Cinta Vania

Cinta Vania
Aku Butuh Bekal


__ADS_3

Vania terdiam sejenak memikirkan perkataan Devan. Ia merasa sangat berat membiarkan lelaki itu pergi. Namun terlalu egois jika ia harus mencegahnya.


"Yang... kenapa diam?" panggil Devan


"Emm...iya" jawab Vania terkejut.


"Apa kamu mau pergi bersamaku?"


"Aku nggak mungkin ninggalin pekerjaanku, mas. Lagipula selama kamu pergi pasti pak Romi akan sangat sibuk. Lalu jika aku juga harus ikut pergi bukankah tugas disini akan semakin terbengkalai?"


"Tapi rasanya aku tak bisa jauh terlalu lama darimu"


"Kamu bisa menghubungiku, mas"


Devan membuang nafasnya kasar. Benar juga apa yang dikatakan Vania. Keinginannya hanya akan membuat pekerjaan disini semakin kacau. "Aku akan sangat merindukanmu".


Berapa lama kau akan berada disana?"


"Aku akan pulang sebelum weekend. Karena aku akan mengajakmu ke rumah Oma di Bandung sekalian menghadiri pernikahan Sita"


"Sita?" tanya Vania menyebut ulang nama yang diucapkan suaminya. Ia memutar ulang memory di otaknya mengingat nama itu terasa tidak asing di telinganya.


"Temanku dari Bandung yang tempo hari ku kenalkan padamu"


"Oh iya aku ingat...." kata Vania tersenyum setelah menemukan memory yang ia lupa.


"Apa kau tidak apa-apa ku tinggal?" tanya Devan cemas.


"Mas...ayolah... bukankah kamu hanya tiga hari saja berada disana?"


"Iya... Tapi itu sangat lama bagiku. Aku takut tak bisa menahan rinduku" katanya sambil bergelayut manja di tubuh istrinya.


"Mas...." Tegur Vania pelan agar suaminya meengrti jika dirinya akan baik-baik saja.


"Atau begini saja, aku akan menitipkanmu di rumah mama. Pulang dari London nanti aku akan menjemputmu. Untuk sementara aku akan meminta Pak Amin untuk mengantar jemputmu".


"Terserah kau saja. Tapi aku akan sangat bahagia jika bisa tinggal sementara di rumah Mama"


"Baiklah, dengan begitu kau tak akan kesepian"

__ADS_1


Vania mengalungkan kedua lengannya di leher Devan. Membuat pria itu semakin berat untuk pergi.


"Yang..." panggilnya lirih


"Apa?"


"ceh...."Devan mencebikkan bibirnya kesal.


"Apaan sih"


"Kau membuatku semakin malas untuk pergi" kata Devan sambil memeluk erat istrinya dan menenggelamkan wajahnya di leher Vania.


"Mas, jangan gini...geli tahu" kata Vania sambil mencoba menjauhkan wajahnya agar bisa menghindari nafas suaminya yang membuatnya bergidik.


"Apa kau tak ingin memberiku bekal sebelum pergi?"


"Apa makanan di London tidak enak, huh? sampai kau harus membawa bekal dari rumah? Turunkan aku, aku akan ijin pulang intuk menyiapkan perlengkapanmu sebelum berangkat" Vania memegang kedua lengan Devan agar melepas pelukannya.


"Tidak perlu. Aku akan membawa pakaian seadanya disini. Dan aku tidak butuh bekal makanan. Lagi pula aku akan tinggal di mansion bersama Ayah dan Bunda. Jadi aku tak perlu khawatir untuk semua itu".


"Lalu? kenapa kau minta bekal dariku?" tanya Vania heran.


Vania memalingkan wajahnya karena pipinya yang sudah memerah menahan malu.


Devan meraih pipi Vania agar kembali menghadapnya. Ia mencakup kedua pipi itu dan mencium kening Vania dengan lembut.


Vania memejamkan mata menikmati sentuhan hangat bibir Devan di keningnya. Ciuman itu turun kebawah. Devan mengecup singkat bibir Vania berulang kali membuat pemiliknya membuka mata dan merasa kesal karena lelaki itu terus menggodanya. Devan terkekeh melihat ekspresi kesal istrinya. Ia kembali mengecup bibir Vania. Hingga kecupan itu berubah menjadi lu*atan lembut diikuti oleh tangan Devan yang beralih menyentuh tengkuk Vania agar ia bisa dengan bebas menikmati bibir ranum istrinya yang selalu ia rindukan.


