
"Bisakan kau jelaskan sebenarnya apa yang terjadi pada adikku" kata Adit sambil menyeret koper Vania setelah sampai di kamar adiknya membuat semua orang yang berada disana mengalihkan perhatian ke arah pintu.
"Dit, biarkan nak Devan istirahat terlebih dahulu, lagi pula ini sudah sangat larut" kata papa Firman
"benar sayang, nak Devan pasti juga lelah, kita bicarakan ini besok pagi. Yang terpenting sekarang Vania tidak apa-apa" sahut mama Karin menambahi.
"baiklah, kalau begitu saya permisi pulang dulu, besok pagi saya akan kembali kemari" kata Devan hendak undur diri.
"tidak perlu pulang nak, ini sudah malam. menginaplah barang sehari disini, kamu bisa tidur di ruang tamu lantai bawah" kata mama Karina
"apakah tidak merepotkan?" tanya Devan
"sama sekali tidak nak, mari tante antar ke kamar tamu" ajak mama Karina yang diikuti oleh Devan.
Semua orang meninggalkan Vania sendirian yang istirahat di kamarnya setelah mengetahui suhu tubuhnya mulai membaik.
Devan mengisyirahatkan tubuhnya di atas ranjang di dalam sebuah kamar yang telah disediakan. Tak butuh lama untuknya terlelap karena tubuhnya begitu lelah dan mengantuk.
Pagi harinya semua orang sudah bangun dan bersiap untuk sarapan. Hanya Vania yang masih belum turun karena belum bangun.
Semua orang memulai sarapannya. Setelah itu mama Karina menghampiri kamar putrinya dengan membawa semangkuk bubur ayam panas untuk Vania sarapan.
Mama Karina membuka handle pintu kamar Vania yang tidak terkunci. Nampak Vania masih terlelap dengan selimut yang tubuhnya. Hanya wajah dan rambutnya yang terlihat.
Tak lama kemudian Semua orang yang ada di meja makan menyusul ke kamar Vania termasuk Devan.
Papa Firman meminta Devan untuk menjelaskan kejadian yang dialami putrinya.
Devan pun menjelaskan semua yang ia tahu,. Ia hanya kejadian dimana dia menolong Vania yang di bekap oleh dia orang pemuda di dalam sebuah kamar hotel miliknya saat sedang melakukan pemeriksaan ruangan lantai hotel.
Papa Firman tak bisa menahan emosinya mendengar cerita Devan. Begitu juga Adit, ia mengumpat dan mengepalkan tangannya.
"br**gs*k... mereka harus diberi pelajaran" kata Adit yang di dengar oleh semua orang.
"tenanglah kak, Devan sudah mengurus mereka dan meminta pihak hotel untuk membawa mereka ke kantor polisi. Untuk lebih jelasnya kita tunggu penjelasan Vania yang tahu betul tentang kejadian ini" kata Devan menenangkan semua orang yang cemas.
Mama Karina membangunkan Vania. Ia menggoyang-goyangkan pelan lengan Vania membuat pemiliknya mengerjap-ngerjapkan matanya agar terbuka.
Vania terdiam sesaat menatap langit-langit kamarnya. Saat ia mulai sadar akan keberadaannya di dalam kamarnya sendiri, Ia menatap sekelilingnya. Melihat mamanya yang duduk di tepi ranjang membuatnya langsung bangun dan memeluk mamanya. Ia menumpahkan air matanya di pelukan mama Karina.
"tenang sayang, kamu sudah aman sekarang" kata mama Karina mengelus punggung putrinya
"Vania takut ma..." kata Vania di sela-sela tangisnya.
__ADS_1
"iya sayang...tenang ya...kita sudah urus laki-laki itu" kata mama Karina.
Vania melepaskan pelukannya. tatapan matanya beralih ke Devan yang berdiri di belakang mamanya.
"kak Devan... " panggil Vania menatap sayu Devan. Ia terdiam sejenak. Tatapan mata mereka saling beradu. "makasih banyak atas pertolongan yang sudah kakak lakukan. Aku nggak tahu akan bagaimana nasibku jika kakak tidak datang" lanjutnya sambil kembali meneteskan air matanya.
