
Dengan cepat Vania meletakkan tasnya di atas meja Maya.
"ni Van, bawa ini, di dalamnya sudah ada jadwal pak Linggar. Jangan gugup lho" kata Maya sambil menyerahkan berkas dari tangannya ke Vania.
Vania mengambil berkas itu. "makasih ya mbak... aku nitip tas dulu"
"tenang saja... kita berteman sekarang, semoga bisa bekerja sama dengan baik" jawab Maya sambil tersenyum.
Vania pun membalasnya dengan senyum dan kemudian pergi meninggalkan Maya menuju ruangan managernya.
tok...tok...tokkk....
"masuk" kata pak Linggar dari dalam ruangan.
Vania pun memasuki ruangan atasannya setelah mendapatkan perintah.
"selamat pagi pak" sapa Vania dengan senyumnya.
"pagi... jadi kamu asisten baru saya, siapa namamu?"
"saya Vania, pak"
"oke cantik, apa jadwal saya hari ini?"
Vania membacakan jadwal di yang sudah disusun rapi oleh Maya.
"oke, kamu bisa ke ruanganmu dulu, berarti satu jam lagi kamu ikut saya keluar untuk meeting"
"baik pak" jawab Vania yang kemudian membalikkan badannya hendak keluar ruangan
"tunggu Vania, tolong bawakan secangkir kopi untuk saya" kata pak Linggar membuat Vania berhenti.
Vania menoleh kembali ke atasannya" baik pak".
Setelah keluar dari ruangan atasannya, ia menemui Maya yang sedang mengetik di meja kerjanya.
"mbak... pak Linggar minta kopi, saya nggak tahu seleranya gimana" kata Vania membuat Maya mendongakkan wajahnya menghadapnya.
"kalo pak Linggar mintanya nggak aneh-aneh Van" kata Maya kemudian kembali menatap layar komputernya
"emm...gitu ya..." kata Vania ragu-ragu.
"kenapa? kok kaya bingung gitu" tanya Maya sambil fokus mengetik
__ADS_1
" nggak ada mbak.."
"nggak bisa bikin kopi ya?" tanya Maya sambil menahan senyumnya.
"hehehe....kok mbak Maya tahu" kata Vania cengengesan.
"kelihatan aja... Penampilan kamu seperti wanita yang tidak pernah ke dapur" kata mbak Maya terkekeh.
"mbak Maya kalau ngomong suka bener sih" Vania malu dengan candaan Maya.
"ya sudah kami langsung ke pantry aja di ujung jalan itu. Tinggal minta pegawai pantry buatin kopi buat pak Linggar" kata Maya sambil menunjuk ke ujung ruangan
"oke mbak...makasih ya.." kata Vania yang kemudian berjalan mengikuti arahan Maya.
Vania sudah mengerjakan sesuai perintah pak Linggar.
Satu jam kemudian ia pun mengikuti pak Linggar untuk meeting di luar dengan klien.
Mereka kembali ke kantor sebelum jam makan siang. Vania pun mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasannya.
"Van, kantin yu'.." ajak Maya saat melewati ruangan Vania.
Vania yang masih sibuk dengan layar komputernya pun sampai lupa jika waktu sudah memasuki jam istirahat.
"nanti bisa dilanjut lagi, ayo buruan udah aku laper banget" kata Maya sambil mengelus perutnya.
"nah udah..." katanya sambil tersenyum menyimpan filenya dan mematikan komputernya. "ayo" imbuhnya sambil berdiri.
Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju kantin. Mereka makan siang sambil mengobrol.
"mbak, masa iya sih pak Linggar itu genit?" tanya Vania yang penasaran dengan perkataaan Maya yang menurutnya tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya.
Maya tertawa mendengar pertanyaan Vania. Ia merasa puas sudah mengerjai anak baru itu.
"ih kok malah ketawa sih mbak" kata Vania
"enggak Van,,, emang menurut kamu pak Linggar kaya gimana?" tanya balik Maya.
"orangnya baik kok, cuma ya itu emang mulutnya agak gimana gitu kalau ada cewek" kata Vania sambil menikmati makan siangnya.