Vania memejamkan kembali matanya. Ia benar-benar menikmati ciuman Devan. Namun ia masih bisa mengendalikan diri untuk tidak membalas ciuman itu.


Devan melepaskan ciumannya setelah merasa Vania mulai susah bernafas karena kelelahan.


"Makasih sayang... Aku akan selalu merindukan bibir ini. Semoga setelah aku kembali dari London nanti, kamu sudah mencintaiku" kata Devan lirih.


Vania mengangguk pelan. Sebenarnya ia sudah mencintai Devan sebelum adanya pernikahan mereka. Namun, rasa khawatir akan para wanita-wanita cantik yang ada di kehidupan suaminya membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan cintanya. Ia hanya butuh meyakinkan perasaannya dan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


"Aku akan menyiapkan keperluanmu yang ada di ruangan itu" kata Vania sambil menunjuk ruang istirahat suaminya.


"Sebentar, aku masih ingin seperti ini" cegah Devan kembali memeluk istrinya.

__ADS_1


"Kamu sangat manja sekali"


"Aku hanya ingin memuaskan keinginanku sebelum pergi"


"Mas, kamu hanya pergi tiga hari. Bukan untuk tiga tahun lho" kata Vania menyanggah perkataan suaminya.


"Biarin... Bagiku tiga hari jauh darimu seperti tiga tahun" kata Devan acuh.


Vania membuang kasar nafasnya melihat tingkah suaminya yang begitu manja. Namun di sela-sela kekesalannya, terselip senyuman yang membuatnya nyaman. Ia menikmati setiap apa yang dilakukan suaminya hari ini dari mulai pelukan dan ciuman.


"Yang..." panggil Devan pelan


"hmmm"


"Kenapa sampai sekarang kamu tidak menggunakan kartu yang aku berikan padamu?" tanya Devan yang kemudian mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah Vania.


"emm itu...aku belum butuh, mas. Lagi pula aku masih punya uang untuk membeli keperluanku"


"Aku tidak memintamu menggunakannya hanya saat kau butuh. Simpan uangmu, Belilah apapun yang kau mau dengan kartu itu" kata Devan lembut sambil membelai pipi Vania.


"Tapi mas...", Belum selesai Vania bicara, Devan sudah memotong pembicaraannya.


"Aku tidak suka penolakan darimu, sayang. Cukup kau menolakku untuk tidak menyalurkan hasratku, bukan yang lain" Kata Devan lembut namun terdengar seperti sebuah sindiran yang membuat Vania merasa sangat bersalah.


Vania diam dan mengangguk saja. Ia tak lagi berani membantah perintah dan perkataan suaminya.


"lstri pintar" Devan mengusap kepala dan mengacak rambut Vania hingga berantakan.


"Mas...." keluh Vania mendengus kesal karena rambutnya yang dikuncir rapi menjadi acak-acakan.


Devan hanya terkekeh melihat Vania yang kesal. Baginya sangat menggemaskan melihat istrinya yang sedang cemberut itu.


"Lepaskan tanganmu. Aku akan membenarkan rambutku dan menyiapkan keperluanmu sebelum berangkat" Kata Vania sambil menyingkirkan lengan kekar suaminya yang melingkar di pinggangnya.


Vania turun dari pangkuan suaminya dan berjalan menuju ruang istirahat. Ia membenarkan kembali tatanan rambutnya di depan cermin, kemudian mengemasi beberapa potong pakaian dan keperluan suaminya ke dalam koper.


Devan menyusul menghampiri istrinya dan duduk di tepi ranjang memperhatikan aktifitas Vania.


"Baju santainya dua potong aja, yang... Aku akan lebih sering menggunakan setelan kerja disana" kata Devan mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, cerewet sekali" kata Vania membuat Devan tersenyum kecil mendengar ocehan istrinya. Ia merasa beruntung melihat istrinya membantu mengurus kebutuhannya meski wanita itu belum menyampaikan perasaan cintanya yang sebenarnya Devan sudah lebih dulu tahu dari gelagatnya.


__ADS_2