Cinta Vania

Cinta Vania
Segalanya buatku


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Hari ini perusahaan pusat yang ada di Jakarta mempunyai acara penting, yaitu acara ulang tahun perusahaan yang biasa diadakan setahun sekali.


Di tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya. Dimana Devan begitu bersemangat untuk hadir sebagai pengisi acara. Ya, semua itu tentunya karena kehadiran Vania sebagai pendamping yang menyemangatinya. Bahkan penampilan Devan kali ini nampak jauh lebih segar daripada sebelum-sebelumnya.


"Habis pertemuan klien nanti aku jemput ya" ucap Devan ke istrinya yang sedang membantu melilitkan kain panjang di kerah kemejanya.


"Memang mau kemana? Bukankah acaranya nanti malam?"


"Kita ke butik cari gaun buat kamu. Aku ingin malam ini kamu terlihat cantik"


"Memang selama ini aku tidak cantik?" sahut Vania dengan pertanyaannya yang kesal mencebikkan bibirnya.


"Yah, salah ngomong gue" gumam Devan sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.


Vania semakin kesal karena Devan tak menanggapi pertanyaannya. Ia pun berbalik hendak pergi karena merasa diabaikan. Namun langkahnya terhenti saat tangannya dicegah oleh Devan. Devan pun dengan cepat meraih pinggang Vania dan mendekapnya dengan erat.


"Apa" Vania sedikit marah. Namun tidak bermaksud membentak.


"Jangan marah-marah. Nanti jelek lho" kata Devan dengan rayuannya.


"Biarin, orang kata kamu juga udah jelek" gerutu Vania tanpa berhenti mengerucutkan bibirnya.


Devan yang merasa gemas dengan sikap istrinya langsung saja mengecup singkat bibir Vania yang manyun membuat Vania semakin kesal.


"Kamu...."


"Apa?" tanya Devan menahan senyum dengan suara manjanya.


"Nyebelin" ucap Vania semakin kesal.


"Lagian siapa yang bilang istriku ini jelek? Kamu cantik, sayang. Bahkan sangat cantik. Kamu segalanya buat aku. Dan aku ingin nanti malam kamu terlihat semakin cantik dengan penampilan yang berbeda" kata Devan.

__ADS_1


"Emm...gitu. Ngomong dong. Biar aku ngerti" jawab Vania membenamkan wajahnya di dada bidang Devan dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.


Devan mendengus kesal sambil membuang nafasnya kasar akan sikap istrinya yang akhir-akhir ini cukup menyebalkan. Namun, walaupun begitu rasa cinta dan sayangnya pada wanita yang kini ada di dekapannya semakin besar karena selalu melibatkan dirinya dalam berbagai hal.


*****


Usai meeting dengan klien, Devan menghubungi Vania untuk memberikan kabar akan menjemputnya. Namun Vania mengatakan jika ia ingin datang sendiri ke kantor. Devan pun akhirnya menyetujui permintaan Vania setelah perdebatan singkat dimana istrinya tak bisa dibantah.


"Ya sudah, nanti kalau sudah sampai parkiran hubungi aku ya, biar aku yang turun jemput kamu" kata Devan sebelum mengakhiri panggilannya.


Vania mengiyakan perkataan suaminya. Ia pun bergegas mengambil kunci mobil dan menjalankan mobilnya menuju kantor pusat yang ditempati suaminya.


Sesampainya di kantor, Vania merasa asing dengan banyaknya perubahan yang ada di bagian lobby, termasuk para pegawainya. Tak ingin mengganggu aktifitas Devan, Vania memutuskan untuk tidak menghubungi suaminya dan bergerak menuju bagian resepsionis untuk menanyakan ruangan suaminya. Namun dua pegawai resepsionis yang sedang Vania hadapi saat itu seolah memandang remeh dan sinis dirinya karena mengira kedatangan Vania hanya untuk menggoda dan mengambil hati orang penting di kantor mereka itu.


"Maaf, atasan kami bukan orang sembarangan yang bisa seenaknya ditemui, mbak" ucap salah satu dari mereka dengan tatapan sinis.


