
Ceklek....
Suara seseorang membuka handle pintu dari dalam dan menariknya pelan membuat pintu terbuka.
Devan melihat sosok yang dicarinya. Tanpa berkata sepatah katapun, Devan menghambur memeluk tubuh Vania.
"Mas, jangan seperti ini" kata Vania berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Diamlah... jangan cerewet" bantah Devan tanpa mengubah posisinya.
Vania diam tak lagi bisa menjawab. Ia hanya bisa merasakan kehangatan dalam dekapan yang selalu ia rindukan.
"Mas, lepaskan dulu. Enggak enak dilihat ibu-ibu di depan" kata Vania.
Devan menjauhkan tubuhnya dari Vania. Ia menoleh ke belakang. Benar saja, ada beberapa ibu-ibu yang memperhatikan mereka.
Vania berusaha senyum menyapa ibu-ibu yang berhenti di depan pagar rumahnya.
"Itu siapanya, Mbak Dani? Kok datang-datang main peluk-peluk aja" kata salah satu ibu-ibu dengan nada menyindir.
"Saya suaminya, Bu" jawab Devan dengan suara yang sedikit keras agar ibu-ibu itu mendengar.
Para ibu-ibu itu terkejut melihat ketampanan suami Vania. Mereka berpikir Vania yang dikenalnya Dhani itu adalah seorang wanita yang belum bersuami.
"Yang benar, mbak? kirain mbak Dhani cuma bohong sering bilang punya suami, soalnya nggak pernah lihat" ucap salah satu ibu itu.
"Iya, saya pikir juga begitu, sampai mau tak jodohin sama keponakanku lho" kata satunya menimpali.
Vania tersenyum mendengar ucapan ibu-ibu tetangganya itu. Dengan ragu-ragu, ia mengangguk pelan, "Iya Bu, dia suami saya. Dia tinggal di Jakarta".
Senyum Devan mengembang seketika mendengar Vania mengakuinya. Ia kembali menatap Vania dengan tatapan lembut.
"Ya sudah dilanjutin lagi aja kangen-kangenannya. Maaf ya sudah ganggu. Monggo, mbak Dhani" pamit ibu-ibu itu.
"Injih, monggo Bu" jawab Vania yang sedikit mengerti bahasa mereka.
"Apa kau akan terus membiarkanku berada di luar?" tanya Devan setelah ibu-ibu itu pergi.
"Oh iya maaf, mas. Silahkan masuk" kata Vania mempersilahkan Devan masuk melewatinya.
"Kenapa pintunya dibiarkan terbuka?" tanya Devan karena melihat Vania mengikutinya masuk tanpa menutup pintu kembali.
"Nggak enak kalau ada yang lihat, mas. Dikiranya kita ngapa-ngapain"
"Emang kenapa kalau kita ngapa-ngapain, toh kita memang suami istri. Ingat kamu masih istri sah ku. Aku tidak pernah menjatuhkan talak padamu" kata Devan membuat Vania ingat akan statusnya.
__ADS_1
Vania hanya diam di tempatnya. Devan yang sudah duduk di bangku kayu panjang berlapis busa itu hanya menatap heran istrinya.
"Aku bikinin minum dulu, mas" kata Vania tiba-tiba untuk menghilangkan kegugupannya.
"Nggak usah... kemarilah" kata Devan sambil menepuk tempat duduk di sampingnya.
Vania tak bergerak. Ia merasa canggung harus berdekatan dengan Devan.
"Kanapa diam? Apa kau ingin aku menjemputmu dan mendudukkanmu di pangkuanku?"
Pertanyaan Devan membuat Vania terkesiap. Spontan ia menggelengkan kepalanya. Vania hendak mendekat ke arah Devan. Namun Devan menghentikan langkahnya.
"Tunggu tutup dulu pintunya" kata Devan menunjuk ke arah pintu.
"Tapi____"
"Mau aku bilang ke ibu-ibu tadi kalau kau sengaja pergi ke kota ini untuk meninggalkanku?" kata Devan mengancam.
"Ceh, menyebalkan" Vania mendengus kesal dengan menghentakkan salah kaki kirinya ke lantai kemudian berbalik menuju arah pintu unuk menurupnya.
Devan seketika melipat bibirnya menahan senyum melihat Vania yang sedang kesal.
Setelah menutup pintu, Vania duduk di bangku yang sama dengan suaminya. Karena merasa canggung, ia memberi jarak agar tidak terlalu dekat.
Devan yang melihat Vania menjauh membuatnya menggeser duduknya agar bisa dekat dengan istrinya.
"Aduh" pekik Vania kesakitan karena Devan menjentikkan jarinya di kening Vania. Vania mengusap-usap keningnya.
