Cinta Vania

Cinta Vania
Episode 29 Keberuntungan


__ADS_3

Andre dan Devan memesan makanan di bangku yang sama dengan Vania. Sesekali Devan mencuri pandang ke Vania.


Vania mengambil beberapa sendok sambal ke mangkok baksonya yang masih banyak karena baru ia makan dua sendok.


Devan yang melihatnya mengkerutkan keningnya saat memperhatikan tingkah Vania. Tanpa Devan sadari tangannya memegang pergelangan tangan Vania seolah mencegahnya untuk mengambil sambal lagi. Sontak Vania mengangkat wajahnya dan menoleh ke Devan. Vania hanya diam menatapnya heran dan menunggu jawaban akan sikap Devan. Andre tak kalah penasaran dengan sahabatnya itu. Ia melihat tangan sahabatnya yang masih memegang tangan gadis idamannya.


uhukk...uhukkkk.... Andre pura-pura terbatuk melihat adegan itu. Dengan cepat Devan tersadar dan segera melepaskan tangannya.


"sorry" kata Devan pelan


"i..iya nggak apa-apa kok" jawab Vania gelagapan karena grogi


"berhenti makan terlalu pedas, nggak baik buat kesehatanmu" lanjut Devan tanpa ekspresi


"e.. iya makasih" jawab Vania


"mang, tambah bakso satu lagi ya" teriak Devan ke mang Ujang.


"oke den" jawab mang ujang.


Tak lama kemudian mang Ujang datang membawa nampan dengan semangkok bakso.


"ini den" kata mang Ujang menyerahkan mangkok bakso dan meletakkannya di meja


"makasih mang, ini saya yang bayar aja mang" kata Devan sambil meraih selembar uang lima puluh ribu dari kantongnya dan menyerahkannya pada Mang Ujang


"kembaliannya bentar ya den"


"buat mang Ujang aja"


"lho....makasih banyak den ..."kata mang Ujang senang sambil mencium uang pemberian Devan kemudian berlalu pergi. Devan tersenyum melihatnya.


"ini makanlah" lanjut Devan menyerahkan semangkok bakso itu ke hadapan Vania sebagai pengganti bakso pedas sebelumnya.

__ADS_1


Vania hanya diam memandang bakso baru di hadapannya.


"tambah sambal secukupnya aja, nggak usah banyak-banyak" lanjut Devan


Vania menuruti perintah Devan tanpa membantah ataupun menyangkal perkataannya. Menurutnya ada benarnya juga yang Devan katakan. Dia hanya terkejut dengan perlakuan dan perhatian Devan padanya.


Andre yang sedari tadi melihat adegan itu hanya mengulumkan bibir menahan senyumnya.


"cowokmu mana? kok nggak ikut" tanya Devan basa-basi


"itu, dia lagi ikut kejuaraan olimpiade matematika tingkat Nasional"


"berapa hari"


"semingguan katanya"


"hebat juga dia ya... beruntung banget yang jadi pacarnya, udah keren, pinter lagi" celetuk Andre. Vania tersenyum manis. Namun tidak dengan Devan, ia melototkan matanya pada Andre seolah sadar karena merasa tersindir. Andre terkekeh kecil melihat tatapan Devan.


Vania kembali masuk ke kelasnya untuk mngikuti pelajaran selanjutnya. Sampai bel istirahat kedua berbunyi, ia dipanggil oleh pengurus administrasi untuk memberikan kabar ke Nadya kalau senin nanti dia sudah bisa mengikuti pelajaran seperti sebelumnya. Vania mengiyakan dan segera menghubungi sahabatnya. Tak lupa ia menceritakan rencana Andre ke Nadya sesuai permintaan Andre.


Nadya yang mendapatkan panggilan dari sahabatnya girang mendengar kabar itu. Ia besok sudah bisa memulai bekerja. Ia membuka map di hp androidnya yang sedikit jadul karena keluaran lama untuk mencari alamat butik yang dimaksud. Ia tersenyum puas karena butik itu letaknya tidak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak tiga kilometer. Ia bisa berangkat menggunakan sepeda untuk menghemat biaya angkot.