Devan mengangguk dengan senyumnya yang begitu lembut.
"ceritakan pada kami nak, apanya g sebenarnya terjadi hari itu" kata papa Firman terhadap Vania.
Vania menceritakan dari awal bagaimana dirinya bisa berada di kamar Leo.
******
FLASHBACK ON
Vania dan kawannya menyelesaikan tugas penelitian hingga pukul tujuh empat puluh lima menit malam hari.
Setelah selesai dengan aktifitasnya. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kawasan hotel sekalian mencari makan.
Vania memilih tidak ikut bergabung dengan temannya karena tubuhnya begitu lelah dan juga tidak sedang lapar. Ia meminta ijin kepada yang lainnya untuk kembali ke kamar hotel.
"perlu gue anter?" tanya Nadya
Vania kembali ke kamar hotelnya sendirian. Ia masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri untuk bersiap sholat isya'. Selesai dengan aktifitasnya, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang berukuran double yang dipakainya tidur dengan Nadya, karena Nisha tidur di single bed.
Tak lama kemudian Vania mendengar suara pintu di ketuk dari luar. Ia langsung bangun dan mendekati arah pintu.
Vania membuka pintu itu dan melihat Leo ada di depannya.
Ternyata Leo ikut balik ke kamar setelah Vania membubarkan diri dari yang lain.
"ada apa Leo?" tanya Vania
"bisa minta tolong sebentar?"
"apa?"
"aku mau melanjutkan mengerjakan tugasku di laptop, tapi aku sedikit kesulitan" kata Leo
"terus?"
"bisa kau bantu membenarkannya? kau kan jago dalam hal mengerjakan tugas"
__ADS_1
"baiklah aku akan keluar"
Vania keluar dari kamarnya menggunakan piyama lengan pendek dengan celana panjang. Ia menutup kembali kamarnya. Ia tidak ingin membiarkan Leo masuk ke dalam kamarnya.
"mana laptopmu" tanya Vania sambil menengadahkan tangannya ke depan
"itu masalahnya, baterainya low. Jadi aku sambil mengecharge-nya"
"maksudmu? lalu bagaimana aku membantumu?" tanya Vania
"ikutlah masuk ke kamarku"
"tidak" tolak Vania tegas
"kenapa?"
"nggak apa-apa, nggak enak aja... aku akan menunggu disini"
"ayolah, hanya sebentar saja... " paksa Leo sambil menyentuk tangan kiri Vania.
Vania segera melepaskan pegangan tangan Leo dengan tangan kanannya. Ia merasa tidak nyaman dan risih dengan sikap Leo yang berubah aneh.
"maaf Leo, aku tidak bisa" katanya sambil membalikkan tubuhnya hendak kembali masuk kamarnya.
"hei kau, kenapa kau ini sok suci sekali" teriak Leo membuat Vania menghentikan langkahnya.
Vania membalikkan badannya menatap tajam Leo. "apa maksudmu dengan mengatakan seperti itu" jawabnya ketus
"bukankah kau juga sering melakukannya dengan mantan pacarmu yang sudah ma*pus itu, kenapa sekarang kau berlagak sok suci" kata Leo mengatai Vania dengan bahasa kasarnya
Vania yang tidak terima dengan perkataan Leo menjadi marah. Ia menampar pipi kiri Leo dengan tangan kanannya.
Pipi Leo memerah dengan sudut bibir yang sedikit mengeluarkan darah, membuat Leo marah dan tidak terima dengan perlakuan Vania.
"ceh" desis Leo menahan sakitnya.
Ia mengeram penuh kemarahan dan menarik tangan Vania untuk memaksanya masuk ke dalam kamarnya.
Vania yang terkejut dengan tindakan Leo menjerit minta tolong dan mencoba melepaskan pegangan tangan Leo.
Namun sayangnya kondisi di lantai hotel itu sangat sepi dan tubuh Vania kalah kuat dengan tenaga yang dimiliki Leo. Vania jatuh tersungkur ke dalam kamar Leo saat tangannya terus ditarik dan dilepaskan tiba-tiba.
Leo tertawa melihat Vania yang nampak kesakitan karena jatuh.
__ADS_1