
"Sayang"
Suara yang tak asing terdengar di telinga Vania membuat dirinya dan sepasang suami istri yang sedang mengobrol mengalihkan pandangannya ke arah suara yang baru datang.
"Mas" Ucap Vania. Ia berjalan menghampiri lelaki yang memanggilnya yang tak lain adalah suaminya.
Wajah Devan mendadak berubah dingin dan masam saat melihat istrinya berdiri tak jauh dari David.
"Kenapa tidak menghubungiku kalau kamu sudah sampai" tanya Devan dingin tanpa senyum sama sekali.
"Aku tadinya___"
Belum selesai Vania menjawab pertanyaan suaminya, namun tangan Vania sudah lebih dulu ditarik oleh Devan.
"Aku tidak suka kau berlama-lama mengobrol dengan lelaki lain" ucapnya yang kemudian menggiring Vania untuk pergi menjauh dari sana.
Vania hanya mengikut saja perintah suaminya. Ia tak memberikan sanggahan atau penolakan karena tidak ingin membuat suaminya semakin marah disana. Vania menolehkan kepalanya ke belakang sambil mengucapkan kata "maaf" pada Tiara dan David karena merasa tidak enak dengan perilaku suaminya.
Tiara dan David hanya mengangguk pelan diiringi dengan senyuman. Mereka bisa menyadari sikap presdirnya yang nampak cemburu melihat istrinya dan David mengobrol meski disana juga ada Tiara.
Devan menggiring istrinya untuk masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Di dalam lift Devan hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan wajahnya masih dingin seperti tadi.
ting ....
Suara pintu lift terbuka. Devan berjalan tegap melewati pintu lift sambil mengaitkan jarinya di pergelangan tangan Vania. Namun, ada yang berbeda kali ini. Lelaki itu tetap bersikap dingin. Tak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu manis dan lembut pada istrinya. Bahkan tatapannya tetap lurus memandang ke depan tanpa menoleh sedikitpun melihat wajah istrinya.
Vania menyadari perubahan sikap Devan yang jelas berbeda. Vania hanya berdecak dan mendengus kesal akan sikap Devan. Ia sangat yakin jika suaminya itu sedang cemburu. Apalagi mengingat Devan sangat membenci kedekatan Vania dengan David.
"Mas" panggil Vania. Namun lelaki itu seolah tak peduli dengan panggilan dari istrinya. Ia tetap acuh dan terus berjalan tanpa menoleh ataupun menjawab menuju ruangannya.
"Mas" panggil lagi Vania. Namun hasilnya masih sama.
Merasa kesal karena diabaikan, Vania berhenti dan menghempaskan tangan Devan yang mengait di pergelangan tangannya hingga membuat Devan ikut berhenti. Devan terhentak dan mengalihkan pandangan pada Vania yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih" tanya Vania marah ke suaminya saat mereka sudah memasuki ruangan kerja Devan.
Devan menatap istrinya dengan tatapan tajam dan ekspresi wajah dinginnya. Namun, ia tetap tak mengucapkan satu katapun.
"Kenapa diam saja? Beri tahu aku alasanmu mendiamkanku agar aku tahu dimana salahku. Aku tidak suka sikapmu yang tidak jelas seperti ini. Aku benci kau diamkan!!" marah Vania dengan mata yang sudah tergenang dan siap jatuh kapanpun ia berkedip.
Devan masih diam dan bergeming. Ingin sekali ia menumpahkan kemarahannya dan mengatakan alasan ia mendiamkan Vania. Namun itu semua tidak mungkin karena ia sadar jika sikapnya yang cemburuan itu cukup keterlaluan.
"Terserah lah, lebih baik aku pulang daripada disini hanya didiamkan" ujar Vania kesal. Ia pun berjalan cepat menuju pintu untuk keluar. Namun langkahnya terhenti saat Devan melingkarkan tangannya di perut Vania dan menariknya pelan menempel ke dadanya.
"Maafkan aku" ucap Devan sambil membenamkan wajahnya di pundak suaminya.