Vania pulang sekolah sendirian. Hari ini dua orang yang biasa pulang bersamanya sama-sama libur. Ia berjalan sendiri dengan malas dan menunduk menuju halte. Semua siswa lain sudah berkumpul menunggu bus di halte. Tak lama ada bus beehenti, semua anak-anak naik tanpa terkecuali. Vania tidak memperdulikan itu. Jika bus datang dan susah penuh, ia bisa naik bus selanjutnya meski harus menunggu lagi.


Vania duduk di bangku halte sendiri sambil menunggu bus datang. Ia memainkan benda pipihnya untuk mengusir kebosanan.


"kamu kenapa nggak ada kabar sih Dit" gumam Vania terus menatap ponselnya.


Tiba-tiba dua mobil sport berhenti tak jauh dari posisi Vania. Mobil Andre di depan dan diikuti mobil sport keluaran baru yang ia ketahui milik Devan


Kaca mobil Andre bagian samping terbuka. Tampak Andre didepan kemudi, Bimo disampingnya dan Kribo di jok belakang.


"Van, kok belum pulang juga?" teriak Andre dari dalam mobil.

__ADS_1


Vania berdiri dari duduknya "eh iya... masih nunggu bus datang"


"pulang bareng kita aja gimana?"


"eh nggak usah kak" tolak Vania sopan


"Van, gue nggak gigit kok" sahut Kribo dan diikuti oleh seisi mobil. Vania hanya tersenyum mendengarnya.


"kamu takut duduk sama kribo?" tanya Andre dan menoleh ke jok belakang "kalau takut kamu bisa ikut mobil Devan di belakang" sambung Andre


"hah.. makasih kak, beneran nggak usah"


"udah buruan daripada lo disini sendiri" lanjut Andre.


Vania masih terdiam di posisinya. Ia mulai bingung dan berfikir. Kalau ikut nggak enak hati, tapi kalau masih tetap disini sendiri juga takutnya kenapa-kenapa mengingat dia seorang cewek.


Devan turun dari mobilnya dan menghampiri Vania yang masih mematung di tempatnya. Karena tidak ingin menunggu lama jawaban Vania, ia menarik lembut pergelangan tangan Vania dan berjalan kembali menuju mobilnya. Devan membuka pintu mobilnya sebelah kiri dan mempersilahkan Vania masuk dan duduk. Kemudian ia berjalan memutari mobilnya menuju pintu samping kemudinya.


Andre yang mengintip dari sepion tersenyum sumringah melihat cara Devan memperlakukan Vania. Misinya berhasil untuk membuat Vania dekat dengan Devan.


Setelah mengetahui Devan dan Vania sudah memasuki mobil, ia menancapkan gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Devan tetap mengikutinya dari belakang.


Di dalam mobil, sepasang manusia itu hanya terdiam tanpa bicara. Hanya deru mesin mobil yang terdengar di telinga mereka. Tanpa obrolan dan tanpa suara musik.


Sampai tak terasa mereka sampai di tujuannya. Devan berhenti tepat di depan rumah Vania.


"eh.. kok kakak tahu rumahku?" tanya Vania penasaran. Devan hanya tersenyum lembut tanpa menjawabnya membuat Vania mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya. Ia berfikir mungkin Andre yang memberitahunya. Secara Andre pernah mengantarkannya pulang saat pingsan dulu.


"makasih banyak ya kak" kata Vania sambil membuka pintu mobil dan berdiri disamping pagar rumahnya.


Devan membunyikan klakson mobilnya bermaksud pamit. kemudian berlalu mengikuti mobil Andre yang sudah lebih dulu melaju.


Sepanjang jalan Devan tersenyum sendiri mengingat kejadian bersama Vania. Ia merasa sangat beruntung hari ini bisa menjaga dan memperhatikan orang terkasihnya dari dekat.

__ADS_1


__ADS_2