"Tapi mbak, saya hanya ingin tahu ruangan pak Presdir dimana, itu saja. Apa masih di lantai atas?" jawab Vania terus memaksa. Namun sayangnya, dua pegawai itu tetap bersikeras untuk tidak menunjukkan ruangan Devan berada.


"Mbak Vania" panggil seseorang yang baru saja datang dari arah toilet.


Vania menggerakkan tubuhnya menghadap wanita itu. Ia mengernyitkan keningnya seolah mulai sadar jika wanita yang ada di hadapannya adalah wanita ya g ia kenal.


"Kamu yang dulu resepsionis kan? Maaf aku lupa siapa namamu" kata Vania sambil menunjuk jari telunjuknya.


"Iya, mbak. Betul. Saya Tiara. Sampai saat ini juga masih bertempat di resepsionis" katanya sambil mengulurkan tangannya.


Vania membalas uluran tangan itu dan memberikan pelukan singkat pada Tiara.


"Akhirnya, ada yang ku kenali disini. Maaf jika banyak yang tidak ku ingat" kata ya setelah melepaskan pelukan.


"Tidak apa-apa, mbak. Disini memang banyak perubahan. Tapi mbak Maya juga masih disini kok"


"Eh, beneran?" tanya Vania memastikan. Wajah Vania tampak sumringah karena begitu merindukan wanita yang bernama Maya.

__ADS_1


"Iya, mbak. Posisinya juga masih sama, tidak berubah"


"Ah, aku sangat merindukan dia" katanya dengan mata berkaca-kaca. "Eh, kamu hamil berapa bulan?"lanjutnya bertanya.


"Tujuh bulan, mbak. Sebulan lagi mau ambil cuti"


"Suamimu kerja disini juga?" tanya Vania.


"Iya, mbak. Mbak Vania juga kenal sama dia"


Vania mengernyitkan keningnya bingung. Setahu dia hanya Maya yang ia kenal disini. Tapi Tiara mengatakan Vania mengenal suaminya.


"Siapa?" tanya Vania penasaran.


"Sayang, sebentar lagi makan siang. Kamu mau makan dimana?" tanya lelaki yang baru saja datang dari belakang Vania. Lelaki itu berjalan menuju Tiara dan membelakangi Vania.


Vania hanya diam memperhatikan punggung lelaki yang cukup asing baginya. Ia hanya diam tanpa bertanya karena tak ingin mengganggu pasangan yang sedang berbagi keromantisan. Sesekali ia mengedarkan pandangannya melihat perubahan yang ada di kantor suaminya.


Tiara menjawab pertanyaan suaminya setengah berbisik. Mungkin karena tidak enak dengan para pekerja lain mengingat saat itu mereka masih berada di tempat kerja.


"Oh iya, mbak. Ini suami saya" kata Tiara memperkenalkan suaminya pada Vania.


Sontak Vania dan lelaki yang Tiara maksud saling menoleh dan adu pandang.


"Vania" sapa David.


"Jadi suami yang Tiara maksud itu kamu, David? Wah selamat ya" ucap Vania dengan bahagianya karena lelaki yang dulu pernah ditolaknya kini sudah mendapatkan tambatan hati dan bahkan sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.


Vania mengulurkan tangannya memberikan selamat pada David. David pun menerima uluran tangan itu dengan senyum yang masih sama seperti dulu. Meski dulu di dalam hatinya pernah diisi oleh bayang-bayang Vania, namun kini David sudah bisa melupakan Vania sepenuhnya semenjak menikah dengan Tiara. Baginya, kini Tiara adalah separuh jiwanya.


"Kamu mau bertemu suamimu?" tanya David.


"Iya, apa ruangannya masih sama?" tanya balik Vania

__ADS_1


Memang resepsionis tidak kasih tahu, mbak?" sahut Tiara.


Vania hanya menggeleng tanpa bersuara. Ia menundukkan pandangannya merasa kecil di kantor milik suaminya karena merasa tak dianggap sebagai tamu oleh para pegawai disana.


__ADS_2