Vania diam tak bergerak. Ia benci pada sikap suaminya yang selalu lemah jika dirinya marah. Tapi di sisi lain, ia sangat menikmati kehangatan tangan Devan yang mendekap tubuhnya.
"Yang" panggil Devan lirih.
"Hmm" jawab Vania ketus
"Maafkan aku"
"Hmm"
Devan berdecak ikut kesal. Ia memegang dagu Vania dengan jari telunjuknya.
"Kenapa sekarang kamu yang marah?" tanya Devan mengejek.
"Jelas aku marah. Aku baru datang tapi kau tiba-tiba mendiamkanku dengan alasan yang tidak jelas" jawab Vania dengan nada kesal.
"Bukan itu maksudku"
"Lalu? Kau mau bilang kalau tadi cemburu karena aku berbicara dengan David?"
Devan hanya diam dan tak menjawab. Seolah membenarkan perkataan istrinya yang mengatakan jika dirinya cemburu melihat istrinya dengan David.
__ADS_1
"Jangan begitu lah, mas. Kau tahu kan David sudah menikah. Dan istrinya juga ada disitu lho. Dengan sikapmu yang seperti itu membuatku tidak enak hati dengan istrinya. Jangan membuat asumsi yang tidak baik pada orang lain" kata Vania berusaha menjelaskan dengan tenang ke Devan meski sebenarnya hatinya masih merasa kesal.
"Aku tidak peduli dengan percintaan pegawaiku selagi tidak mengganggu urusan pribadiku" jawab Devan tegas.
Kata-kata Devan membuat Vania semakin kesal dan jengkel. Ia tak menyangka suaminya sekeras batu dan menyebalkan.
"Terserah lah. Aku pusing" kata Vania kesal. Ia berjalan meninggalkan suaminya dan duduk di sofa yang ada di ruangan dengan melipat tangannya di dada.
Devan membuntuti Vania dan ikut duduk di sebelahnya. Lelaki itu berusaha untuk baik-baik pada istrinya. Ia berulang kali mengucapkan kata maaf akan cemburunya yang keterlaluan. Devan menyesal sudah membuat istrinya marah. Namun sayangnya, Vania seolah tak peduli karena sudah terlanjur kesal.
"Ngambek ya? Kalau ngambek, enggak apa-apa. Tapi, jangan pernah diemin aku lama-lama ya, Aku nggak mungkin kuat" rayu Devan penuh harap sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya di lengan Vania.
Vania masih diam dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan suaminya.
Devan yang merasa sangat gemas dengan tingkah Vania langsung merengkuh tubuh kecil itu di dekapannya dan membenamkan wajahnya di tengkuk leher Vania. Sementara Vania terus diam meski sebenarnya dirinya menahan geli akan perlakuan suaminya.
Merasa usahanya agar dimaafkan sia-sia, Devan menarik wajahnya. Ia mengecup berulang kali pipi Vania dengan gemas membuat pemiliknya semakin tidak bisa menahan geli untuk tertawa. Alhasil, Devan tersenyum senang karena usahanya berhasil.
"Cukup, berhenti" pinta Vania sambil terkekeh karena merasa risih dan geli. Tangannya tak bisa bergerak karena dikunci oleh Devan dalam pelukannya. Rasanya seperti digelitik sementara tangan tak bisa melakukan apa-apa.
"Enggak" jawab Devan sambil terus menciumi pipi istrinya.
"Ampun, mas. Geli"
"Bilang dulu udah maafin aku"
"Iya, iya. Aku maafin. Cepat lepasin" kata Vania merengek manja agar suaminya segera melepaskan dekapannya dan berhenti menciumi pipinya.
"Janji dulu" bantah Devan tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Iya, Janji" jawab Vania.
Seketika itu juga Devan menghentikan aktifitasnya dan merenggangkan pelukannya setelah Vania mengucapkan janji.
__ADS_1
"Pria menyebalkan" umpat Vania sambil membenarkan posisi duduknya.
Vania merengut kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Sedang suaminya terus terkekeh melihat ekspresi istrinya yang begitu menggemaskan.