Cinta Vania

Cinta Vania
Temuilah Mereka


__ADS_3

Vania sampai dirumah pukul 17:10 WIB. Nadya langsung pulang setelah mengantarkan Vania sampai rumah.


"assalamualaikum pa" sapa Vania saat melihat papa Firman duduk membaca koran di sofa ruang tamu. Vania meraih tangan papanya untuk menciumnya.


"waalaikumsalam, kenapa sampai jam segini baru pulang nak"


"Maaf pa, Vania lupa bilang... tadi Vania ziarah ke makamnya Ditya dulu sebelum pulang"


"sini duduk dulu, papa mau ngomong" kata Papa Firman sambil menepuk sofa di sampingnya.


Vania mengikuti apa yang diminta oleh papanya. ia mendudukkan tubuhnya tepat di samping papa Firman.


"sampai kapan kamu mau seperti ini, Bagaimana kamu bisa mencari kebahagiaan sementara setiap minggu kamu selalu mengingat kesedihan itu" kata bawa firman sambil mengelus rambut kepala Putrinya.


"Papa minta tolong kamu jangan terlalu sering pergi ke sana, jika memang kamu ingin benar-benar bangkit" lanjutnya


Vania hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Pertanyaan yang diucapkan oleh kata Firman membuatnya sedih. Tanpa papa Firman sadari air mata Vania sudah menetes di pipi mulusnya.


Kata-kata papa Firman begitu menyentuh hati. Bahkan suaranya bergetar karena menahan tangis. Papa Firman tidak mau membuat putrinya semakin sedih. Ia hanya mencoba memberikan sedikit nasehat dan masukan agar putrinya bisa kembali seperti Vania yang dulu mereka kenal begitu ceria.


"maafin Vania, pa”. Hanya itu kata yang mampu Vania ucapkan. Kedua bahunya sudah bergetar karena menangis.


"maaf, papa terpaksa mengatakan ini. papanya ingin putri papa bahagia. Kita semua sayang sama kamu. Mana Vania yang dulu papa kenal? Vania yang ceria dan murah senyum. Kita semua rindu semua itu"


"Vania janji akan mengurangi waktu kunjung ke makam Ditya"


"sekali lagi maafin papa nak"


"enggak, papa nggak salah... Vania yang harus mulai menjaga sikap" kata Vania menoleh ke papanya


Papa Firman memeluk erat putrinya dengan kasih sayang. Ia begitu bahagia mendengar jawaban Vania. Berharap Vania akan menepati janjinya dan sedikit melupakan mantan kekasihnya itu.


"baiklah...mandilah dan bersiap sholat" kata papa Firman melepaskan pelukan pada putrinya.


Vania mengangguk dan tersenyum. Ia mencium pipi kanan papanya dan bangkit menuju kamarnya.

__ADS_1


Malam harinya semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan kecuali Vania. Mama Karin menaiki tangga menuju kamar putrinya untuk mengajaknya makan malam.


tok..tok..tok... suara pintu kamar Vania diketuk dari luar


"sayang, ayo makan dulu"


"iya ma, bentar lagi turun... Vania beresin buku dulu" teriak Vania dari dalam.


Mama Karin kembali ke meja makan setelah mendapat sahutan dari Vania. Tak lama kemudian Vania turun dan menghampiri mereka untuk makan bersama.


Ke empat orang itu makan malam dengan tenang. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring masing-masing.


Papa Firman lebih dulu menghabiskan makannya. Ia meneguk air putih di gelas yang ada di hadapannya.


"Vania, habis makan jangan ke kamar dulu ya, kita ke gazebo taman dulu, papa mau ngomong sesuatu" kata Papa Firman pada putrinya karena semenjak Vania bersedih tidak pernah ikut bergabung bersama orang tua dan kakaknya untuk berkumpul dan mengobrol setelah makan malam.


"iya pa"


Papa Firman meninggalkan meja makan dan menuju ke gazebo taman terlebih dahulu.


Mereka mengobrol santai sambil tertawa-tawa. Suasana hangat mulai nampak kembali dalam kekeluargaan itu. Kebahagiaan yang kemarin terjeda selama berbulan-bulan kini mulai tumbuh kembali.


Selang beberapa menit kemudian, papa Firman mencoba untuk memulai obrolan serius pada kedua anaknya.


"Dit, bagaimana hubunganmu dengan Renata? kok sekarang papa lihat kamu jarang bertemu"


"baik pa... Renata sedang mempersiapkan ujian S2 Pa, jadi Adit nggak mau ganggu dulu biar dia fokus"


"oo....Alhamdulillah kalau gitu"


"Vania" lanjut papa Firman menatap putrinya.


Vania mengangkat kepalanya menghadap papa Firman setelah mendengar panggilan dari papanya.


"kamu masih ingat Pak Satria da Bu Dewi?"

__ADS_1


Vania mengangguk mengiyakan pertanyaan papanya, "iya Vania ingat".


"kamu tahu putranya?"


Vania menggelengkan kepalanya pelan, "Vania cuma tahu putra mereka sedang wisuda kelulusan di luar negeri, selebihnya Vania tidak tahu apa-apa", jawab Vania karena masih mengingat betul kata-kata bu Dewi saat menghubunginya.


"begini, kemarin bu Dewi dan Pak Satria mendatangi papa sebelum mereka berangkat ke luar negeri. Mereka sangat menyayangimu seperti putri mereka sendiri. Dan mereka menyampaikan pesan bahwa...." pak Firman menghentikan kata-katanya. Ia takut pernyataannya akan menyakiti putrinya.


"bahwa apa, Pa?" tanya Vania.


Pak Firman menatap menoleh ke istrinya seolah meminta jawaban atas keinginannya. Bu Kari mengangguk dan tersenyum lembut seolah memberikan jawaban kalau ia mengiyakan suaminya itu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Mereka ingin menjadikan kamu sebagai menantu di keluarga mereka" lanjut pak Firman pelan


"maksud papa?"


"mereka ingin menjodohkan kamu pada putra mereka"


"tapi pa...."


"papa nggak akan maksa kamu sayang, kalau kamu menolak nggak apa-apa, papa akan sampaikan itu pada mereka"


"pa, Vania masih mau sekolah, pa"


"mereka tidak terburu-buru sayang, mereka hanya ingin ada ikatan terlebih dulu"


"tapi Vania nggak kenal dan nggak tahu putra dari Oom Satria dan Tante Dewi" jawab Vania terus mengelak


"apa kamu ingin menolak?" tanya papa Firman menatap putrinya dengan wajah yang sedih.


Vania menundukkan kepalanya. Ia tidak punya banyak keberanian untuk menolak keinginan papanya.


" Lusa nanti mereka akan kembali ke tanah air, satu hari setelahnya mereka mengajak kita makan malam. kalian akan saling berkenalan. Temuilah mereka terlebih dahulu, setelah itu silahkan kamu memutuskan melanjutkan apa tidak. papa tidak akan memaksamu" Kata papa Firman.


Vania tak bergeming sama sekali. Ia masih tetap diam dan menunduk.

__ADS_1


"maaf jika papa melakukan semua ini" lanjut papa Firman menepuk bahu putrinya.


__ADS_2