Cinta Vania

Cinta Vania
Episode 14 Hanya Teman


__ADS_3

Mentari pagi kembali memancarkan sinar terangnya. Saatnya setiap manusia memulai kegiatan masing-masing, termasuk para anggota keluarga Wibowo. Tampak mama Karin sedang mempersiapkan sarapan untuk dihidangkan di meja makan dibantu oleh Bi Inah. Aku dan papa Firman juga tidak kalah sibuk pagi ini. Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah di hari pertama aku akan menerima pelajaran di sekolah baruku. Setelah menyelesaikan semuanya, aku segera turun menuju meja makan. Saat melewati ruang kerja papa, kulihat papa sedang sibuk mempersiapkan berkas-berkasnya untuk dibawa ke rapat besar bersama perusahaan besar yang salah satu anak cabang perusahaan dipimpin oleh papa. Kuhampiri dan kusapa papadengan senyuman termanisku "*pagi papa,,, belum selesai?"


"sedikit lagi sayang*..."jawab papa tanpa menoleh dan masih fokus dengan pekerjaannya


"ya sudah Vania tungguin ya nanti kita turun bareng" kataku manja. Papa hanya diam dan tersenyum menoleh kearahku. Ya, aku memang paling dekat dengan papa di keluarga ini. Meski kami jarang bertemu karena kesibukan papa, namun tak sedikitpun papa melupakan kasih sayangnya kepada anak-anaknya terutama aku sebagai anak gadisnya. Apapun yang aku minta selagi itu baik untukku dan tidak membahayakanku, pasti akan dipenuhinya. Mungkin karena aku anak perempuan dirumah itu, sehingga semua orang memanjakanku.


Tak lama kemudian papa selesai dan mengajakku turun untuk sarapan. Sesampainya di meja makan, kulihat kak Adit masih memakai baju santainya.


"kamu nggak kuliah Dit?" tanya papa


"lagi nggak ada kelas pa" jawab kak Adit sambil menikmati roti bakar selai coklat favoritnya


"terus kegiatanmu apa hari ini? tanya papa lagi


"Adit nanti nganter Vania ke sekolah pa, mama juga mau ikut biar sekalian ditemenin Adit belanja bulanan" sela mama menjawab pertanyaan papa


"kakak nganter mama ke pasar" tanyaku sedikit heran, kak Adit hanya menjawabnya tersenyum


"weh.... cowok cool maennya dipasar...benar-benar anak berbakti...." kataku terkikik dan mengejeknya


"Vania......nggak boleh gitu" kata papa menatap tajam kearahku dengan menegurku halus. Sontak Aku terdiam karena takut. Kulihat Kak Adit menahan tawa dan menggerakkan bibirnya tanpa suara ke arahku "Syukurin.."


"ya sudah papa berangkat dulu.. papa harus berangkat pagi-pagi sekali karena harus mampir kantor dulu"


Papa lalu berpamitan kepada kami. kami mencium tangan papa dan papa membalasnya dengan mengecup kepala kami lembut. Mama mengantar kepergian papa sampai halaman rumah kemudian kembali bergabung sarapan bersama kami.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan Sarapan, kak Adit dan mama mengantarku ke sekolah terlebih dahulu sebelum pergi ke pasar. "nanti pulang bareng Nadya lagi?" tanya mama membuka jendela mobil setelah aku turun.


"iya ma...kasihan dia kalau naik bus sendirian. lagian nggak mungkin kan kalau kakak jemput naik motor dan membonceng kami berdua" jawabku sambil manyun mendekati mama


"ya mau gimana lagi sayang, kakakmu ini surah kalau diajak pergi-pergi bawa mobil kalau nggak terdesak" jawab mama


"emang cowok satu itu bawelnya minta ampun" kataku melirik tajam ke Kak Adit.


