
Penonton mulai bertepuk tangan riuh saat Devan menyelesaikan lagunya. Devan menyanyikan lagu itu dengan sangat indah. Dia bernyanyi dengan penuh perasaan. Bahkan sebagian dari penonton banyak yang terisak karena baper, terutama para cewek-cewek.
Devan turun dari panggung dan menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu tidak jauh dari panggung.
“Gila lu bro... Nyanyian lu dalem banget penuh perasaan, coba gue jadi cewek..pasti udah klepek-klepek” kata Kribo menggoyangkan kepala dan bahunya
“Ye... Mau gue pinjemin daster emak gue” seru Bimo menoyor kepala Kribo sontak membuat Devan dan Andre terpingkal-pingkal.
Acara perpisahan sekolah terlaksana dengan sukses dan lancar. Para siswa dan tamu undangan yang hadir mulai satu persatu keluar dari gedung aula dan menuju ke parkiran sekolah. Devan dan teman-temannya mengikuti orang tua masing masing menuju mobil mereka yang terparkir.
Setelah para orangtua mereka saling berpamitan, tak lama mobil yang mereka kendarai mulai pergi meninggalkan halaman sekolah.Tinggal tersisa Devan dan orangtuanya yang maaih berdiri disamping mobil mewah mereka.
“yakin kamu nggak mau pulang bareng bunda?” tanya bunda ke Devan saat akan memasuki mobil
“iya bun, masih ada yang belum Devan selesaikan sebelum berangkat ke Bandung. Hari ini kan terakhir Devan di sekolah ini” jawab Devan meyakinkan
“ya sudah bunda pulang dulu.. nanti pulang naik taksi aja ya, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab Devan mencium tangan bunda dan ayahnya
Mobil yang ditumpangi bunda dan ayah Devan mulai menjauh dati tempat Devan berdiri.
Devan kembali masuk ke dalam gedung aula dan memandang sekeliling mencari sosok yang sedang ia cari.
-------------------------------------------
POV DEVAN
__ADS_1
Hari ini adalah hari terakhir aku di sekolah ini. Karena besok aku harus mulai pergi dan meninggalkan kota ini untuk melanjutkan sekolah di kota tempat nenekku berada. Di acara perpisahan ini aku ingin memberikan kesan dan kenangan yang baik. Aku akan ikut andil dalam acara ini sebagai pengisi hiburan.
“mau kemana bro” tanya Andre saat melihatku beranjak dari bangku yang kududuki saat berkumpul bersama segerombolan teman lain
“ketemu pak Hadi”
“mau ngapain?” tanya yang lain penasaran
“nanti juga kalian bakalan tahu”
Tanpa menunggu aba-aba dari teman-temanku, aku beranjak pergi dan mencari sosok pak Hadi sebagai penanggung jawab acara untuk meminta ijin ikut mengisi hiburan di panggung.
Sesampainya bertemu dengan pak hadi, aku menyampaikan niatku yang langsung disetujui. Pak Hadi mempersilahkanku dengan ramah.
“ini adalah acara kalian, kalian isi punya hak untuk ikut mengisi acara asal sesuai peraturan sekolah” kata pak Hadi tersenyum dan menepuk bahuku.
Pak Hadi kemudian pergi meninggalkanku dan kembali melanjutkan tugasnya. Aku segera kembali didekat panggung dan menyampaikan niatku kepada MC untuk menempatkan kapan aku bisa mengisi acara.
Tibalah saatnya acara hiburan dimulai. Aku mulai naik keatas panggung dengan menenteng gitar yang kupinjam dari anak band yang ikut mengisi acara. Aku duduk di kursi depan microphone yang telah disediakan panitia untuk memulai aksiku.
Kupetik gitar dan mulai bernyanyi. Aku berharap lagu yang kunyanyikan didengar oleh gadis pujaanku. Ya, meskipun dia tidak mungkin mengerti jika lagu itu kutunjukkan padanya. Sesekali kuperhatikan dari atas panggung. Tampak penyesalan di hatiku mengingat semua perlakuan jahilku terhadapnya. Kulihat dia begitu bahagia dengan acara ini. Dia begitu asyik berbincang dan bercanda dengan teman-temannya yang bertugas sebagai panitia kegiataan. Aku merasa lega mampu mengeluarkan isi hatiku meski hanya lewat nyanyian di hadapan umum.
Setelah acara usai dan semua orang kembali pulang, aku ke ruangan aula yang tampak mulai sepi hanya masih ada sebagian panitia kegiatan yang tengah sisa-sisa acara. Pandanganku menyapu sekeliling aula mencari sosok yang ingin ketemui. Seketika pandanganku berhenti kearah seorang gadis yang ku cari. Ya, dia adalah Vania. Kulihat dia tengah sendirian membereskan beberapa lembaran kertas di atas meja yang letaknya diujung aula dekat panggung. Aku berjalan menghampiri dan mendekatinya. Aku berdiri tepat dibelakangnya yang memunggungiku. Kutepuk bahunya pelan membuatnya kaget dan menoleh
“kamu,,, ngapain kesini" tanya Vania dengan tatatapan tajam.
“gue kesini mau minta maaf sama lu” jawabku mengulurkan tangan.
__ADS_1
“Buat?”
“Ya, buat kelakuan gue selama ini ke lu. Sorry gue sering ngejahilin lu, mungkin lu udah benci banget ke gue*” kataku yang masih terus mnegulurkan tanganku
Vania hanya diam dan mengernyitkan dahinya. Tampak kecurigaan dalam raut wajahnya terhadapku. Mungkin dia mengira aku hanya iseng dan bercanda.
“gue serius... Kalau lu mau balas uluran tangan gue berarti lu maafin gue. Tapi kalau nggak juga gakpapa, gue nggak bakalan maksa. Gue cuma mau tulus minta maaf” kataku menegaskan.
Vania lalu membalas uluran tanganku dan tersenyum hingga tampak lesung lesung di kedua pipinya menambah manis wajahnya. Aku merasa saat itu sedang berhadapan dengan bidadari yang begitu cantik dan menawan. Bidadari yang begitu sulit untuk kumiliki.
“makasih ya” kataku singkat yang dijawabnya mengangguk
“nanti pulang bareng siapa?” tanyaku basa basi
“Nanti aku naik bus sama Nadya dan Ditya. Kebetulan rumah kami searah” jawabnya tersenyum dan mulai ramah
Hatiku terasa perih mendengar dia menyebut nama anak baru itu. Tapi aku sadar, aku tidak boleh egois. Aku bukan siapa-siapa baginya yang berhak menentukan dengan siapa dia dekat.
"ya udah... hati-hati ya.." kataku yang terasa berat kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawabannya dan meninggalkan dia yang mematung dan masih menatapku.
Aku pergi berjalan membelakanginya dengan perasaan yang hancur. Kutahan airmata yang hampir jatuh saat menjauh darinya. Aku tidak ingin terlihat lemah. Aku harus merelakan dia dengan kebahagiaannya, dengan siapapun dan bagaimanapun caranya. Bukankah arti cinta yang sesungguhnya adalah membuatnya bahagia meski tak mampu memilikinya.
POV DEVAN END
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Jangan lupa like dan vote ya...
__ADS_1
salam sayang selalu💗💗😘**