
David diam memikirkan tentang Vania. Ia takut terjadi apa-apa pada wanita itu. Namun ia tak berani menghubunginya karena akhir-akhir ini Vania seolah menghindar darinya.
Vania kembali dari ruang presdir tepat setelah jam istirahat siang berakhir. Ia langsung menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Gimana Van, kamu nggak dimarahin sama pak Presdir kan?" tanya Maya khawatir.
"Marah?" tanya Vania mengulang pertanyaan sahabatnya. Ia merasa bingung karena tidak mengerti.
"Ya habisnya bahas laporan sampai melupakan makan siang. Aku khawatir laporan kamu banyak yang salah"
"Oh...itu... Enggak kok mbak... Tadi sekalian aku diajak makan siang sama pak Devan"
"Oo iya aku lupa, kalau kalian saling mengenal"
"iya mbak" kata Vania tersenyum.
Seusai jam pulang kantor, Vania langsung menuju parkiran untuk menemui suaminya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Vania memperhatikan kiri kanan sebelum memasuki mobil Devan. Ia memastikan tidak ada orang yang akan melihat dan memperhatikannya. Baru ia membuka pintu mobil Devan dan masuk.
Tanpa ia sadari David yang sedang berdiri di depan lobby memperhatikan gerak-gerik Vania. Raut wajahnya berubah sedih mencurigai wanita yang ia sukai mempunyai hubungan khusus dengan orang tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja.
"Inikah alasanmu menghindar dariku yang menunggu jawaban darimu?" batin David dalam hati.
Sesampainya di rumah Vania bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri bergantian dengan suaminya.
*****
Makan malam tiba, pasangan suami istri itu menikmati makan malam yang sudah Bu Tini masak untuk mereka makan.
"Permisi, Tuan. Bahan masakan di dapur banyak yang habis dan sudah waktunya untuk belanja" kata Bu Tini sopan.
"Sudah di tulis rinciannya Bu? nanti biar saya suruh orang untuk mengantarkan belanjaannya"
"Sudah, Tuan. Ini sekalian saya dan Pak Amin pamit pulang" jawab Bu Tini sambil menyerahkan kertas bertuliskan rincian bahan yang harus dibeli.
"Ya sudah hati-hati ya Bu... terimakasih untuk hari ini" kata Devan sambil mengambil kertas dari Bu Tini.
__ADS_1
Bu Tini undur diri keluar rumah untuk menemui suaminya yang menunggu di taman depan untuk pulang.
Devan meraih ponselnya yang ada di atas meja hendak menghubungi orang suruhannya untuk mengantarkan belanjaan yang diminta. Namun Vania mencegahnya.
"Mas, gimana kalau belanja sendiri aja" kata Vania memberikan usul.
"Nanti kamu capek, Yang"
"Enggak mas..." jawab Vania meyakinkan suaminya.
"Kamu baru pulang kantor lho, harus banyak istirahat juga. Aku nggak mau kamu drop sakit lagi" Devan memperingati istrinya agar menurut.
"Tapi aku bosan pengen jalan-jalan" protes Vania.
"Yang..." tegur Devan agar istrinya mau mengikuti perintahnya.
Vania langsung diam dengan wajah yang berubah menjadi kesal karena keinginannya tidak dituruti. Ia memanyunkan bibirnya sebagai aksi protes sambil memainkan sendok dan garpu mengaduk aduk makanannya.
Devan yang tahu istrinya sedang kesal hanya bisa mendengus kesal.
"Yang....." panggilnya lembut. Namun istrinya tetap diam dengan wajah yang tak enak dilihat.
"Sabar... Sabar... " batin Devan sambil mengelus dadanya.
Ia mengambil nafas pelan dan menghembuskannya kasar untuk menghilangkan kekesalannya pada sifat istrinya yang keras kepala.
"Ya sudah kita keluar belanja sendiri"
"Beneran?" raut wajah Vania berubah senang seketika mendengar keputusan suaminya.
"Iya, tapi habiskan dulu makan malammu, baru kita berangkat"
"Oke" jawabnya bersemangat.
Mereka menuju supermarket terdekat untuk berbelanja bahan dapur dan keperluan sehari-hari.
