
Maya telah kembali ke ruangannya setelah mengantar Vania dan menyampaikan pesannya pada pak Romi. Iya pesan, lagi pula Pak Romi juga tidak akan berani menolak permintaan Vania untuk pulang.
Maya kembali berkutat dengan papan keyboard di depan layar komputernya menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ia menghentikan kembali aktifitas mengetiknya saat mendengar telepon di meja Vania berdering. Maya merasa aneh karena telepon itu biasanya hanya akan berbunyi saat pak Romi mencarinya. Tapi ini, Pak Romi bahkan sudah tahu jika asistennya itu sudah pulang.
Maya bergerak mengangkat gagang telepon meja Vania.
"Halo dengan sekertaris manager disini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Maya saat panggilan mulai terhubung.
"Sekertaris? siapa ini?"
"Saya Maya. Maaf dengan siapa ya?" tanya Maya karena suara pria di seberang telepon itu tidak dikenalnya.
"Ini saya Devan. Dimana istriku?" tanya Devan cepat.
"Oh maafkan saya, pak Presdir. Istri anda sudah ijin pulang beberapa menit yang lalu" jawab Maya gugup karena tidak menyangka akan berbicara dengan presdirnya.
"Ijin pulang? Ada apa ini... Bukankah ini masih pukul tiga. Apa terjadi sesuatu? Karena ponselnya juga tidak bisa dihubungi"
"Emm... Sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya sedih" kata Maya ragu-ragu. Ia sedikit takut mengatakan yang sebenarnya.
"Sedih? maksudmu? Bisakah kau jelaskan?" Suara Devan terdengar panik saat mendengar keadaan istrinya.
"Saya tidak bisa menjelaskan semuanya lewat telepon pak"
"Baiklah, cepat ke ruangan saya sekarang" perintah Devan yang kemudian memutuskan panggilan tiba-tiba.
"huft... suaranya terdengar mengerikan. Dan pekerjaanku akan tertunda lagi..." katanya sambil meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya. Ia beralih menatap layar komputernya. " Baiklah... akan ku lanjutkan nanti. Aku harus membantu Vania menyelesaikan masalahnya dulu" katanya sambil menggerakkan mouse untuk
menyimpan sebagian file yang sudah diketiknya.
Maya menyambar dua amplop coklat yang ada di laci mejanya untuk dibawa ke ruangan Presdir. Ya, pikirnya pak Presdir harus tahu tentang semua itu.
Selang beberapa menit kemudian Maya sudah berdiri di depan pintu ruangan Presdir setelah menyampaikan maksudnya pada Lia yang berada di meja kerjanya. Lia pun mempersilahkan Maya untuk langsung mengetuk pintu ruangan Presdir.
__ADS_1
tokk... tokk... tokkk....
"Masuk" sahut Devan dari dalam.
Maya membuka pelan ruangan presdir dan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Duduklah" kata Devan menunjuk kursi di depannya dengan tangannya.
"Terimakasih pak" jawab Maya sambil mengikuti perintah atasannya.
"Bisa kau jelaskan sekarang? Dan apa itu yang kau bawa?" tanya Devan melihat Maya terus memegang dua amplop coklat.
"Ini pak silahkan anda lihat sendiri" jawab Maya sopan sambil menyerahkan dua amplop yang dibawanya pada Devan.
Devan mengambil amplop itu dan membukanya. Ia terkejut saat melihat isi di amplop itu semua tentang fotonya bersama Stella.
"Apa ini maksudnya" tanya Devan marah dan memasukkan kembali foto ke amplop.
"Sebelumnya maaf, Pak. Bukan saya mau mencampuri rumah tangga anda. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang sudah terjadi hari ini" Maya menceritakan perihal bagaimana sikap Vania dan apa yang Vania katakan setelah mendapat dua amplop dari orang tak dikenal.
Devan menghela nafas pelan sambil dengan otak yang terus berfikir siapa yang ada dibalik semua ini dan apa tujuannya.