"pak Linggar emang kaya gitu, kalau lihat cewek cantik aja suka agak lemes. Tapi sebenarnya dia baik kok... yang nggak baik itu istrinya" kata Maya yang makin membuat Vania bingung.
"maksud mbak?"
__ADS_1
"istrinya cemburuan" jawabnya singkat.
"ah kirain mbak... kalau istrinya cemburuan sih biarin, yang penting Vania nggak godain suaminya" kata Vania lega.
"jangan ngentengin gitu Van, asisten yang dulu juga keluar gara-gara istrinya pak Linggar yang marah-marah dan ngancam dia"
"huh? beneran mb? karena dicemburui juga?" tanya Vania menginterogasi.
"he'em" jawab Maya sambil mengangguk.
Vania diam melamun memikirkan nasibnya ke depan, ia takut kalau kena masalah dengan istri atasannya seperti asisten yang dulu sebelum dia bekerja.
"udah, nggak usah dipikirkan... cepat habikan makananmu, setelah ini aku mau sholat dulu" kata Maya sambil meminum minumannya.
"iya mb...aku juga ikut"
Mereka bergegas menuju musholla dekat kantin untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim menghadap pencipta.
"Mbak, kalau pak presdir emang nggak pernah meninjau langsung para pegawainya di kantor ya?" tanya Vania saat berjalan kembali ke ruangannya.
"maksud kamu pak Devan?" tanya balik Maya yang diangguki oleh Vania.
"pak Devan itu hanya mengurus keperluan penting kantor. Kalau masalah tinjauan kinerja pegawai dan lain-lain itu di serahkan di divisi masing-masing, nantinya baru dilaporkan ke pak Linggar. Baru deh dari pak Linggar dicek langsung sama asistennya pak Devan yang namanya pak Ronald. Pak Devan itu nggak punya waktu buat begituan. Beliau hampir tidak pernah mendekati ruang pegawai. Mungkin karena terlalu sibuk kali, waktunya hampir full dengan pertemuan penting dengan klien" Kata Maya menjelaskan.
" gitu banget ya..." reaksi Vania berpura-pura kaget
"pak Devan itu orangnya cuek, bisa dibilang dingin juga. Dia nggak peduli sama urusan karyawan. Semua dilimpahkan ke asistennya. Dia juga paling nggak suka sama pegawai wanita yang ganjen. Jadi para cewek-cewek sini segan kalau bertemu dengannya, nggak ada yang berani aneh-aneh. Mereka hanya bisa mengagumi saja. Aku juga kadang nggak habis pikir lho, padahal kan dia itu tampan, kaya, sukses lagi... tapi kok ya jomblo " kata Maya lagi sambil geleng-geleng di akhir kalimatnya.
"dari mana mbak tahu kalau beliau jomblo"
"ya kali aja, habisnya beliau nggak pernah terlihat jalan bareng cewek, padahal banyak lho cewek cantik dan kaya yang tergila-gila sama dia"
"salah satunya mbak May juga?" kata Vania menebak, ia melipat bibirnya menahan senyumnya. Ia sengaja menggoda wanita yang berjalan di sampingnya.
"Mbak emang jomblo Van, dan pak Devan juga tipe mbak... tapi sayang umurnya tiga tahun lebih muda dari mbak, mbak mah nggak doyan brondong Van" celetuk Maya dengan terkekeh membuat Vania ikut tertawa.
"bisa aja mbak May ini.." kata Vania masih dengan tawanya
"eh tapi beneran lho, padahal banyak cewek yang deketin, bahkan ada yang terang-terangan datang ke kantor terus nembak beliau, tapi ya itu... di abaikan sama beliau" kata Maya kembali tertawa.
"lagian ceweknya nekat banget sampai segitunya" kata Vania
"namanya juga cinta Van... nanti kalau kamu lihat pak Presdir juga aku yakin kamu bakalan kagum, semua pegawai cewek disini juga gitu" jelas Maya yang hanya dibalas senyum tipis oleh Vania.
__ADS_1