Cinta Vania

Cinta Vania
Hidup mandiri


__ADS_3

"Ini permintaanku, mas. Dan aku enggak suka ditolak. Aku seperti ini karena aku mencintaimu, mas. Aku nggak mau kamu banyak pikiran memikirkan semua ini" sangkal Vania menirukan perkataan Devan tempo hari.


Devan hanya mengehembuskan nafas pelan dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Kemudian ia tersenyum kecil karena melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.


"Baiklah" kata Devan mengusap mengusap rambut istrinya lembut. Namun sejenak kemudian senyum itu berubah. "Tapi bagaimana dengan kebutuhan kita selanjutnya, sayang. Tabungan akan terkuras habis untuk kebutuhan ini" lanjutnya.


"Maksudmu?"


"Semua simpanan akan habis untuk semua ini, dan ke depannya tabungan akan kosong"


Bola mata Vania bergerak mulai memikirkan sesuatu. Namun ia tak juga menemukan solusi.


"Nanti kita pikirkan. Yang penting urusan ini kelar dulu" kata Vania berusaha untuk membuat tenang dan mengembalikan semangat suaminya.


"Baiklah, sayang. Makasih kamu sudah ada di saat aku terpuruk seperti ini" kata Devan lirih dengan senyum haru yang ditutup dengan sebuah kecupan di bibir Vania.


"Jangan dilanjutkan, mas. Aku takut kamu nggak bisa kontrol" kata Vania menahan bibir suaminya dengan telapak tangan.


"Kenapa?"


"Kamu nya nggak kenal lelah, mas. Aku capek" kata Vania manja membuat Devan merasa makin gemas.


Devan beralih mengunci kedua tangan istrinya agar tak bisa menghindar. Ia kini menciumi pipi istrinya berulang kali.


Vania yang merasa geli hanya bisa memejamkan mata sambil cekikikan dan teriak kegelian.


"Udah, mas... geli tahu" kata Vania. Namun suaminya itu tak kunjung menghentikan aktifitasnya. Ia justru semakin sengaja menggoda istrinya.


Candaan mereka terhenti saat mendengar sebuah ketukan pintu dari luar. Vania segera beranjak dan hendak berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Aku aja yang buka, yang Kamu duduk aja disana" cegah Devan meminta istrinya untuk kembali duduk.


Vania kembali duduk di sofa, sedang Devan bergerak menuju pintu.


Salah seorang asisten rumah tangga berdiri di depan pintu memanggil majikannya untuk sarapan pagi.

__ADS_1


Devan pun menjawab dan mengiyakan dengan bahasa yang di mengerti oleh asisten itu. Kemudian ia menutup kembali pintu saat asisten pergi.


"Kalian biasa sarapan sepagi ini, mas?" tanya Vania.


"Sebenarnya bukan sarapan seperti kita di tanah air, yang. Lebih tepatnya mengganjal perut" kata Devan sambil tertawa.


"Kok gitu?" tanya Vania bingung.


"Ya iya... orang cuma menikmati secangkir teh atau kopi sama buah aja"


"Memang orang sini kebiasaanya kaya gitu ya?"


"Bukan, sayang. Ini hanya tradisi di keluarga kami sendiri"


"Oo..." Vania hanya manggut-manggut sambil membulatkan bibirnya. "Maaf aku baru tahu, padahal kita menikah sudah empat tahun" kata Vania sambil tersenyum malu karena merasa bodoh.


"Ya sudah, nggak usah dipermasalahkan. Sekarang buruan kamu siap-siap" kata Devan mengacak rambut istrinya dengan gemas.


Pagi itu setelah menyelesaikan sarapan, Devan dan ayahnya berpamitan pada istri masing-masing untuk berangkat ke perusahaan.


Vania tersenyum dan mengangguk. Ia mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati di jalan ya, mas" kata Vania


"Iya, sayang"


Vania kembali ke dalam rumah selepas kepergian suaminya ayah mertuanya. Ia menemui Bunda Dewi yang sedang duduk memanggilnya di ruang keluarga.


Vania duduk di sebelah ibu mertuanya yang sedang merajut.


