuka obrolan.


Sesampainya di rumah, Vania masih tetap diam saja tak banyak bicara.


Vania mulai gusar dan cemas. Ia berusaha menghubungi Devan untuk menanyakan kepulangannya. Namun ternyata ponsel milik suaminya itu justru berada di luar jangkauan.


Akhirnya Vania memutuskan untuk bersiap-siap saja sambil menunggu kepulangan Devan. Sebelumnya ia sudah mengijinkan Bu Tini dan Pak Amin untuk pulang terlebih dulu dengan alasan sebentar lagi suaminya akan pulang.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Vania sudah siap dengan tampilan yang begitu cantik. Namun masih sama. Devan tak juga pulang. Dengan sabar ia menunggu kepulangan suaminya dengan duduk di ruang tengah sambil menonton TV.


Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa sudah dua jam Vania menunggu suaminya pulang. Ia mulai menghubungi kembali nomor suaminya. Namun tidak ada yang berubah. Hasilnya tetap sama, nomor itu masih di luar jangkauan.


Vania mulai kesal dan kecewa karena Devan tak menepati janjinya. Vania kembali ke kamarnya dengan penuh kekecewaan. Air matanya tak henti menetes karena sakit hati. Ia melepas gaun yang dipakainya dan menggantinya dengan baju tidur. Ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan masih menangis.


Tepat jam sepuluh lebih empat puluh lima menit. Devan keluar dari ruangannya bersama Stella dan asistennya setelah mengobrol dan berbincang-bincang.


Stella dan asistennya berpamitan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.

__ADS_1


Ronald yang sedari tadi tidak berani menganggu Devan mencoba mendekati atasannya itu.


"Maaf, Tuan. Apa anda akan langsung pulang?" tanya Ronald.


Devan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Ronald. Tidak biasanya asistennya itu menanyakan hal seperti itu. "Kenapa memang?"


"Maaf, Tuan. Tadi sore waktu saya mengantarkan Nona Vania, sepertinya Nona merasa sedih dan sedang tidak baik-baik saja" kata Ronald.


"Maksudmu?" Tanya Devan terkejut.


Devan mencoba mengambil ponsel diatas meja kerjanya yang sejak siang tadi dicharge karena baterainya habis. Dan benar saja. Ada banyak panggilan dan pesan masuk dari istrinya saat ia mengaktifkan kembali ponselnya. Ia baru ingat kalau seharusnya mereka harus pergi makan malam berdua untuk membicarakan kehidupan asmaranya.


"Shitt...Bagaimana aku bisa sampai lupa" kata Devan mengusap kasar wajahnya. Ia merasa sangat bersalah pada istrinya karena lupa dengan janjinya.


Ronald hanya memperhatikan bossnya tanpa berani bertanya.


"Makasih Nald, Aku langsung pulang saja. Aku melupakan sesuatu pada istriku. Kamu juga bisa pulang sekarang" kata Devan menepuk bahu Ronald. Ia nampak cemas dan tergesa-gesa untuk pulang.


Devan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera bertemu dengan istrinya. Jalanan yang begitu lengang karena sudah semakin malam membuat Devan sampai rumah hanya dalam lima menit.


Devan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mencari keberadaan istrinya. Ia melihat sebuah gaun yang ia belikan saat berada di Bandung tiga hari lalu ada di keranjang baju kotor. Ia yakin betul gaun itu yang seharusnya akan dipakai Vania makan malam bersamanya.


Devan beralih menatap istrinya yang sedang tertidur membelakanginya. Ia mendekat dan memperhatikan wajah istrinya. Masih ada riasan make up yang menempel di wajah cantiknya. Namun tetap saja wajah itu terlihat sedih karena masih ada bekas buliran bening yang jatuh diujung matanya. Bahkan kedua kelopak mata Vania memerah. Ia yakin sekali istrinya habis menangis.


Ada rasa bersalah dalam benaknya karena telah mengabaikan Vania. Ingin sekali ia memeluk istrinya dan meminta maaf atas kesalahannya. Namun itu tidak mungkin. Ia yakin Vania sangat lelah dan Devan juga tidak tega mengganggu istirahatnya.


Devan mengusap lembut pipi Vania kemudian mencium keningnya. "Maafkan aku, sayang" katanya lirih dan pelan agar Vania tak terbangun.


Devan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian naik ke atas tempat tidur. Seperti biasa ia memeluk tubuh istrinya hingga tertidur.


Vania yang merasakan ada gerakan tangan yang menindih badannya dan memeluknya menjadi terbangun. Namun ia tak sampai menggerakkan badannya karena tidak ingin suaminya mengetahuinya. Hanya kedua matanya yang terbuka. Ada rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan hingga tak sadar membuat air matanya kembali membasahi bantal yang ia pakai.

__ADS_1


__ADS_2