"Baiklah, terimakasih atas bantuanmu. Kamu bisa kembali ke ruanganmu" kata Devan mengusir halus Maya dari ruangannya.
Maya pun keluar dari ruangan Presdir dan kembali ke mejanya.
"Ya Allah... kenapa jadi serumit ini" keluh Devan mengusap kasar wajahnya. Ia beranjak dari duduknya dan menyambar jas yang tergantung di kursi.
Saat Devan membuka pintu, ia melihat Ronald sedang berdiskusi dengan Lia mengenai jadwal meeting di depan meja Lia.
"Ronald, tolong kau urus pertemuan dengan Stella sore ini. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan" katanya sambil berlalu.
"Baik, boss"
__ADS_1
Devan mengendarai mobilnya pulang. Ia sudah tak sabar ingin segera menemui istrinya. Memeluk erat dan memberikan penjelasan mengenai foto-foto itu.
Bu Tini terkejut dengan kepulangan majikannya yang tiba-tiba. Tidak seperti biasanya suami istri itu pulang kantor sendiri-sendiri di jam yang masih sore seperti ini.
"Bu, jika kerjaan semua sudah beres, kalian boleh pulang dan kembali besok pagi" Kata Devan sopan. Ia hanya tidak ingin Bu Tini sampai tahu permasalahan rumah tangganya.
"Baik, Tuan. Semuanya sudah selesai" Kata Bu Tini patuh. Tidak biasanya hal seperti ini terjadi. Namun ia yakin suami istri itu sedang dalam masalah sehingga membuatnya tak berani banyak bertanya.
Devan bergegas menuju kamar menemui istrinya. Dilihatnya Vania sedang tidur membelakangi pintu.
Devan melepas jasnya dan berjalan mendekati tempat tidur. Tanpa ragu lagi ia memposisikan dirinya disamping Vania dan memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
Vania yang terkejut karena tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di pinggangnya langsung terbangun.
"Mas... kamu pulang?" tanya Vania memutar kepalanya.
Devan tak menjawab psertanyaan istrinya. Ia hanya meletakkan jari telunjuknya di bibir Vania meminta untuk tetap diam.
"Sstttt... diamlah. Biarkan sesaat seperti ini" kata Devan lirih membuat Vania terdiam dan kembali ke posisinya.
"Maafkan aku tentang semalam dan beberapa foto yang telah menyakitimu" lanjutnya dengan masih memeluk istrinya.
Vania menautkan alisnya mendengar suaminya sudah mengetahui tentang foto itu.
"Aku bersumpah tidak ada hubungan khusus dengan Stella. Kalaupun kami sering menghabiskan waktu bersama, itu hanya karena urusan kerja. Jika dikatakan dekat, iya aku memang sudah lama mengenalnya sejak masih tinggal di London. Aku harap kamu tak salah paham. Dan maaf jika akhir-akhir ini aku sibuk diluar dan memiliki banyak waktu untukmu. Tapi percayalah, perasaanku tak pernah berubah. Justru semakin hari aku semakin mencintaimu, bahkan setiap detik aku selalu merindukanmu" kata Devan dengan nada mulai melemah. Ia sangat lemah saat berhadapan dengan istrinya.
Vania membalikkan tubuhnya agar bisa melihat jelas pria yang kini sudah menjadi suaminya.
"Aku hanya ingin meyakinkan perasaanku setelah melihat semuanya. Apa salah?" tanya Vania menatap lekat Devan.
Devan menggeleng, "Tidak... kau tak salah. Justru aku yang harus meminta maaf karena kesalahanku sejak tadi malam"
"Lupakan itu, aku tidak ingin membahasnya lagi" kata Vania tiba-tiba kembali kesal. Ia bangun dan beralih duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Devan mengikuti pergerakan istrinya dan duduk di sebelahnya. "Apa itu artinya kau masih marah dan menolak permintaan maafku?" tanya Devan memiringkan kepalanya agar bisa melihat jelas wajah istrinya.