Selama berada di supermarket, tangan Devan tak pernah lepas dari pinggang istrinya. Meski begitu tetap saja banyak para wanita yang berbisik membicarakan pesona ketampanan pria itu.
__ADS_1
Vania yang mendengarnya merasa kesal dengan muka yang ditekuk.
"Kenapa yang?" tanya Devan yang tak tahu alasan perubahan wajah istrinya.
"Nggak apa-apa. Kita buruan aja" jawabnya ketus sambil melirik para wanita yang dimaksud.
Devan mengikuti arah pandangan istrinya. Ia melihat beberapa wanita tersenyum manis padanya.
"Oo....karena mereka?" tanya Devan yang mulai mengerti. "Kamu cemburu yang?" tanyanya dengan senyum menyeringai.
"idiiih...ngapain juga cemburu. Udah nggak usah sok kecakepan deh mas" jawab Vania ketus.
"Terus aku harus gimana? pake topeng?" Devan melipat bibirnya menahan tawa.
"Tahu, terserah kamu aja" kata Vania semakin kesal. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya karena kesal. Membuat Devan tersenyum kemenangan karena melihat istrinya cemburu. Sayangnya wanita itu selalu saja malu dan tak pernah mau mengungkapkan isi hatinya.
Selesai berbelanja makanan dan bahan dapur, Devan menitipkan barang belanja di tempat penitipan barang karena ingin mengajak Vania ke sebuah galeri merk brand ternama. Ia ingin membelikan istrinya beberapa perlengkapan istrinya dari mulai baju, tas dan sepatu. Namun di tengah perjalanan lengan Vania ditarik oleh seseorang dari belakang membuat ia hampir saja terjatuh jika saja Devan tidak melingkarkan lengannya di pinggang istrinya.
"Aduh" pekik Vania yang terkejut karena hampir saja jatuh.
"Hey, apa yang kau lakukan" Teriak Devan marah. Namun ia terkejut saat melihat orang itu adalah Alline. "Alline... apa maksudmu" tanya Devan dingin karena tidak suka dengan perlakuan wanita itu.
Alline tak menjawab pertanyaan Devan. Ia justru menatap tajam Vania dengan penuh kemarahan.
"Jadi ini Kelakuanmu. Mendekati atasanmu demi bisa mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidupmu, huh?" teriak Alline dengan suara lantang membuat semua orang yang lewat menoleh dan memperhatikan mereka.
Vania yang merasa takut dan malu hanya mundur dan bersembunyi di balik tubuh kekar suaminya.
"Alline, Tutup mulutmu" bentak Devan sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Alline.
"Kau membela pegawaimu yang murahan ini? Lihat dirimu Dev, Kau bahkan sudah dibutakan oleh kebohongannya" katanya sambil melirik ke Vania. Kemudian Alline menarik kasar pergelangan Vania. "Sini kau wanita ja*ang".
"Hentikan Alline" Devan menepis tangan Alline dari istrinya. "Jangan sentuh wanitaku. Aku tidak suka kau menyakiti istriku?" bentak Devan semakin emosi sambil tangan kirinya memeluk istrinya.
"Istri?" tanya Alline dengan senyum getir. " Aku tidak percaya, Dev. Kau bohong kan" tanya Alline tak percaya.
"Buat apa aku bohong. Vania memang istriku"
__ADS_1
"Jadi bertahun-tahun aku menunggumu dan kau dengan mudahnya memilih wanita yang baru kau kenal dan bahkan dia adalah pegawaimu? Aku tak menyangka wanita ja*ang ini begitu pintar menggodamu". kata Alline menghina habis-habisan Vania. Sedangkan Vania hanya diam menundukkan kepalanya karena sangat malu dengan pandangan orang-orang terhadap mereka bertiga.
"Sudah cukup Alline. Kau tak tahu apa-apa. Dan kau tidak berhak menilai apapun tentangnya" Marahnya lalu mendekati Alline. "Dan satu lagi, aku tidak akan segan-segan memberikan perhitungan padamu jika kau berani menyakiti istriku. Ingat itu!!!" Kata Devan pelan namun terdengar seperti sebuah ancaman yang menakutkan.