"Bunda bisa merajut?" tanya Vania


"Hanya sekedar hobi jika tidak ada kerjaan, sayang. Bunda biasanya bikin syal atau sweater buat ayah dan suamimu" kata bunda yang kemudian menghentikan aktifitasnya. "Bunda mau tanya sesuatu sama kamu" lanjut bunda Dewi lembut.


"Ada apa, bunda?"

__ADS_1


"Kamu sudah tahu tentang masalah perusahaan yang suamimu alami?" tanya bunda Dewi.


"Sudah, bunda".


"Bunda bingung dengan anak itu. Sebenarnya kami ingin mengurus semua kerugian ini. Tapi ia selalu menolak dengan alasan ini mimpinya"


Vania tersenyum, "Sebenarnya mas Devan itu pribadi yang seperti apa sih, bund?. Jujur Vania juga tak begitu faham seperti apa dan bagaimana sifatnya" kata Vania yang tak begitu mengenali suaminya.


"Devan adalah putra semata wayang kami. Namun, semenjak kecil ia hampir tak pernah menyusahkan kami. Ia selalu berusaha hidup mandiri tanpa bantuan dari kami. Ia sama sekali tidak sama dengan pria lain yang hanya bisa menghabiskan uang orangtuanya. Sebenarnya saat pertama kali ayah menyerahkan perusahaan padanya, dia menolak keras dengan alasan ingin hidup mandiri dengan bertumpu pada kakinya. Namun, kami terus memaksa hingga akhirnya setuju. Dan hasilnya, perusahaan berkembang pesat seperti sekarang ini. Anak itu sangat berbeda. Ia tidak suka dengan sesuatu yang berlebihan. Ia lebih suka melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan orang lain. Ronald saja yang seharusnya menjadi asisten pribadinya malah hanya jadi asisten pekerjaan di kantor. Bahkan untuk keluar kota, dia lebih senang memakai penerbangan ekonomi, padahal kami punya jet pribadi. Ia hanya akan menggunakan jetpri untuk keperluan mendesak. Devan selalu bersikap mandiri dan hidup tanpa embel-embel dari Atmadja. Ia ingin menjalani kehidupan normal tanpa perhatian dan bantuan orang lain selagi ia masih mampu" kata Bunda tersenyum mengingat kegigihan putranya. "Sekarang dengan adanya permasalahan ini, bunda khawatir dengan cara ia mengatasinya, sementara ia bilang jika tabungannya kurang" lanjut bunda mendadak ekspresi wajahnya berubah.


"Bunda, kami sudah menemukan solusinya. Sebenarnya mas Devan mengirim dan menyimpan semua uang di kartu debit yang Vania bawa. Vania juga baru tahu pagi tadi. Kami akan menggunakan uang itu untuk menyelesaikan masalah perusahaan"


"Cukup?" tanya bunda Dewi khawatir.


Vania tak menjawab. AIA hanya diam menunduk menatap lantai marmer tempatnya berpijak.


"Sayang, kenapa diam? Bunda akan merasa semakin khawatir jika kau hanya diam".


"Sebenarnya, semuanya cukup, bund. Hanya saja ____" diam sejenak. "Tabungan kami akan terkuras habis dan kami tak punya lagi simpanan.


"Bunda akan bantu, sayang".


"Enggak, bunda. Aku nggak mau mas Devan marah karena ditentang keinginannya" kata Vania menolak halus saran dari ibu mertuanya.


"Ya sudah begini saja, kamu bilang sama Devan untuk menjual rumah dan pindah ke rumah utama. Dari pada hanya ditempati oleh asisten saja. Nanti hasil penjualannya bisa kamu pakai untuk tabungan" kata Bunda Dewi menyarankan.


Vania kembali berfikir. Benar saja apa kata Vania. Lagi pula Bu Tini dan Pak Amin juga bisa pundak kerja di rumah utama.


"Bunda benar. Aku akan segera membicarakan ini dengannya sepulang dari perusahaan"


"Bunda hanya bisa menyarankan membantu seperti ini, sayang. Agar suamimu tak marah" kata Bunda Dewi.


Vania tersenyum lembut dan mengangguk dengan pengakuan ibu mertuanya.


"Kamu tahu, sayang. Bunda senang sekali rumah tangga kalian kembali harmonis setelah mengalami banyak sekali masalah. Bunda ingin kalian senantiasa bahagia dan tak ada lagi pengganggu". kata Bunda dengan rona wajah yang begitu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2