"Itu balasan buat istri yang berani bohong pada suaminya"
"Mas, aku____"
"Sudah diam. Aku sudah tahu semuanya. Kamu ini hidup di kota orang sudah banyak berubah. Tapi kenapa masih saja keras kepala" pangkas Devan.
"Mas tahu darimana?" tanya Vania heran
"Aku bertemu Sherin tadi pagi waktu mau ke bandara"
"Jadi dia cerita semuanya?"
"Ya, kecuali satu hal. Alasan kamu membohongiku" Devan menatap tajam mata Vania. "Jika kamu masih mencintaiku? kenapa kamu tidak ingin kembali?" lanjutnya bertanya.
Vania diam dan menunduk. Ia tak tahu harus mulai menjawab darimana. Rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, dokter dan Sherin mau tidak mau harus ia katakan pada suaminya. Namun ada rasa takut jika Devan akan membuang dan meninggalkannya.
"Kenapa diam? Apa yang kau sembunyikan?" tanya Devan meraih dagu Vania agar mendongak menatap wajahnya.
__ADS_1
"Jika aku mengatakannya, apa kau yakin akan masih mau bersamaku?"
Devan mengangguk, "Apapun dan bagaimanapun dirimu. Insya Allah aku bisa terima, katakanlah" kata Devan lembut.
"Apa kau menginginkan seorang anak?"
"Tentu saja, Lelaki mana yang tidak ingin punya anak dari pernikahannya. Apalagi dari wanita yang dicintainya".
"Bagaimana jika aku tak bisa memberikanmu?" tanya Vania membuat Devan mengernyit aneh.
"Apa maksudmu?"
"Aku sering mengalami pendarahan setelah kuret yang pernah aku alami hingga aku harus bolak balik ke rumah sakit untuk berobat. Dokter akhirnya mengatakan jika kandunganku bermasalah. Dan kecil kemungkinan bagiku untuk hamil kembali" kata Vania dengan tubuh bergetar di akhir kalimatnya. Ia tak sanggup menahan rasa sesak di dadanya mengingat apa yang pernah dokter sampaikan padanya.
Devan memeluk tubuh Vania yang menangis. Ia bisa merasakan bagaimana sakitnya apa yang Vania rasakan selama ini. "Maafkan aku, sayang. Karena aku, kamu seperti ini" kata Devan menciumi pucuk kepala Vania.
Devan melepas pelukannya. Ia mencakup kedua pipi Vania yang basah karena air mata.
"Sayang, dengarkan aku. Semua orang yang menikah pasti ingin punya anak agar memperkuat pernikahan mereka. Tapi balik lagi, anak adalah rejeki dari Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Jika kau kamu kita bisa melakukan berbagai tindakan untuk menyuburkan kembali kandunganmu. Percayalah, semua akan baik-baik saja".
Vania menganggukkan kepalanya. Ada rasa lega dalam benaknya. Ia merekatkan kembali tubuhnya dalam pelukan Devan.
"Sudahlah... hari ini aku datang. Harusnya kamu bahagia. Aku tidak ingin terus melihat air matamu" kata Devan mengelus rambut Vania.
Vania melepaskan pelukannya. Ia menghapus sisa air mata di wajahnya.
"Mas sudah makan?" tanya Vania dengan suara serak.
Devan menggeleng.
"Aku masakin sebentar ya"
"Bukannya nggak bisa masak?" kata Devan tak percaya.
"Aku belajar banyak disini. Terlalu buruk jika aku hanya mengandalkan sesuatunya dengan uang" kata Vania beranjak.
"Ceh..." desis Devan. "Kamu saja yang keras kepala, dikasih debit card malah dikembalikan" Devan mengambil dompet dari dalam sakunya. Ia mengeluarkan sebuah kartu yang dulu pernah diberikan pada Vania. "Aku tak tahu berapa isinya, aku hanya terus menambahkannya tiap minggu berharap kau akan memakainya. Ambillah... jangan membuatku terus merasa berdosa karena kau tak pernah menerima nafkah dariku" lanjutnya menyerahkan debit card ke Vania.
Vania hanya diam tak bergerak.
"Kenapa diam? ambil atau aku akan mencairkannya dan menyerahkannya di depanmu?"
"Tak perlu, mas. Aku akan menerimanya" kata Vania lalu mengambil kartu dari tangan Devan.
"Nah, gitu dong. Kenapa harus diancam dulu baru mau nurut" kata Devan menahan tawa.
__ADS_1
"Kamu selalu saja menyebalkan" kata Vania memanyunkan bibirnya lalu melangkah menjauh membuat Devan tertawa lepas.