"apa lu...!!!" seringai kak Adit sinis


"sudah..sudah . kalian ini nggak di rumah enggak di luar berantem aja kerjaannya" kata mama melerai "*ya sudah kamu belajar yang rajin ya, inget...nanti kalau pulang hati-hati"


"iya mama*..."


Mobil yang dikendarai kak Adit kemudian berlalu pergi. Setelah mobil itu tak terlihat lagi, aku melangkahkan kakiku menuju ke kelasku. Melewati koridor sekolah yang mulai ramai para siswa karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.50.


Di sekolah lain, Devan tengah sibuk bolak-balik ruangan wali kelas dan kepala sekolah untuk mengurus surat perpindahannya yang dibantu oleh pak Tio. Dia sengaja tidak memberikan kabar kepada kawan-kawannya di Jakarta. Dia berencana akan memberikan kejutan kepada mereka.


--------------------------


POV DEVAN


"hari ini aku harus segera menyelesaikan surat ini biar besok bisa berpamitan dengan para guru dan teman-teman disini kembali ke Jakarta" kataku menatap lembaran surat yang ku pegang


Setelah mendapatkan surat perpindahan dari kepala sekolah, aku bergegas berlari menuju parkiran untuk menemui pak Tio yang sudah menunggu di sana. Aku memberikan surat itu kepadanya untuk dibawa dan diserahkan ke SMAN A Jakarta.

__ADS_1


"makasih banyak pak Tio..." kataku menyalami tangannya. Pak Tio mengangguk dan segera berlalu. Setelah kepergian pak Tio, aku kembali ke kelasku untuk mengikuti pelajaran.


Saat hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba Sita menghampiriku, "Van, benar kata anak-anak kamu ngurus surat perpindahan?" tanya Sita penasaran. Aku mengiyakan pertanyaannya. dalam hatiku berkata "***cepat sekali kabar itu menyebar, padahal tak satupun siswa yang tahu rencanaku**".


"kenapa kamu harus pindah*?" tanya Sita lagi


"*aku harus kembali ke Jakarta"


"lalu bagaimana dengan hubungan kita*" Sita mulai sedih. Dia lalu duduk di sebelahku dan menatap mataku sendu


"hubungan apa yang kamu maksud?" tanyaku memastikan "bukankah dari awal sudah kubilang, aku tidak pernah menaruh perasaan apa-apa terhadapmu, aku hanya menganggapmu sebagai teman. aku tidak mencintaimu"


Seketika air mata Sita menetes. Ia menundukkan kepalanya. Dia sangat sedih, membuatku semakin tidak tega melihatnya.


"Sita lihat aku,, " kataku pelan namun Sita tetap tidak menghiraukannya. Kuangkat dagunya agar bisa melihat wajahnya. Kulihat wajahnya sudah mulai basah karena airmata yang terus mengalir. Kuhapus air matanya dengan ibu jariku.


"dengarkan aku.... kamu gadis yang baik, aku tidak mencintaimu bukan karena kamu jelek, kamu cantik... *aku yakin kamu bisa mendapatkan lebih baik dariku"


"jika memang aku cantik, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku*?" tanya Sita terisak dan menghapus air matanya yang mengalir kembali


"hatiku sudah sejak 3 tahun lalu diisi oleh seseorang... aku memang belum tahu bagaimana perasaan dia. tapi aku akan mengejar cintanya, itulah alasan aku kembali ke Jakarta"


"kenapa gadis beruntung itu bukan aku?" Sita kembali meneteskan air matanya. Namun cepat-cepat ia menghapusnya. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"baiklah aku bisa terima alasannya. tapi janji kita akan tetap berteman dan kau tidak akan melupakan ku" selanjutnya mencoba ikut tersenyum

__ADS_1


"tentu... kau bisa menghubungiku kapanpun. udah ayo ke kantin, aku yang traktir. tapi jangan nangis lagi... Nanti dikiranya aku habis mukul kamu lagi" kataku sontak membuat kami tertawa.


"oke"


__ADS_2